Untuk Soe, Tentang Pekerja Media Sogokan ; 4 Dec 2013

Soe, kau tentu akrab dengan dunia pewartaan. Surat kabar, adalah salah satu tempat dimana namamu melambung dikenal banyak orang. Artikel-artikelmu yang pedas dan menusuk selalu membuat para penentang kebenaran ketar-ketir. Tapi kali ini aku ingin cerita tentang kebobrokan media dan orang-orang di dalamnya. Media sebagai alat, di tangan pemilik kuasa yang hanya memikirkan uang.

Belakangan tersiar isu panas tentang orang yang menulis di media bebas tempat menuangkan segala opini, perihal kebobrokan media dan orang-orang di dalamnya. Ya, para wartawan (tapi tak semua wartawan turut mengikuti perilaku bobrok). Mungkin kau ingin sekali membalas tulisan orang tersebut, yang mengaku sebagai wanita, yang membocorkan mafia-mafia isu dan jual beli informasi di media. Terlepas fakta yang dilontarkannya belum tentu benar, aku mengiyakan praktik jual beli berita yang dilakukan oleh para penguasa media, ya minimal orang-orang yang punya satu kuasa (meski kecil) di media.

Aku belum benar-benar muak jika bukan aku sendiri yang mengalaminya. Aku sudah tahu banyak wartawan culas yang hanya memikirkan uang, mengambil dan bahkan meminta uang pada narasumber atau sesuatu yang diliput agar tulisan bisa di angkat ke publik. Aku sudah tahu itu sebelumnya. Namun kini aku merasakan kotornya praktik seperti itu, dan munafiknya orang-orang yang sok bersih tapi ternyata juga memakan uang sogokan para pemilik modal.

"Jelas kan? Ini udah jelas kan ya, ngerti ya?" kata seorang yang mengaku sebagai fotografer dari media tempatku bekerja, Joko namanya. Yang kepergok denganku telah memanfaatkan nama besar media untuk mengambil jatah 'jelas' yang disediakan oleh humas sebuah acara di hotel Shangrila. Setelah bilang seperti itu, ia kemudian melipat beberapa lembar uang lima puluh ribuan, dan memberikannya secara sembunyi-sembunyi kepadaku. Aku hanya tersenyum dan bilang, "Nggak." Hah, uang sogokan. Tak akan mau aku memberi uang seperti itu untuk orang tuaku.

Setelah aku menolaknya, wajahnya berubah senang. Ya, jatahmu tak berkurang kawan. Ambil saja uang sogokanmu itu. Beri makan anak istrimu dengan uang itu, nantinya kau akan dibakar di neraka! Ya, dia seorang laki-laki paruh baya yang tak memiliki gaya seperti seorang fotografer. Lebih kepada penjilat, atau pencari uang sogokan yang berkeliaran dari perusahaan yang produknya ingin dijadikan berita di media nasional. Pastinya memiliki anak dan istri yang menjadi tanggung jawabnya, tapi diberi makan dengan uang sogokan. Apa kurang menyedihkan?

Aku tahu, praktik seperti itu tak hanya dilakukan oleh para wartawan yang pergi liputan di lapangan. Tapi juga para wartawan kantoran yang kerjanya cukup tinggal perintah. Istilahnya, para atasan inilah yang bernegosiasi dengan para klien (perusahaan yang ingin produk atau isunya diangkat ke media), dan kemudian menyuruh orang lain (bawahan) untuk melakukan tugas kotornya. Ya, tak ada penjahat punya kuasa yang ingin melakukan tugas kotor dengan tangannya sendiri. Kecuali mereka penjahat kelas teri.

Memuakkan bukan, Soe? Mereka yang ada di atas diloby dan bernego dengan klien, sedang yang di bawah tak tahu apa-apa disuruh bekerja keras untuk melakukan pekerjaan kotor, yang uangnya dinikmati para kaum tinggi. Ini media massa, Soe! Betapa menjijikan, seperti politik yang kau bilang terbuat dari lumpur yang paling kotor. Dan orang-orang media yang senang dengan uang itu pun, tak ubah seperti politikus yang senang disuapi uang ke dalam mulutnya. Aku yakin, jika mereka punya kuasa di DPR atau badan pemerintahan negara lainnya, mereka akan menjadi koruptor.

