Ujian Nasional, Dirasakan dari Sudut yang Terpinggirkan ; 13 Apr 2013

Pagi yang hampir habis, menjelang tengah siang yang akan dijeda oleh ritual keagamaan umat Islam. Tepatnya tanggal 12 April sekitar jam 10 pagi, aku pertama kali menginjakkan kaki di sekolah yang banyak jadi pembicaraan dan pemberitaan. Lokal, nasional, maupun internasional. Sekolah itu berada di sekitar terminal Depok, berada di sudut belakang tempat pemberhentian bus besar maupun kecil dan angkutan umum. Bukan sekolah negeri yang berdinding tembok kokoh, lapangan besar, laboratorium, kantin dan sebagainya. Tapi sekolah yang dibentuk dari kontainer bekas yang dicat beragam gambar dengan warna-warni. Sekolah Master, sekolah yang katanya untuk anak-anak yang hidupnya kurang beruntung; anak-anak jalanan, ataupun anak dari keluarga miskin. Sekolah sederhana dari tingkat usia dini hingga SMA terbuka.

Sebenarnya aku ditugaskan untuk melakukan liputan persiapan ujian nasional SMA 2013 yang akan dilaksanakan pekan depan. Ah, persetan dengan liputan, aku ingin mencari cerita kehidupan. Siang itu setelah merasa cukup melihat-lihat bangunan sekolah yang sederhana, aku mencari seseorang yang tepat yang kujadikan sumber informasi. Aku bertemu dengan seorang pria yang masih muda dan belum terlalu tua beranama Sugeng, ia seorang pembina relawan di sekolah Master. Dan aku mendapatkan pelajaran dari apa yang ia ucapkan.

Ia menirukan kalimat yang ia ucapkan kepada siswa-siswi Master di hadapanku. "Ujian nasional bukan segala-galanya buat masa depan kalian. Dan kalian harus yakin masa depan kalian ada di tangan kalian, bukan di ujian nasional," ia bersuara sangat lantang. Pria yang berbadan gempal ini menilai bahwa sekolah bukanlah satu-satunya penentu kehidupan di masa datang. Dia memiliki pemikiran tentang kehidupan dunia nyata yang lebih mirip rimba belantara, setiap orang harus bisa survive untuk tetap bisa bertahan hidup. Yang bukan tergantung dengan sekolah. Tapi pada keyakinan dan kepribadian seseorang untuk selalu bertahan dalam berusaha. Ia menekankan pada anak-anak didiknya bahwa tak ada yang istimewa dengan ujian nasional. UN hanya sebatas formalitas pendidikan untuk mendapatkan selembar kertas ijazah. Bukan sebuah kesalahan fatal jika nanti menjumpai kegagalan dalam ujian nasional.

Ia mengatakan sekolah Master bukanlah pencetak manusia-manusia pintar nan cerdas yang apabila lulus dan menghadapi rimba kehidupan kemudian menjadi pesaing yang menyikut semua orang. Evaluasi pembelajaran yang berada di sekolah Master bukanlah semata-mata nilai akademis, tetapi bagaimana membentuk nilai-nilai dan karakter pribadi seseorang. Sejenak aku berpikir, ah, apakah itu inti dari pembelajaran seseorang terhadap ilmu pengetahuan? Dan, bukankah itu yang harusnya ditirukan oleh semua sekolah? Coba pikirkan.

Obrolan kami sempat dua kali terputus oleh seorang anak kecil bertubuh besar yang sepertinya berketerbalakangan mental. Ia meminjam motor, Sugeng memberikan karena tak mau membuat pembicaraan kami terganggu. Namun di waktu selanjutnya, anak itu kembali dengan mengendarai sepeda motor "laki" di tengah-tengah bocah yang berlarian di lapangan. Ia dimarahi oleh Sugeng, lalu takut dan menurut. Menuntun sepeda motornya ke tempat di mana tadi diparkir. Aku tersenyum kecil melihatnya.

