Saling Menyebrang, Antara Istiqlal dan Katredal ; 10 Jun 2014

Ketika itu saya mendapat tugas untuk mewawancarai seorang tokoh yang dipilih secara acak. Nama yang tersimpan di gulungan, persis seperti penentuan pemenang arisan, saya ambil dan keluarlah nama: Pastor Kepala Paroki Gereja Katedral Jakarta.

Romo Stefanus Bratakartana namanya, dialah pastor kepala di gereja yang bertetangaan dengan masjid besar di Jakarta: Istiqlal. Saya harus menemuinya dan mesti pulang membawa informasi yang menarik untuk ditulis. 

Saat itu Romo Bratakartana sedang berbincang dengan seorang laki-laki di dalam ruangan sekretariat kepala gereja paroki. Tak berapa lama, laki-laki lanjut usia itu menghampiri saya dan teman saya yang duduk menunggunya. Ramah dan hangat, sikapnya seperti kebanyakan pemimpin agama. Dan perbincangan itu dimulailah dengan soal klasik antara Gereja Katredal dengan tetangganya Masjid Istiqlal.

Kedua tempat ibadah itu memang dikenal memiliki hubungan toleransi beragama yang saling menghormati. Juga sudah jadi pengetahuan publik bahwa jemaah kedua tempat ibadah itu kadang berbagi lahan parkir. Ketika Masjid Istiqlal merayakan hari besar, jamaahnya memarkir kendaraan di Gereja Katredal. Begitu pula ketika Katredal mengadakan misa, jemaatnya terkadang meminjam lahan parkir di Istiqlal.

Tapi ternyata hubungan Istiqlal dan Katredal tak hanya sebatas itu. Romo Bratakartana mengaku beberapa kali mengunjungi Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Musthafa. Menyebrang jalan dari Katredal ke Istiqlal.

"Saya pernah kok ke Istiqlal. Waktu itu antar tamu saya ke sana menemui imam besar," katanya.

Ia bercerita, setiap Katredal akan melangsungkan acara, dirinya selalu menyebrang ke Istiqlal untuk mengunjungi imam besar. "Ya seperti halnya bertetangga. Kalau di rumah kita ada hajatan kan kita harus memberi tahu tetangga kita, karena kita tidak hidup sendirian."

"Tapi kita tidak mengharuskan tetangga untuk ikut acara keluarga kita, ndak toh," demikian Romo Bratakartana menganalogikan Katredal dan Istiqlal bagai rumah.

Demikian pula halnya yang dilakukan imam besar Ali Musthafa apabila Istiqlal akan mengadakan acara keagamaan. Imam besar juga berkunjung ke Katredal untuk bersilaturahmi dan memberi tahu akan diselenggarakannya sebuah acara di Istiqlal. Kedua pemimpin tempat ibadah itu saling mengunjungi satu sama lain.

Kendati begitu, kunjungan kedua pemimpin itu tak kerap terjadi. Hanya pada acara besar yang akan dilaksanakan. Barangkali untuk menjaga pandangan orang lain agar tak terjadi omongan.

"Ya ndak sering, hanya sebatas menjaga hubungan baik," kata Pastor Kepala Paroki Katredal Jakarta menggambarkan hubungannya dengan Imam Besar Masjid Istiqlal.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Media Massa, Off The Record ; 23 Nov 2013

"Kau tahu tentang tulisan jilbab hitam yang menyerang Tempo?"

"Hhh... lugu kau, begitu saja termakan bualan. Itu palsu... eh, ini bukan berarti aku mendukung Tempo loh ya. Tulisan itu memang bohong untuk Tempo. Tapi tidak dengan kebiasaan para media." Perkataan Dion ini sangat menarik untuk disimak. Tulisan itu memang bohong untuk Tempo, tapi tidak dengan kebiasaan para media. Aku ingin tahu lebih lanjut.

"Maksudmu?"

"Ya, yang dibilang wartawan sering mendapat 'uang receh' yang dimasukkan ke dalam amplop di beberapa liputan, dan isu memihak juga mendukung sebelah pihak. Itu benar adanya. Dan wartawan-wartawan yang suka menerima gaji tambahan, itu memang ada. Atasanku contohnya."

"Coba jelaskan," aku meminta Dion. Dan langsung saja dia bicara tanpa ada sesuatu yang menahannya.