Aku berharap aku tak pernah mengalami seperti ini, aku tak ingin jadi bawahan yang diperintah untuk mengerjakan hal kotor untuk menyuapi para petinggi media. Namun jika itu terjadi, aku tak sungkan untuk membunuh sosoknya dalam tulisanku. Melawan pada ketidakbenaran, aku akan senang melakukannya dengan rela hati. Selamat malam, kawan. Kembalilah tidur.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Surat Untuk Soe; Media yang Mengendalikan Orang-Orang ; 30 Jun 2013

Soe, kemarin lusa baru saja ada seorang perwakilan organisasi agama yang menyiram muka seorang sosiolog dari Universitas Indonesia. Dalam acara televisi nasional yang sedang live di pagi hari. Tentu kau tertarik untuk mendengarkan, maka akan aku ceritakan.

Organisasi itu bernama Front Pembela Islam (FPI). Organisasi agama Islam yang bagi sebagian orang Islam di Indonesia justru tak ingin mengakuinya, dan sebagian umat Islam lain mendukungnya. Lantaran sikapnya yang terlampau keras dalam bertindak di mata masyarakat Indonesia. Di acara televisi tersebut, perwakilan FPI menyiram wajah dari sosiolog UI karena dia muak dengan sikap diskusi sang sosiolog yang memotong pembicaraannya. Meski ada latar belakang lain yang lebih kuat yang membuat sang wakil lebih ingin menyiramnya wajahnya dengan air teh, barangkali ia berharap itu air keras.

Terlepas sang sosiolog pernah membuat masalah dengan pernyataan-pernyataannya yang merusak nilai Islam di masa lalu, aku tak bermaksud membelanya. Juga terlepas wakil FPI yang meyiram wajah lawan diskusinya karena dia menilai tak beretikat dalam berdiskusi, padahal dia sendiri tak memiliki etika dalam menghargai orang, aku tidak bermaksud menyerangnya. Justru aku ingin bertepuk tangan pada televisi swasta  nasional yang keluar menjadi pemenangnya. Ya, sekali lagi tv itu berhasil mengadu domba orang. Dan berhasil menciptakan kebencian baru sebagian masyarakat Indonesia kepada FPI. Pemimpinnya pasti tertawa, dan mungkin berkata "Kita berhasil membuat masyarakat tambah benci kepada FPI!", atau "Persetan orang-orang membicarakan kejadian tadi pagi, masa bodo FPI dan sosiolog UI, yang penting tv kita dibicarakan banyak orang, rating naik!" dan macam-macam kalimat lain yang bisa kau ciptakan sendiri, sesuai kemungkinan-kemungkinan apa yang diagendakan tv tersebut. Dan juga barangkali sang pemimpin berkata kepada presenter yang ngotot mengadu domba mereka hingga terjadi penyiraman tersebut, "Kerja bagus, boy!"

Media tersebut sukses mengarahkan opini publik sesuai dengan wacana yang ingin mereka angkat, yang ingin mereka buat, yang ingin mereka tanam di pikiran masing-masing tiap orang. Yang orang-orang itu sendiri tidak sadar mereka sedang ditanamkan pola pikir yang sama dengan pola pikir media, lebih tepatnya pembesar-pembesar media tersebut. Indoktrinasi secara halus. Apa kepentingannya? Bisa jadi perkembangan bisnis media mereka, atau kepentingan politik media mereka, atau dendam pribadi pembesar media itu.

Dua hari kemarin, banyak sekali orang yang mencemooh, mengatai, mengolok-olok, mengutuk wakil FPI tersebut lewat media sosial. Aku tidak menyalahkan mereka, karena memang sikap wakil FPI tersebut tidak pantas dihargai, tapi yang ada dalam pikiranku, Soe. Betapa kebanyakan bangsa Indonesia ini mudah sekali diadu-domba.

Ada suara yang berkata dalam jiwaku ketika aku sedang menyendiri, Soe. Dia bilang; dalam pertengkaran, siapa yang bisa mengendalikan amarah dan tetap tenang, dialah pemenang.

Sekian dulu. Lanjutkan tidurmu, Soe.

Labels: ,

permalink | 1 comments (+)

Surat Untuk Soe; Pencitraan (Busuk) Pegawai Berseragam Khaki ; 18 Apr 2013

Apa kabar, Soe? Aku pernah berjanji kepadamu untuk bercerita tentang suatu hal ketika aku menelusup ke dalam sebuah gedung pemerintahan. Balai kota Depok tepatnya, Soe.