Sugeng juga menceritakan, ketika siswa-siswi sekolah lain sibuk mempersiapkan ujian nasional dengan belajar mati-matian di bimbingan belajar, siswa Master sibuk memikirkan ongkos berangkat ke sekolah tempat di mana mereka menumpang ujian. Setelah selesai dengan obrolan kami, aku beralih pada enam orang siswa kelas tiga yang terlihat sibuk dengan map berisi berkas-berkas. Aku lupa siapa saja namanya, yang hanya kuingat seorang anak perempuan berkerudung dan beralis tebal bernama Tika. Mereka sedang menyiapkan berkas untuk pengajuan beasiswa. Anak-anak itu, ah, lagi-lagi semangat mereka menyindirku. Mereka sibuk mempersiapkan beasiswa untuk masuk UI, semuanya ingin masuk UI. Meski aku sedikit melihat kecemasan di raut-raut wajahnya.

"Niatnya kamu mau ambil jurusan apa, Tika?" tanyaku.
"Sastra Indonesia, kak."
"Suka menulis kah? Menulis apa?"
"Iya aku suka nulis. Nulis puisi, cerpen, macem-macem."
"Memang cita-cita Tika apa?"
"Penulis, kak. Atau Jurnalis."

Hatiku tersenyum mendengarnya. Wajah-wajah mereka terlihat kelelahan karena kelebihan belajar. Memporsir waktu belajarnya di mana saja. Demi lulus ujian nasional. Mereka sadar, dan aku pun menyadari, latar belakang keadaan mereka tak seberuntung siswa di sekolah negeri lain. Aku melihat pesimistis ada pada keadaan mereka, tapi tidak pada jiwanya yang optimsitis. Semangatnya menyala terang menutupi lubang putus asa.

Ah, ilmu pengetahuan. Seharusnya semakin tinggi seseorang memilikimu, semakin rendah ia mempunyai hati. Bukan semakin tinggi ia berlimu, semakin jadi ia merendahkan diri orang lain.

Bersyukurlah orang-orang sepertiku yang menelan ilmu pengetahuan hingga perguruan tinggi. Dan kumohon sadarlah engkau yang bersekolah tinggi tapi menyianyiakannya.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Mencumbu Mahameru (bag. 3) ; 6 Nov 2012

Beku. Hampir beku.
Selepas maghrib di Kalimati dingin mulai merambati pori-pori. Setelah tenda selesai didirikan, aku langsung masuk dan tak pernah keluar lagi. Baju penuh keringat kuganti dengan lengan panjang plus jaket tipis, celana pendek kudobel dengan jeans panjang, kaki sudah terbungkus, telapak dan punggung tangan tertutup sarung, dan leher terlilit oleh syal. Begitu juga yang lain, hampir semua mengganti pakaian dan menambalnya dengan yang lebih tebal. Sama halnya denganku, teman-teman memilih mengeram di dalam tenda sepanjang malam.

Briefing pendakian ke tanah tertinggi pulau Jawa kini dimulai. Mamet sudah pasti naik. Ia yang paling rindu ingin mencumbu Mahameru. Rival dengan lantang menyuarakan keinginannya. Kemudian disusul oleh Deny yang juga penasaran dengan puncak. Di dalam dadaku sebenarnya sudah berdebar ingin memuncaki Mahameru. Tapi pikiran-pikiran lain menghalangiku. Aku teringat pesan seorang teman di Surabaya yang menginfokan ada badai di puncak Mahameru beberapa hari belakangan. Lebih lagi persiapan kami yang sangat kurang membuatku berpikir berkali-kali. Senter hanya sebuah dipegang Mamet, itu pun dengan bohlam 5 watt. Dua buah penerangan lagi dari power bank milik Faquh dan Deny dengan lampu putih nan kecil, namun cukup terang. Selain itu tak ada. Terpaksa aku memilih menunggu tenda bersama Faquh dan Aan. Sebenarnya alasan terkuatku adalah pesan dari ibuku yang kudapat tadi siang. Aku tak mau perjalanan menuju Kawah Ijen terulang lagi.

Sebelum tidur, kami menghangatkan tubuh dan mengisi perut terlebih dulu. Beberapa gelas kopi susu hangat yang sangat nikmat, sekotak nasi, dan beberapa bungkus mie rebus. Kami tak bawa gelas, sendok, atau apapun. Botol minum dipotong untuk dijadikan gelas kopi, sebagian sisanya dibentuk menjadi sendok dan garpu. Sebuah sendok lagi hasil meminjam dari tenda pendaki sebelah. Berenam kami duduk membentuk lingkaran, menggilir nesting berisi mie rebus hampir hambar ternikmat yang pernah kumakan. Pukul 8 malam, kami berenam tidur berhimpit-himpitan saling menghangatkan. Hangat. Itulah keuntungan tenda 4 diisi 6 orang.