"Si jilbab hitam yang menulis di dunia maya itu cuma mengada-ada, tapi inti dari ceritanya itu benar adanya. Bukan soal jual beli isu, tapi setahuku, 'penyerangan' yang dilakukan media itu memang ada. Dan juga pembelaan media untuk sebelah pihak juga bukan rahasia."

Lanjutkan Dion! Seruku dalam hati.

"Aku ditugaskan menulis sebuah artikel tentang baik dan buruk seperangkat alat. Simpel, cuma menuliskan baik dan buruk. Sebulan setelahnya, aku ditelpon oleh humas perusahaan tersebut, katanya ingin bertemu denganku karena ada sebuah hadiah untukku karena sudah menyempatkan waktu menulis tentang artikel itu. Itu hadiah, diberikan setelah tulisanku selesai. Bukan sogokan yang diberikan sebelum aku menulis, agar aku menulis yang baik-baik,"

"Tapi si humas itu batal bertemu denganku, kawan. Humas perusahaan itu adalah teman dari dua orang atasanku, dan atasanku melarang si humas untuk memberikan hadiah perangkat tersebut untukku. Tapi diambil dan dibagi rata untuk mereka berdua, lucu ya? Tapi tak hanya itu."

"Apa lagi?" Dion menghela napas sebentar. Mengambil sebatang rokok terakhir di bungkus Marlboro putih, menyelipkan di bibirnya, dan membakarnya. Aku amat menunggu kisah lanjutannya.

"Media tempatku bekerja juga menyerang beberapa pihak yang tak disukainya, 'menghajarnya' lewat artikel-artikel pedas. Yang tentu saja merugikan si pihak yang diserang. Tujuannya? Kata bosku, supaya mereka sadar, dan mereka meminta maaf kepada media kami. Meminta maafnya bagaimana? Baik-baiklah kepada media kami, beri barang yang mereka miliki, atau ajak wartawan kami ke luar negeri untuk 'liputan jalan-jalan' sebagai permintaan maaf. Masalah beres. Kalau belum seperti itu, ya kami akan terus menyerang mereka. Atau memboikot pihak mereka dari tulisan kami. Seperti itu."

"Sama saja seperti kau ditilang oknum polisi, lalu kau baik-baiki oknum tersebut dengan sejumlah uang, lalu masalah beres. Begitu, Dion?"

"Pintar."

"Dan lebih lagi," Dion menghisap rokoknya hanya sebentar, lalu melanjutkan, "atasanku ini tak bercermin diri setelah membaca tulisan si jilbab hitam yang menyebar di dunia maya. Ia mengirim tautan kepada anak buahnya, lau berkata 'Buka link ini deh. Kalian wartawan, jangan kayak gini ya. hehehe...' persis penjilat bukan?"

Ini. Cerita Dion ini sangat menarik sekali untuk kutulis lalu kusebarkan secara luas. Ah tapi, apa semua yang dikatakan Dion ini benar adanya? "Hei Dion, semua yang kau katakan ini, benar kan? Fakta?"

"Hahahaha...." Dion malah terbahak-bahak, membuang rokoknya yang masih setengah, lalu menginjaknya agar bara api padam. "Ya tidaklah, semua yang kucertikan itu fiksi. Jangan mau otakmu disetir oleh orang-orang yang punya kepentingan, jangan mau disetir oleh media!"

nb: hei Kevin Carter, apa foto anak kecil yang hendak dimakan burung pemakan bangkai itu benar adanya? apa setelah kau pergi burung itu benar-benar memakan si anak?

15 November 2013
di pengasingan kebenaran



Aku meremas kertas kuning berisi tulisan percakapan yang masih saja diketik pakai mesin tik itu. Sudah 2013, mesin tik  masih saja dipakai. Lagi-lagi bualan kelas teri. Jauh lebih baik aku menulis puisi. Tentang cinta yang tak ada habisnya. Karena aku terkadang berpikir, Cinta dan Tuhan adalah satu zat yang sama.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Penyu dan Manusia ; 12 Aug 2012


Seekor penyu kecil, hal yang pertama kali ia kenal saat terlahir ke dunia adalah pasir pantai. Begitu menetas, butiran pasir dan harumnya pantai tempat ia dilahirkan yang akan ia ingat. Kemudian ia tinggalkan pantai itu, ia gerakkan kaki kecilnya melangkahi pantai, melawan ombak. Berenang menjelajahi samudera, pergi ribuan kilometer dari pantai pertama, hidup ratusan tahun sejak hari pertama. Hingga akhirnya ia dewasa, bercinta, dan cukup usia untuk menelurkan penyu-penyu kecil selanjutnya. Ia akan kembali pulang, setelah ribuan kilometer ia pergi, setelah puluhan hingga ratusan tahun ia hidup, ia kembali. Pulang ke tempat di mana
ia pertama kali dilahirkan.