Singkat saja, aku diminta oleh seseorang untuk membantu memberikan kontribusi lewat tulisan untuk majalah   milik pemerintah kota Depok, Warta Depok namanya. Ya, kau lebih tahu  dari aku, Soe, tiap media memiliki tujuan dan kepentingannya sendiri untuk dibuat opini publik. Majalah resmi milik pemkot Depok, tentu saja isinya melulu tentang hal-hal positif Kota Depok.

Suatu waktu aku diundang rapat di balai kota, Soe. "Pak wali ingin ketemu dengan semua reporter Warta Depok," begitu bunyi pesan singkat yang dikirim ke telepon genggamku. Awalnya aku sungguh tak ingin datang, namun aku memilih untuk menghadiri meeting itu. Tujuanku satu; ingin tahu bagaimana isi kepala para pegawai berseragam khaki itu di dalam istananya sana. Dan benar saja, aku mendapatkan apa yang aku inginkan. Seorang kepala dinas pendidikan membuka rapat sebelum wali kota Depok datang. Ia mengutarakan tentang visi misi majalah Warta Depok yang harus menginfokan banyak hal-hal positif yang dilakukan Depok, dan bagaimana cara membuat majalah pemkot itu dibaca orang, yang kenyataannya hanya dijadikan kipas di saat kegerahan di bawah tenda mendengarkan wali kota berpidato.

Dan satu hal yang sangat mengusik kemanusiaanku, ia berbicara tentang Sekolah Master yang beberapa hari sebelum rapat itu baru saja diliput Al Jazeera TV. "Di Depok ini yang terkenal bukan Disdiknya, bukan pemkotnya, bukan sekolah-sekolah negerinya, tapi malah Sekolah Master. Nah sekarang tugas kita bagaimana supaya yang dilihat banyak orang itu program-program kita, bukan Sekolah Master. Kedepannya  jangan sampai ada lagi hal seperti ini." Tahu kau Soe, aku tersenyum getir mendengarnya. Dan tentu saja mengumpat tanpa suara.

Sekolah Master itu sekolah terbuka yang sama sekali tak meminta bayaran sepeserpun untuk murid-muridnya, Soe. Dari tingkat PAUD hingga SMA. Kebanyakan yang bersekolah di situ adalah anak-anak dengan latar belakang ekonomi rendah dan anak jalanan. Namun tak sedikit lulusan Sekolah Master yang sudah menjadi orang. Meski tak muluk, minimal mereka berhasil mengubah hidup mereka sendiri sebelum mengubah negeri ini. Banyak lulusan Master yang diterima beasiswa kuliah di perguruan tinggi negeri. Di Universitas Indonesia pun, Soe. Alamamatermu. Dan kepala Disdik Depok tak menginginkan ada lagi sekolah macam ini? Busuk. Kau setuju denganku, Soe?

Jelas-jelas Sekolah Master Depok adalah kritik gamblang terhadap pemerintah kota maupun pemerintah pusat yang tak becus memelihara anak jalanan seperti yang tertera di undang-undang. Juga tentang pemerintahan yang belum sepenuhnya menjamin pendidikan bagi masyarakat dalam level yang serendah-rendahnya.

Kau tahu, Soe, orang-orang ini sangat senang berdandan di hadapan masyarakat. Selalu ingin mencitrakan diri mereka yang baik-baik. Lebih lagi kepada warga biasa yang menelan mentah-mentah tiap informasi yang masuk ke kepala mereka. Mereka sangat narsis di depan kamera wartawan. Tersenyum sambil berpose sedang turun ke jalan melakukan sesuatu untuk masyarakat. Padahal hanya simbolis sekadarnya agar dilihat orang banyak. Dan gambar mereka di dalam kamera dijadikan bukti bahwa mereka telah peduli. Jika saja orang-orang melihat secara keseluruhan apa saja yang telah mereka lakukan. Barangkali akan berpikiran lain. Apa yang kaupikirkan jika melihat pembetulan jalan dilakukan siang-siang dan dihadiri oleh wali kota yang berlagak sedang membantu perbaikan jalan, Soe? Tak lain ia ingin dicitrakan oleh media.