Hari tiba-tiba pagi. Kukeluarkan kepalaku dari dalam sleeping bag dan tenda, ternyata matahari sudah tinggi. Perkemahan sudah sepi. Rencanaku memotret bintang tengah malam dan memotret sunrise hilang sudah. Aku sedikit sadar ketika Faquh dan Aan memgbangunkanku ketika Mamet, Rival dan Deny hendak mendaki puncak. Aku mendengar kasak-kusuk mereka. Namun mata lebih senang terpejam ketimbang melihat bintang. Meski begitu, pagi di Kalimati tak kami sia-siakan untuk bermain-main setelah sarapan pagi.




Sekitar pukul 9.30, satu persatu pendaki sudah ada yang kembali. Yang pertama kembali adalah Deny. Ia berjalan lemah dan pelan dengan wajah penuh debu. Pakaiannya kotor seperti habis guling-guling di atas pasir. "Gak sampe puncak gua, cuma sampe tengah doang. Kaki gua keram." Sungguh sayang. Padahal sudah setengah perjalanan, tapi Deny tak sampai puncak Swarga Loka para Dewa. Mamet dan Rival meninggalkannya, kata Deny. Mamet pasti berhasil sampai puncak. Kami menunggunya.

Tak seberapa lama, Mamet datang sambil berteriak kegirangan dengan wajah seperti habis turun dari surga. Ia mengacungkan jempolnya kepada kami dan memberikan ekspresi seyakin ia percaya kepada Tuhan. "Weh, di tengah jalan kaki gua keram, sakit banget. Tapi gua paksa aja naek. Nanjaknya curam banget, pasir sama batu-batu. Selangkah naek, dua langkah merosot. Batu-batunya pada jatohan lagi. Gua ga berani liat ke bawah. Sempet gua ngerasa gua gak bakal balik lagi." Di leher Mahameru, Mamet merasakan kematian berada sangat dekat dengannya.
Juga tak lama berselang, Rival kembali dengan tubuh berselimut pasir. Sekonyong-konyong ia datang mengejek Deny yang tak berhasil muncak. Mereka membawa oleh-oleh yang istimewa untuk kami.

Kawah Jongring Saloka

Sunrise yang terlambat.

Puncak para dewa.
Rest in peace, conquerors!
Dua pejuang Minang yang berhasil
menaklukkan dirinya sendiri.

Rival berhasil sampai puncak pukul 8.00

Perantau tangguh.

Mencumbu Mahameru.
Merah Putih tertinggi di Pulau Jawa.

Pasir dan batu, kemiringan hampir 70 derajat.

Mereka mendakinya dengan merangkak
dan menuruninya dengan berlari.

Kalimati pada latar belakang.

Pada saat berada di Ranu Kumbolo, kami sempat mendapati perbincangan dengan beberapa pendaki dan seorang porter. Mamet mendapatkan pertanyaan dari porter tersebut, "Apa sih yang kamu cari di sini?"
Saat itu Mamet hanya diam dan tersenyum tanpa mengatakan apa-apa. Aku tahu, ia diam bukan karena tak mengetahui jawabannya. Tapi tak menemukan kata-kemata yang sanggup untuk mengatakan alasan mengapa ia berada di sana, dan mengapa ia mendaki sampai di puncak. Memang tak ada jawaban untuk seseorang yang bertanya pertanyaan seperti itu. Tak ada. Jawabannya bukan oleh kata-kata. Salah satu jawaban yang paling pasti adalah; 'Pergilah. Datangi sendiri apa yang kau rasa saat mencapai puncak.'

Pukul 10 pagi, Mamet, Rival dan Deny disuguhkan sarapan mie instan. Jangan protes, hanya ada itu. Sekitar pukul 11 kami selesai beres-beres, berfoto, lalu mengucapkan sampai jumpa lagi seraya melambaikan tangan pada si gagah Mahameru.