Seperti halnya manusia. Akan datang suatu ketika bagi manusia di mana ia akan kembali pada hati seseorang yang tak akan bisa ia lupakan. Yang akan menjadi rumah untuk kembali, walau telah berapa pun lamanya ia pergi, walau telah kepada siapa pun ia berlabuh ke lain hati.
Hanya pada satu hati itulah, ia akan pulang.
Seperti penyu, yang kembali pada pantai pertama ia dilahirkan.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Hujan ; 16 May 2012

Sudah seharusnya aku menyadari bahwa hati ini ternyata tidak merindukan kamu.
Tetapi ia merindukan, sangat merindukan; kita.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Hidup Semestinya ;

Hidup, tidak hanya tentang sudah sejauh mana aku menginjakkan kaki di bumi ini. Tidak hanya tentang apa saja pencapaian-pencapaian yang telah kugapai. Gunung mana yang sudah kudaki, pulau apa saja yang telah kujejaki, seberapa banyak ilmu yang kuteguk, sukses apa yang kuraih, prestasi apa yang kudapati. Tidak. Hidup ini tak sekedar tentang mimpi-mimpi. Hidup, tak hanya tentang pencapaian diri sendiri. Hidup tak hanya untuk tumbuh, dewasa, mencinta, gapai cita-cita, berkeluarga, tua, lalu mati. Tak hanya tentang bahagia yang ditanggung sendiri. Tapi sejauh mana diri ini berguna bagi orang lain, sudah sampai mana diri ini bermanfaat bagi orang lain, dan seberapa banyak bahagia diri dikeping untuk dibagikan bagi orang-orang yang ingin.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

Nol Harapan ; 19 Apr 2012


Aku merasa jadi sangat kecil, sangat kecil.
Merasa menjadi orang pintar di dalam kebodohannya. Serasa orang paling rendah hati di atas kesombongannya. Umpama manusia yang telah mencapai tempat tertinggi padahal sedang berdiri di atas tumpukan dosanya sendiri.

Aku mengatakan; aku ikhlas. Sedang ikhlas yang hakiki itu tak pernah berucap, tulus yang tumbuh dari hati itu tak butuh diungkapkan. Lalu apa yang selama ini kuucap dan kuakui sebagai keikhlasan? Yang kulakukan dengan perbuatan? Tak lain, itu adalah kesombonganku yang tersembunyi. Diriku yang belum bisa kukalahkan dan mengaku sebagai bijih kebaikan. Mengaku sebagai kebaikan, padahal sebenar-benarnya kebaikan tak akan pernah mau diakui. Sebenar-benarnya kebaikan adalah hal yang dilakukan dari, oleh dan untuk hati.

Tipu daya syaitan bak sutra dibelah tujuh, begitu halus dan penuh kelembutan. Hingga mampu membuat manusia beserta hatinya tergelincir pada perasaan yang tak akan pernah diinginkan. Tak ada kejahatan yang mau mengaku. Sudah sejak dari pertama kali diciptakan kehidupan, iblis mengaku sebagai kebaikan yang memberi khuldi kepada Adam dan Hawa. Tapi mereka, syaitan dan sekutunya, memang diciptakan untuk menggoda manusia hingga kiamat tiba. Bukan mereka yang patut disalahkan atas keburukan yang terjadi di atas bumi, tapi manusia itu sendiri beserta hatinya yang kosong dan tak berisi. Pahamilah, keburukan sehina-hinanya, pandai bersembunyi dalam sekeping kebaikan. Namun kebaikan sebening-beningnya, tak akan pernah ternodai setitik pun kejahatan.