Tetap tidurlah yang tenang, aku masih memiliki banyak cerita untukmu, Soe. Semoga kau tak kesepian di dalam sana.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Surat Untuk Soe: Korupsi Dari Yang Terkecil ; 5 Mar 2013

Apa kabar, Soe?
Hari ini aku mendapatkan banyak cerita menarik untuk diriku sendiri, mungkin untuk orang lain, mungkin untuk negeri, dan mudah-mudahan menarik untukmu. Hari ini aku juga berkesempatan 'menyusup' ke dalam gedung pemerintahan, hanya ingin mengamati dan ingin tahu; sebobrok apa pemerintahan negeri ini. Tapi tidak kuceritakan itu semua hari ini.

Tahu kau, Soe. Pendidikan di Indonesia selalu menarik hatiku lebih deras dari hal lain. Terutama ketika melihat tawa-tawa anak kecil yang bahagia bermain voli atau kasti di lapangan sekolahnya. Mungkin di seluruh Indonesia, tawa-tawa mereka masih sama: bahagia. Tetapi di dalam kelas, di dalam sistem aparatur pendidikan, sama rusaknya dengan sekolah-sekolah ujung Indonesia yang tak terjangkau pemerintahan.

Tentang pendidikan ini, aku mendapat cerita fakta dari beberapa orang terdekatku, Soe. Orang-orang yang tidak mungkin memberikan informasi bohong, karena mereka tahu tak akan ada gunanya. Yang pertama, korupsi di Kemendikbud itu sudah seperti penyakit moral yang cepat menular. Sejak dari level yang tertinggi, hingga pegawai-pegawai kecil seperti pengawas sekolah yang minta duit untuk meluluskan akreditasi sekolah swasta.

Ibuku seorang guru, Soe. Dia punya seorang teman sesama guru yang kini sudah menjadi kepala sekolah salah satu SD di kota kelahiranku. Aku kenal orangnya. Wanita berparas cantik pada masanya, pada zamannya, dan pada usianya. Tapi belakangan kuketahui, ternyata hatinya tidak lebih baik dari wajah manusia paling buruk yang pernah ada. Dia meminjam uang di bank atas nama sekolah, dan dana pinjaman itu ia gunakan untuk membangun rumah pribadinya. Lalu SD yang ia pimpin harus memulangi uang pinjaman untuk renovasi rumahnya. Busuk. Ya, barangkali kau akan mengatakan itu. Akan aku amini di dunia yang masih hidup. Dan semua guru sekecamatan sudah tahu hal itu, Soe. Tahu kebusukan koleganya dan diam saja. Kenapa? Barangkali mereka berprinsip; jangan usik kesalahan orang lain kalau kesalahan sendiri tak mau diusik. Ya, yang lain juga sama. Meski tak seekstrim dia dalam memakan uang sekolah. Yang lebih pintar, melakukan korupsi dengan cara halus.

Cerita lain lagi di salah satu sekolah swasta yang kaya, kepala sekolah yang sama hancur kemanusiaannya. Menggunakan dana bos untuk perutnya dan pengikutnya. Pram benar, hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup. Kepala sekolah swasta itu korup dan mengajak korup bawahannya. Melulu memberikan bon kosong yang diminta ditandatangani guru bersangkutan untuk suatu acara. Entah berapa yang ditulis, entah berapa yang diberikan ke siswa dan entah berapa yang ia simpan untuk tabungannya di neraka. Dan jika ada bawahannya yang berani menentang dan tak sependapat, ia dan antek-anteknya siap menjadi musuh bagi kejujuran. 

Kau akan merasa jijik dengan orang-orang semacam ini yang lain lagi, Soe. Di sekolah swasta yang miskin, madrasah tepatnya, masih saja pegawai pemerintah mengeruk uang dari cita-cita para siswa. Sekolah madrasah bergenteng hancur, berdinding rapuh, dengan murid sedikit di kota pinggiran Jakarta, seorang pengawas sekolah berlagak sok wali kota dengan memberikan birokrasi yang sulit untuk akreditasi. Ya, apalagi kalau bukan meminta uang. Para koruptor seperti itu bagiku tak cukup untuk dikata maling, tapi pengemis yang memaksa, yang tak akan pergi jika tak diberi uang. Padahal sekolah itu sangat kekurangan, bahkan untuk siswa baru mereka harus bergerilya merayu ke rumah-rumah.