Perjalanan menuruni gunung terasa lebih cepat. Ya, pasti. Tanpa diberitahu pun nenekku yang tinggal di Jogja pasti sudah tahu. Dari Kalimati kami bertolak pukul setengah dua belas, sampai di Ranu Kumbolo hampir setengah dua siang. Tak ada rintangan yang terlalu berarti di perjalanan pulang, kecuali matahari yang membakar kulit kami sangat hitam.




Tak berapa lama setelah sampai di Ranu Kumbolo, selepas istirahat beberapa menit, ada penjaga pos yang menawari kami sepiring besar sisa sarden, semangkuk sayur sop, dan dua gelas puding. Semua kami lahap tanpa ampun! Sisa sarden tak sampai semenit sudah habis dilahap tanpa nasi, puding dimakan tanpa sendok; menggunakan tangan. Semangkuk sayur sop dipanaskan untuk dimakan dengan nasi setelah tenda jadi. Siang itu, kami istirahat di tepi Ranu Kumbolo, berjemur di bawah matahari. Sunbathing, man.

Mulai sore, para pendaki semakin banyak berdatangan untuk menggelar tenda. Suasana mulai ramai dengan riuh tawa, canda, dan bahagia. Hubungan yang tak terikat sesama pendaki memang terkenal erat. Meski tak mengenal satu sama lain. Sore itu kami bersantai dan bermain-main di tepian Kumbolo. Menyesap dalam-dalam udara segar, menghirup kopi panas, merasakan sejuknya air Ranu Kumbolo, menikmati dinginnya angin lembah, dan menanti senja.






Selepas senja, kelima tubuh itu sudah kembali seperti kepompong. Makan malam yang diniatkan dimasak pukul delapan tak dihiraukan karena sore tadi perut sudah diisi dengan beberapa potong roti dan susu. Semua terlelap pukul tujuh.

Jam 3 pagi alarmku berbunyi. Sedikit lagi, biarkan aku tidur sedikit lagi. Hingga akhirnya pukul 4.00 alarmku berbunyi lagi, aku segera bangun. Pertama membuka retsleting tenda, hawa dingin Ranu Kumbolo menerpa wajahku. Kupersiapkan kamera dan tripot, tidak lupa menutupi tubuh siapa saja dengan sleeping bag nganggur milikku, lalu menutup kembali retsleting tenda. Di luar, Ranu Kumbolo dan para bintang menyambutku lapang. Bintang berhamburan di langit. Beberapa aku mengenal mereka, sebagian banyak tidak. Pleiades, Jupiter, Rigel, Sirius, dan pada saat aku melihat pada Orion, sebuah bintang terjatuh dari tempatnya. Indah bukan main.

Jupiter menjadi pangeran tercerlang malam itu.


Subuh menjelang fajar.


Fajar.




Pagi.






Pukul 8 pagi kami turun menuruni Semeru, sampai Ranu Pane pukul 11.00. Dengan berbagai hambatan di perjalanan kami selamat kembali lagi di Pare jam 9 malam. Semua istirahat, kecuali Aan dan Mamet. Mereka gila. Malah ikut bermain futsal dengan teman-teman satu asrama male 3. Gila!
Pelajaran, tak selamanya harus dijelaskan, sesekali kita yang harus memahaminya sendiri. Bumi, langit dan apapun yang ada di antara keduanya, mereka memberikan segalanya bagi orang yang mau dan pandai menerima.


Engkau begitu menakjubkan Mahameru
Engkau dipancangkan hanya untuk orang-orang yang berani menaklukkan dirinya sendiri
Engkau diindahkan agar orang-orang mengenal siapa mereka
Engkaulah yang tertinggi di tanah Jawa,
Agar orang-orang mengerti seberapa kecil dirinya, betapa angkuhnya mereka
Dari aku, yang senang berlama-lama berada dalam pelukanmu, angin yang dingin

Ranu Kumbolo,
23 September 2012

Labels: , ,

permalink | 0 comments (+)

Mencumbu Mahameru (bag. 2) ; 4 Nov 2012

Mendaki, melintas bukit. Berjalan letih menahan berat beban.
Menatap, jalan setapak. Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir?