Ikhlas, pelajaran yang kuakui aku telah berhasil memahaminya. Rupanya tak lagi disebut ikhlas. Karena ikhlas itu tempatnya di dalam hati, bukan di atas lidah. Dan aku, yang mengaku-aku telah ikhlas serta mengatakannya pada manusia, angin, malaikat, malam, dan doa, ditegur secara perlahan oleh Tuhan. Ya, Tuhan memang sangat bijaksana, Ia maha bijaksana dan maha indah. Karena menegurku dengan cinta. Dengan memberikan cinta yang sengaja lahir sekedipan mata, ditanam sedalam bumi menyimpan rahasia, kemudian dipisahkan begitu saja. Perih, namun di situlah pelajarannya. Apakah yang selama ini kukatakan itu sebenar-benarnya ikhlas? Apakah itu sebentuk ketulusan tanpa setitik pun pengharapan? Bukan. Karena ikhlas itu sunyi dan tak pernah berbunyi. Dan ketulusan adalah nol harapan.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

Tuhan Bersamaku ; 11 Apr 2012

Aku tak pernah tahu apa yang kan kuhadapi esok hari, malam nanti, sejam nanti atau bahkan beberapa detik lagi. Apakah bahagia, entah duka atau luka. Aku tak pernah tahu apa pun, kecuali satu: Tuhan selalu bersamaku. Dan aku tak pernah tahu kemana hati ini menuju. Kepada siapa ia jatuh, berlabuh dan menambatkan tali cencang di satu hati yang utuh. Aku menginginkan jatuh pada seorang wanita seperti apa yang ada dalam kepalaku. Tapi aku tak berdaya apa-apa ketika Tuhan menghendaki aku jatuh pada seorang yang berbeda. Ketika itu aku mengetahui: sesungguhnya hati beserta apa-apa yang ada di dalamnya berada dalam genggaman Tuhan. Dan aku ikhlas, hatiku jatuh meski tak berbalas. Karena kupercaya, Tuhan mengetahui kepada siapa aku mencinta. Dan aku percaya Ia akan membalas sesuatu apa walau sebesar zarrah. Tak terkecuali cinta.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Kebahagiaan Memberi ; 26 Mar 2012

Adalah saat melihat wajah bahagia mereka menerima hadiah dari kita. Sungguh, tak terkira.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Puntung Kehidupan ; 27 Feb 2012

Ini cerita tentang kakek dan rutinitas di puntung-puntung usianya
Seorang lelaki hampir delapan puluh yang bicara dan jalannya terbata-bata
Lelaki yang dulu muda adalah abdi negara tanpa bintang jasa
Dan kini mulai dikerubungi penyakit usia sejak ditinggal mati kekasih jiwanya

Pagi hari pukul lima, ia bangun dari tidurnya yang entah masih memiliki mimpi atau tidak
Menghampiri dua sahabatnya di teras: radio tua dan kursi malas
Duduk menyelonjorkan kaki dengan wajah tanpa ekspresi, menyetel radio keras-keras
-Alarm baru yang membangunkanku solat fajar minggu-minggu belakangan ini-
Pagi buta, di kota yang mulai beranjak dewasa
Ia mendengarkan alunan ayat suci untuk mengusir sepi: sepi miliknya sendiri
Sepinya deru macam kendara di pinggir kota Jakarta, tanpa kekasih
Pukul tujuh pagi, ayat suci berganti jadi laporan macetnya lalu lintas Jakarta, yang kadang terjadi celaka yang mengambil nyawa
Lalu tergopoh-gopoh ia sarapan menuju meja makan, selepasnya kembali lagi ke teras:
Berdiam diri mendengarkan lagu masa kini yang kutahu pasti tak pernah sekalipun ia dengarkan
Sesekali tangan kanannya bekerja menyambut anak cucu yang mencium tangan meminta izin berpamitan, kemudian mendoakan mereka
Bila bosan ia kembali lagi ke kasur, lalu kenyang tidur ia menjadi lapar, setelah lepas lapar ia bersahabat lagi dengan radio tua dan kursi malas: saling bercerita dengan cara mereka sendiri-sendiri
Dan senja adalah waktu terlama ia duduk di kursi malas sambil mendengarkan radio keras-keras, duduk diam: menunggu
Magrhib tiba, ia kembali ke dalam rumah, dan keluar lagi esok pukul lima pagi

“Setiap hari seperti itu.” kata ibuku
“Menunggu apa, ya?” kataku.
“Tak ada lagi. Kecuali kematian.”