Dan di atas kesenangan harta rampasan negara mereka, sebagian pemberi ilmu hanya dihargai tak lebih tinggi dari pramusaji. Mereka yang biasa disebut guru honorer tak pernah mencicipi gaji di atas satu juta setiap bulannya. Selama 24 hari kerja. Berbeda-beda dari Rp700 ribu hingga Rp200 ribu. Sebulan. Di Timika, Papua, kakak dari seorang temanku yang bekerja sebagai guru honorer, hanya diupah Rp500 ribu per bulan.   Sejak ia masih perawan, menikah, hingga janda gaji itu tak pernah berubah. Tak pernah diangkat menjadi pegawai berseragam khaki. Kala ia ingin kembali mencari rezeki di Jakarta, atasannya menahan dengan alasan akan memperjuangkan. Namun janji itu tak pernah berujung kenyataan. Hingga hari ini.

Seorang wartawan senior mengatakan dinas pendidikan dan dinas kesehatan itu sudah seperti kerajaan sendiri. Mafia tersembunyi. Mengeruk uang negeri, dimakan dan dibagi-bagi. Pantas dua kementrian itu tercatat paling banyak korupsi. 

Apa kau akan terbangun dari tidur panjangmu mendengar ceritaku ini, Soe? Tetaplah tidur yang tenang. Ini sudah bukan menjadi tugasmu. Kau sudah melawan. Ini menjadi tugas generasiku.
Aku membenci politik sama sepertimu. Tapi aku juga tak bisa membiarkan ketidakadilan menari-nari dengan senang di atas penderitaan orang-orang.
Jika mereka tak kunjung diadili di pengadilan dunia, semoga Tuhan mengadili sepantas-pantasnya di alam baka.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Merangkak di Belakangmu ; 24 Jan 2013

tubuhku berlumpur dosa, hatiku gelap tertutup dari cahaya, akhlakku satu per tak terhingga darimu
shalatku tak sempurna, sunnahmu tak kujaga, puisi Allah hanya sesekali kubaca, sedekah pun aku menakarnya

aku malu, wahai laki-laki yang tak pernah melepaskan senyum dari bibirnya
aku malu kepada engkau dan Tuhan yang menciptakan semesta dari cahayamu

air mataku tak mengalir sederas dulu saat seseorang menyebut namamu
apa kau telah pergi dari hatiku?
atau aku yang telah terpikat oleh dunia kemudian melupakanmu?

di saat orang-orang bershalawat lebih banyak pada hari ini
pikiranku berputar merindukan kerinduan aku kepadamu yang dulu begitu menggebu
apa kau masih akan menyelamatkan umat sepertiku pada hari di mana air mata tak lagi berguna?


"Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." -At Taubah, 128.


salallahu ala Muhammad, sallahu alaihi wasalllam
aku yang merangkak mengikuti di belakangmu

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Apakah itu waktu, Soe? ; 30 Dec 2012


Aku ingin bertanya padamu apa itu sebenarnya waktu, Soe? Saat ini, ketika aku menuliskan pesan ini untukmu, orang-orang di Jakarta berhamburan keluar kota. Mereka ingin mengganti tahun 2012 dengan cara mereka masing-masing. Jakarta sepi, Soe, seperti apa yang ada di dalam kepalamu lalu kautuliskan lewat puisi: kesepian. Tahun, bulan, hari, jam, menit, detik, apa sebenarnya itu semua? Tak ada mereka hidup tetap saja harus dijalani, kan? Matahari tetap terbit setiap pagi dan tenggelam di barat. Sekarang usiaku 23 tahun, masih ada empat tahun bila aku ingin menyamakan waktu matiku dengan umur hidupmu. Usia, Soe, usia lagi-lagi adalah waktu. Waktu hidup manusia yang kerap kali menyindir sesuatu apa saja  yang sudah kita lakukan selama ini. Sesuatu manfaat yang bukan untuk diri kita sendiri. Terlebih pada negeri yang sama-sama kita cintai. Soe, aku tak sungkan bila mati muda sepertimu. Tapi, Soe, aku hanya ingin mati setelah aku berbakti pada ibu dan negeri.

Sampaikan padaNya, Soe, karena aku malu dan takut suaraku tak didengarNya karena dosa-dosaku.