Lirik lagu Mahameru Dewa 19 itu benar sekali rasanya. Trek menuju Ranu Pane - Ranu Kumbolo ini memang mengitari bukit. Jalan cukup landai memang, tetapi serasa tak berujung. Sepuluh kilometer hanya jalan setapak yang terkadang dihadang oleh pohon tumbang atau dahan dan reranting yang menjuntai, sesekali batu besar. Sebelah kiri jurang penuh pohon dan rerumputan, di kanan dinding bukit tinggi menjulang. Perjalanan pertama ini tak begitu melelahkan bagi sebagian kami. Mamet salah satunya. Bocah yang dijuluki Sleeping Boy oleh teman-teman satu asrama di male 3 karena kebiasaannya yang tidur terus menerus, ternyata bak macan kumbang Ragunan di lepas ke hutan. Ia berjalan gesit dan paling depan. Tim yang di awal perjalanan berjanji untuk terus bersama-sama kini sudah saling tinggal meski tak jauh. Hanya Mamet yang memisahkan diri karena rindunya yang tak tertahan pada Mahameru. Rival dan Deny yang hanya menggendong daypack berjalan enteng di depanku. Sedang di belakang Aan terlihat berat sekali langkahnya tertahan dua buah ransel di punggung dan dadanya. Ransel berisi air berliter-liter, berbotol-botol. Dan Faquh konsisten berjalan paling lambat di belakang. Carriernya paling besar juga paling berat berisi tenda, dua sleeping bag, dua matras, dan macam-macam lainnya. Di pos dua kami bertiga sepakat beristirahat.

Di pos itu ponselku berbunyi berkali-kali. Beberapa sms masuk menerobos rimbunnya hutan lereng Semeru. Hebat. Orang-orang lain terheran-heran ponselnya masih tetap tanpa sinyal. Sebuah pesan dari teman di Pare, sebuah dari teman di Jakarta mengajak main futsal pula, sebuah dari teman di kampus, dan sebuah lagi dari ibuku. Pesan kekhawatiran tentu saja. Isinya:

Adit, jangan *larangan larangan larangan*
Nanti kalau *larangan larangan larangan*
*nasehat nasehat nasehat*
*khawatir nasehat khawatir*
Kamu harapan mama.

Kalimat terakhir dari pesan itu yang menembus dadaku. Menusuk lebih dalam ketimbang dinginnya udara pagi tadi. Aku hanya tersenyum. Minta doa.

Di pos 2 itu kami bertemu rombongan turis yang kami temui di warung nasi. Mengobrol sedikit, dalam bahasa Inggris tentu saja, dan kemudian pamit jalan duluan. Meski di luar asrama dan jauh dari Kampung Inggris, kami tetap melatih kemampuan bahasa Inggris kami. Mematuhi aturan asrama tak menggunakan bahasa Indonesia, meski tak selamanya. Beberapa saat setelah melewati Watu Rejeng, Mahameru sedikit tertangkap mata kami yang terkesima, kami dihadapi dengan tanjakan curam nan tinggi penuh debu.

Watu Rejeng dan Mahameru yang terhalang awan.

"Oh, my God!" kataku seketika melihat tanjakan melelahkan itu.
"Ya, it's a high steep path." kata salah seorang dari dua turis yang sudah lebih dulu berdiri di situ sebelum aku.

Aan menatap lama tanjakan curam itu tanpa berkata apa-apa. Tapi raut wajahnya mengucapkan hal yang sama sepertiku. Aku mendaki tanjakan curam itu lebih dulu. Debu berterbangan kemana-mana. Separuh jalan, aku melongok ke bawah dan berteriak, "Come on, what are you waiting for? Look at me, I can!" Dua bule itu tampak menatapku dan sepertinya menyangka aku sedang berbicara dengannya, padahal kusampaikan kalimat itu untuk Aan. Barangkali mereka juga heran, ada pribumi yang menggunakan bahasa Inggris dalam bicara sehari-hari.

Langkahku terasa semakin berat karena ransel berisi perlengkapan di depan dada Aan berpindah ke depan dadaku. Aku yang menawari ia menukar ranselnya dengan tas kameraku, karena wajah Aan sangat menyiratkan kelelahan dan ia sulit diajak bercanda saat kecapekan seperti itu. Setelah ranselnya berpindah ke dadaku, ia berubah ceria, tertawa-tawa, bahkan menertawakan aku yang kelelahan dengan carrier di punggung dan ransel daypack di depan dada. "Hahaha... You look so tired, man." Sialan!
'Bersama sahabat mencari damai, mengasah pribadi mengukir cinta.', lirik Mahameru Dewa 19 tak pernah salah.