Labels:

permalink | 2 comments (+)

Menjadi Sebenar-benarnya Pria ; 22 Feb 2012

Darinya aku belajar menjadi pria, perlahan-lahan, remaja dalam diriku beranjak dewasa tanpa meninggalkan muda. Pria sebenar-benarnya Pria. Bukan macam pria kebanyakan, tapi Pria berbeda yang memiliki pribadinya sendiri. Pria yang akan membuat wanita berkata "ah!" lalu hatinya luluh sudah, leleh tak berupa. Bukan, bukan semata membuai wanita macam anak muda di zaman yang sudah tua, tapi perlakuan yang sungguh untuk menyenangi hati para cucu hawa. Perlakuan yang (menurutku ia) tulus untuk menghargai, melindungi, menjaga dan muliakan wanita.

Barangkali ia mengikuti ajaran agamanya, Islam, yang mengajarkan kami untuk memuliakan wanita. Jangan kau tanyakan kenapa dan sangsikan aku tahu darimana, aku melihatnya. Aku melihat ia menggenggam erat tangan istrinya saat menyebrang jalan, memposisikan dirinya ditabrak lebih duluan. Genggaman yang mengatakan: aku tak ingin kehilangan. Genggaman yang sama ia lakukan saat membantu istrinya menyebrang sungai di lereng pegunungan. Di lain hal, aku melihat pula cara ia mencintai istrinya diam-diam. Membuat cinta jadi bahan lawakan, tertawaan, tapi tertimbun sangat dalam. Juga pada matanya, yang tak sengaja kulihat sedang mencuri waktu untuk memandang mata istrinya, meledeknya, lalu cinta berhamburan di udara. Padahal kami ada di sekitar mereka, seakan berkata: dunia itu tetap milik kau dan aku saat kita sedang dan masih jatuh cinta.

Wanita tak hanya istrinya, yang kutahu dan kukira, ia turut pula menghargai wanita lain, walau masih saja ia tutupi dengan ledekan atau canda. Ibunya, anak perempuannya, juga wanita lain yang mungkin ia anggap sahabat atau saudaranya. Bila ingin tahu cintanya yang diam-diam dan dalam-dalam, buka surat ini, ia tulis tanpa menyampaikan pada siapa surat itu dialamatkan. Meski ia sangat tahu untuk siapa surat itu ia tuliskan. Di sini aku belajar, kawan, menjadi pria tulus yang mencintai diam-diam, tanpa dikatakan, ditanam dalam-dalam, namun dibuktikan dengan perbuatan.

Mungkin aku tak banyak tahu peran ia sebagai anak, tapi ia mengajarkan bagaimana menjadi ayah sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Ayah yang mencintai anak-anaknya sebagaimana ia mencintai wanita yang melahirkannya. Ia menjadi laki-laki paling pria bagi anak perempuannya. Dan ia menjadi pria paling bijaksana bagi anak lelakinya, meski sebenarnya, dalam hidup dan hatinya ia masih terus belajar. Ia Ayah yang tak bosan mendengar cerita anak-anaknya, yang tak segan menjawab pertanyaan menyulitkan dari anak-anaknya. Ia ayah yang berusaha hebat meski tidak hebat, yang bijak walau masih perlu belajar banyak. Barangkali selain cinta yang tak perlu lagi dikata, ia melakukan itu berharap anak-anaknya bercerita dengan seru dan berkata pada teman-temannya dengan bangga yang penuh sesak dalam dada: Dia ayahku!

Bila kau ingin mengenal pribadi seseorang, kawan, jangan lihat pada apa yang melekat di tubuhnya, tapi lihat isi kepala dan hatinya. Aku tak belajar untuk bersikap menyebalkan di depan orang-orang tapi berbuat hal mengagumkan saat tak ada orang lain yang melihat. Aku tak belajar menjadi pria yang tak tahu kapan pernah katakan cinta pada istrinya tapi selalu mengucap ‘i love u’ di tiap detik diam-diamnya. Aku tak belajar menjadi pria yang menjadikan cinta dan mesra hanya untuk milik berdua. Aku tak belajar menjadi ayah seperti dirinya. Aku tak belajar menjadi pria seperti dia. Melainkan aku belajar menjadi pribadi yang berbeda dengan menjadi diri sendiri. Belajar mencintai dengan caraku menjadi diri sendiri.

Sebenarnya aku gengsi menulis ini, seperti dirinya yang gengsi mengatakan kangen pada (at)kawanfun. Karena dalam bicaranya di depan orang-orang ia sibuk mencela, sedang dalam hatinya ia tulus mencinta.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

Lelaki Tampan Hati ; 13 Dec 2011

Dia, satu-satunya lelaki yang pernah kutemui dengan hati paling putih. Dia, seseorang yang di dalam dada kirinya terdapat warna seperti dada merpati. Dia, yang memiliki hati paling bersih diantara ratusan orang yang segaris takdir denganku: Ahmad Fikri.

Ini hanya goresan tangan atas kekagumanku pada seseorang berpribadi. Seorang laki-laki yang benar-benar pria. Yang telah menurunkan ilmu beribu-ribu ayat kepadaku: guruku. Meski aku tahu, ia tak akan membaca tulisanku ini. Tapi aku tahu, Allah membacanya.

Ia anak betawi asli. Pemuda yang sudah menjadi ayah, yang belum mencapai usia lebih dari 33. Lelaki yang rendah hatinya serendah-rendahnya bumi. Pria yang tulus hatinya seikhlas ia menyerahkan segala sholat, ibadah, hidup dan matinya kepada Tuhannya. Laki-laki polos yang terkadang membuat senyum melengkung ikhlas di bibirku karena mengagumi betapa baik hatinya.

Aku memanggilnya Ustadz Fikri. Pria itu tak lebih tinggi dariku. Kulitnya sawo matang khas Indonesia. Air mukanya selalu cerah karena basah air wudhu. Wajahnya tegas, tatapannya terang seperti sebenar-benarnya pria. Kurang lebih, sama tampannya seperti Bambang Pamungkas. Tapi untuk apalah fisik semata? Di sini aku ingin membicarakan ketampanan hatinya. Dialah ‘serendah-rendahnya’ orang yang pernah kutemui dan ‘setinggi-tingginya’ orang yang juga pernah kujumpai. Tawadhu. Ia bak tanaman padi, semakin berisi semakin ia merunduk ke bumi. Ada suatu ketika saat ia sedang berbicara dengan seorang guru keturunan arab bernama Ali, yang biasa dipanggil Habib Ali. Guru ini adalah teman sekelas guruku semasa-masa mereka menuntut ilmu bersama. Guruku berbicara padanya hanya memanggil nama: Ali. Tanpa gelar habib di depannya. Kemudian ada seorang keturunan arab lain yang membentak guruku. Memarahinya karena dianggap tak sopan telah memanggil gurunya tanpa gelaran Habib. Ahmad Fikri hanya diam, mendengarkan omelan orang itu.

“Tak sopan kamu memanggil Habib Ali hanya dengan nama. Ustadz mana kamu? Belajar dari mana kamu?” katanya menanyakan asal-usul guruku menuntut ilmu.

Kemudian dijawab oleh guruku dengan senyum dan kerendahan hati, “Saya mah ustadz kampung. Belajarnya di kampung.”

Lalu Habib Ali menegur orang itu di belakang guruku. Berkata bahwa yang ditegurnya teman sekelasnya dulu sewaktu sama-sama belajar di Hadramaut, Yaman. Lantas orang tersebut mendatanginya kembali dan meminta maaf.

Ya, seperti itulah ia bila ditanya asal-usulnya. Dijawabnya dengan jawaban ‘ustadz kampung’. Padahal ilmu yang ada padanya begitu tinggi. Tamat SD ia belajar di pesantren Darrul Hadits, Malang, kemudian melanjutkan studinya di Rubat Tarim, Hadramaut, Yaman. Sama sekali tak ada rasa sombong dan ingin dikenal di hatinya. Tak jarang ia dihardik orang karena dianggap berbicara tak sopan –memanggil nama- pada guru-guru yang mereka panggil habib. Padahal guru-guru mereka adalah teman bahkan adik kelasnya sewaktu di Yaman. Ia selalu terima hardikkan itu dengan senyum. Bila menghadiri majelis, ia duduk di belakang. Tak mau di depan. Hanya bila dipaksa oleh yang sedang berbicara –yang biasanya banyak mengenalnya-, baru ia duduk di depan.