Semua pendaki pasti setuju bahwa keindahan di puncak gunung adalah obat penghilang lelah seketika. Tapi ternyata tak selalu puncak, di tengah perjalanan pun terkadang lelah sudah terobati dengan keindahan lain. Ranu Kumbolo salah satunya. Walau hanya sebatas pandangan mata nun jauh di sana, bisa membuat langkah kaki menjadi kuat dan semakin cepat.




Ranu Kumbolo yang semakin dekat membuat kami bersemangat menuruni bukit untuk segera menemuinya. Khusus untukku, Ranu Kumbolo ingin berkenalan secara langsung rupanya. Di tepian Ranu, lens cap milikku terjatuh ke dasar danau tak terlalu dalam. Mau tak mau aku harus menanggalkan segala tas, kamera, sepatu dan kaus kaki. Separuh tubuhku basah oleh airnya. Kuanggap itu sebagai salam perkenalan kita, Kumbolo.







Sampai di pos Ranu Kumbolo, teman-teman lain tak menemukan Mamet. Bocah itu menghilang! Ah, tambah saja masalah pendakian ini. Perkiraan kami ia langsung melanjutkan perjalanan ke Kalimati sendirian. Dengan stamina seperti itu, Mamet masih sanggup melakukannya. Tetapi sebagian peralatan ada di tasnya. Beberapa teman lain lebih memilih menetap di Ranu Kumbolo ketimbang mengejar Mamet. Tenda ada di tas Faquh, sleeping bag dan gas ada padaku, kompor dan bahan makanan ada pada Aan. Tapi nesting dibawa Mamet. Ah, bagaimana memasak makanan kalau begini caranya. Rival masih ingin mengejar Mamet. Aku masih ingin beristirahat sambil memutar otak dan menyumpahi Mamet. Hampir setengah jam kami duduk kebingungan tanpa kejelasan menghadap Kumbolo. Dan secara tiba-tiba saja, sekonyong-konyong, Mamet berteriak sambil menghampiri kami dengan wajah bangun tidurnya. "Ooooyyy, kereen maaaaannn!"

Holyshit! Mamet baru bangun dari tidurnya di tepi danau, di bawah pohon. Ia sejam lebih dulu sampai dari kami yang menelan tiga setengah jam perjalanan. Dan selama satu jam itu, ia nyenyak tidur di pinggir danau. Mamet menghampiri kami sambil nyengir-nyengir tanpa dosa dan tanpa merasa bersalah. Kami sumpahi Mamet seketika. Berfoto-foto ria, melahap beberapa potong roti untuk makan siang, mengambil air, sholat dzuhur-ashar, lalu bertolak ke Kalimati tepat pukul tiga sore. Ohiya, melaksanakan sholat di tepi Ranu Kumbolo ini rasanya sangat menenangkan jiwa. Apalagi di puncak?

Faquh, Mamet, dan Aan bermain-main dengan kabut.

Kabut menyerbu Kumbolo pukul 14.00



Tanjakan Cinta yang tinggi dan curam sudah menanti di depan muka. Dengan hanya dilihat saja tanjakan ini sudah sangat melelahkan. Kami berjalan dengan kecepatan sangat pelan karena menahan beban. Sungguh, meski sudah istirahat dan makan siang, tetap saja tak menolong. Sesekali aku berhenti menunggu Faquh dan Aan yang berhenti menanjak lebih banyak dari aku. Mencuri-curi napas, sesekali masih terpukau oleh pemandangan Ranu Kumbolo. Mamet masih berjalan paling depan. Konon, tanjakan curam ini diberi nama Tanjakan Cinta karena adanya sebuah mitos. Jika kita berhasil mencapai puncaknya tanpa berhenti dan menoleh ke belakang, harapan dan cinta kita akan terkabul. Kami belum mengetahuinya saat mendaki tanjakan itu.