Kepada orang yang lebih tua, ia santun luar biasa. Ucapannya jauh, sangat jauh berbeda ketika berbicara pada yang lebih muda atau sebaya. Perkataannya lemah lembut, pelan dan selalu disertai senyum. Ia pasti mencium tangan orang tua itu walau ia bukan ulama, melainkan hanya renta biasa. Bila menyantap makanan, ia pasti memanggil muridnya untuk makan bersama. Tak sungkan meminum air dari gelas muridnya, menghabiskan sisa kue bekas muridnya. Pernah ia berkata, “Surga itu lebih luas dari langit dan bumi, saya gak akan tahan tinggal sendirian di sana, saya ingin bertetangga dengan murid-murid saya dan jamaah saya.”

Mengenai keikhlasan hatinya, sungguh semuanya ia serahkan pada Tuhannya. Pernah seusai mengajar di masjid sandalnya hilang, dicuri orang. Seorang sepuh yang ada di sebelahnya marah seraya memaki-maki. Dan kakakku yang ada di sebelahnya menawarkan sandalnya untuk dipakai Ustadz Fikri. Namun apa dia bilang?

“Gak usah, biarin. Biar nanti dibalas surga sama Allah.” kemudian ia berjalan tanpa sandal dan tanpa peduli. Seperti tak terjadi apa-apa.

Bahkan sejak awal-awal mengajar, ia tak pernah diberi sepeser pun imbalan dari perjalanannya Mampang-Depok untuk memberi ilmu. Pernah ia mengajar seorang pebisnis yang menanyakan berapa nominal pasti yang harus dibayarnya pada guruku. Dan ia jawab, “Gak usah mikirin bayaran. Yang penting ente mau belajar dulu. Biar Allah yang bayar saya.”

Guruku sering ditipu. Terutama dalam hal berbisnis atau jual beli. Ia begitu polos, percaya pada iklan-iklan jual beli motor di koran yang memintanya mentransfer uang lebih dulu tanpa ada bukti nyata. Tiga kali kejadian seperti itu dan untungnya Allah melindungi. Pernah pula ia membeli sapi untuk qurban, yang ternyata sapi tersebut sudah terjual dan menjadi milik orang lain. Juga royalti property yang tak kunjung ia dapatkan seperti yang dijanjikan. Padahal ia mencari rezeki bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk masjid. Ia ketua pengurus masjid yang sedang dibangun di dekat rumahnya. Ia yang mengajarkan pada muridnya untuk ikhlas bersedekah, tak menghitung-hitung berapa yang harus dikeluarkan berapa yang disimpan. “Jangan perhitungan pada Yang memiliki rezeky.”

Ia jarang marah. Suatu ketika saat berkendara ia ditabrak orang lain sehingga terjatuh dari motornya. Kakinya luka-luka, tapi ia sama sekali tidak marah. Yang menabraknya meminta maaf dan ia memberikannya serta-merta dengan cuma-cuma. Yang keluar dari mulutnya hanya nasihat, “Lain kali kalau naik motor hati-hati ya.”

Ia hanya marah soal ibadah. Terutama pada warga kampungnya yang tak mau bersedekah untuk menyumbang pembangunan masjid. Bahkan pernah ia berkata, “Siapa yang gak mau nyumbang buat masjid, nanti pas dia mati gak gue solatin!” dan setelah itu warganya ramai-ramai bersedekah untuk masjid. Ada-ada saja!

Hatinya polos. Benar-benar polos. Yang membuatku tertawa terbahak adalah saat ia bercerita tentang telepon genggamnya yang jatuh hingga tercelup pada kubangan banjir. Ponselnya mati seketika karena terendam habis di air banjir. Ia tahu air itu kotor dan mengandung najis. Dan tahukah apa yang ia lakukan? Telepon genggam itu ia cuci di kucuran air keran! Untuk menghilangkan najis, dan setelahnya ponsel itu kembali hidup seperti biasa.

Ia pernah berkata, “Carilah guru yang benar-benar mengamalkan ilmu, akhlak serta perilakunya. Dan cari asal-usul dari mana ia belajar.” Dari kalimat itu aku masih mendengar nadanya yang merendah.

Bagiku ialah guru sebenar-benarnya guru. Ia mengajarkan ilmu tak hanya syariat Islam. Tapi juga ilmu-ilmu kehidupan. Tentang bersikap, berakhlak, ikhlas, ketulusan dan kerendahan. Kata-katanya yang selalu kuingat adalah:

“Kalau kamu bertemu masalah, dan menganggap masalah itu besar, sebenarnya bukan masalah itu yang besar, tapi hatimu yang kecil.”


Teruntuk guruku, Ahmad Fikri, semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepadanya.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

« BACK