Memang tanjakan ini sangat melelahkan, tapi bagi orang yang bersabar dan mau terus berjuang, ada keindahan sesudah dan di balik penderitaan itu. Padang rumput yang menguning menghampar berhektar-hektar. Dialah Oro-Oro Ombo.





Menuruni jalan setapak curam kembaran Tanjakan Cinta sekali lagi, setelah itu kami serasa diberi sepercik pemandangan surga. Berjalan di tengah-tengah padang ilalang yang menguning, dan sepanjang mata menjangkau hanya hamparan ilalang dengan bukit-bukit disertai ribuan cemara berbaris-baris. Aku tak henti memuji Tuhan.







Selepas hamburan savana berhektar-hektar, sampailah kami pada tepi Cemoro Kandang. Hutan cemara yang mencekam dengan jalan yang menanjak terus, terus, terus menerus. Di pintu Cemoro Kandang kami bertemu dengan dua pendaki senior yang baru saja turun. Mereka menasehati kami yang baru pertama kali mendaki Semeru. Nasehatnya lebih kami anggap menakut-nakuti karena persiapan kami yang sangat kurang.  "Dari Kalimati ke Puncak masih 5 jam, yang penting air kalian cukup. Di Kalimati gak ada sumber air. Senter harus pegang satu-satu. Pasir di atas sangat tebal, hati-hati tertimpan batu. Angin di atas juga lumayan kencang. Sehabis Arcopodo hati-hati di jalan setapak dengan jurang di kanan kiri. Terpeleset sedikit aja, mati pasti. Pokonya habis Arcopodo itu hati-hati." Ya, cukup nasihatnya. Setelah merasa istirahat cukup, kami melanjutkan perjalanan menembus jantung Cemoro Kandang.

Hari semakin gelap, udara semakin dingin, jalan terus menanjak, stamina terus terkuras, air semakin habis, Mamet dan Rival meninggalkan kami. Di tengah-tengah hutan yang mencekam seperti ini rasanya nyaliku menciut kecil sekali. Jalan tak terlihat ujung rimbanya. Aku teringat cerita Father yang pernah tersesat selama satu jam di hutan ini. 'Di sana, nyalimu teruji oleh ganas cengkeraman hutan rimba.' Lagi-lagi lirik Mahameru karya Ahmad Dhani ini benar adanya. Selain banyak berhenti karena lelah, aku tak tega meninggalkan Faquh dan Aan yang nampak kelelahan dengan beban seberat itu. Mereka jauh tertinggal di belakang. Di perjalanan menuju Kalimati, aku terlalu lelah untuk menawarkan diri membawa sebagian berat beban Aan.

Pintu hutan Cemoro Kandang
Cemoro Kandang (foto diambil di perjalanan pulang)



Setelah melewati dua bukit tinggi tak henti-henti. Sampailah kami di kawasan Jambangan. Padang ilalang kembali menyapa kami dengan beberapa Edelwise yang berdiri di kanan kiri.



Setelah dua kilometer lagi, sampailah kami di Kalimati. Sang Mahameru yang tak pernah terlihat puncaknya akhirnya menampakkan diri. Gagah, perkasa, bak panglima perang berdiri sangat tangguh di depan lawan. Faquh dan Aan yang pernah berdiri di atas Merapi, mengeluh seketika.

"Buset! Masih segitu lagi sampe ke puncak?"
"Haaahhh, ini mah sama aja startnya daki Merapi!"

Sementara mereka menghampiri Mamet dan Rival di ujung jalan, aku masih terpesona dengan tampannya Mahameru. Tak pernah aku merasakan aura kharismatik begitu kuat seperti ini sebelumnya. Aura para pahlawan yang telah mati seperti bangkit lagi.







Sampai di Kalimati, langit barat sudah memerah kekuningan. Udara semakin dingin menggigit kulit. Saat itu juga kami mendirikan tenda. Mengeluarkan seluruh perbekalan, menyiapkan segala perlengkapan, mengaturnya sedemikian rupa agar 6 tubuh manusia bisa muat dalam tenda ukuran 4 orang. Maghrib itu, tubuh harus segera diistirahatkan. Perjalanan menuju tanah tertinggi tanah Jawa tinggal selangkah lagi.
Mahameru!

Labels: , ,

permalink | 0 comments (+)

« BACK