Ucapan ibu mengingatkan aku, tentang:
Apa-apa saja yang telah dilakukan dalam hidup, setelah sekian lama berusia sampai tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu kematian
Dan tentang aku, kau dan masa tua:
Apakah kita akan menghabiskan usia sama seperti mereka atau dengan cara kita: di bawah senja, dua cangkir teh di atas meja, lalu bercengkrama: bagaiamana bisa dulu kau mencintaiku dan cara bagaimana aku menyayangimu, yang barangkali akan jadi cerita senja untuk anak dan cucu kita

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Ketika Seseorang Mengkhianati Dirinya Sendiri ; 26 Feb 2012

Ini bukan tentang politik. Lagi-lagi, entah sudah yang keberapa kali kukatakan aku benci dengan politik. Ini hanya tentang kehidupan dan hati. Kehidupan yang berdampingan dengan orang-orang, dan hati-hati yang tak selalu berada pada orang-orang itu. Manusia di bumiNya yang sudah tua, sudah tak jarang ditemui telah menanggalkan hati untuk ditukar dengan lembaran-lembaran uang. Dan mereka yang telah kehilangan hatinya, masihkah menjadi manusia? Barangkali tergantung jawabannya. Karena pekerjaan menukar hati dengan uang tak mereka lakukan sekali transaksi –meski ada yang seperti itu-. Manusia diberi akal, dan mereka gunakan untuk pandai-pandai mengeping-keping hatinya yang diangsurkan pada orang-orang yang mau membelinya dengan mahal. Pintar.

Kekecewaan yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang kita percayai. Sahabat, kekasih, istri, suami, atau apalah namanya yang mewakilkan orang-orang terdekat. Dan yang kutulis selalu pengkhianatan orang-orang yang kukenal terhadap dirinya sendiri. Kupikir lebih menyedihkan mengkhianati diri sendiri ketimbang mengkhianati orang lain. Karena tak ada perbuatan yang lebih menyakitkan dari diri yang menyakiti dirinya sendiri. Mengkhianati orang lain itu dimulai dari mengkhianati diri sendiri, mengkhianati diri sendiri dimulai dari mengkhianati hati, dan mengkhianati hati dimulai dari mengkhianati Tuhan. Dan apakah kecewa namanya melihat seorang yang sudah menjadi kawan memotong lidah dengan giginya sendiri lalu mengeping hatinya untuk ditukar dengan kepingan lain yang bisa dibelanjakan? Ah, itu urusan mereka. Tapi Pramoedya bilang, tiap sesuatu yang terjadi di kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir. Barangkali dari apa yang dilakukannya boleh menjadi urusan untuk pikiranku yang mau berpikir untuk menulis sebuah pemikiran yang bisa menembus kepala orang-orang seperti mereka dan yang tak seperti mereka. Agar mengetahui: bahwa hati adalah kemanusiaan manusia yang disebut makhluk paling mulia.

Seorang kawan, menyerukan keadilan menurutnya dengan mengkritisi lewat pendapat-pendapat gemilangnya, lalu tiba-tiba berbelok, menjadi seorang yang selama ini ia kritisi. Kemudian diam seumpama lupa pada lidah di masa lalunya yang mengejek orang-orang yang seperti dirinya kini. Walau belokan yang ia lakukan kecil, seperti sebuah dukungan pada sebuah golongan yang berpolitik. Dan seorang kawan lagi, yang menyerukan keadilan menurutnya dengan mengkritisi lewat pendapat-pendapat gemilangnya, kemudian tak berbelok, menjadi seorang yang tetap mengkritisi seperti ia selama ini.

Dari keduanya aku jadi bisa memahami; baik dan buruk itu tak datang dari mata angin manapun dan dibawa oleh siapapun, tapi terlahir dari dalam hati manusia itu sendiri.




“Sudah tulisan pesananku kemarin, Ndra?”

“Baru saja selesai kutulis. Ini.”

….

“Heh, kau pintar sekali menulis!”

“Karena itu kau suka denganku kan, Yas?”

“Kau pintar dan bisa dibayar. Tapi aku tidak suka dengan kau, Ndra!”

“Lalu kenapa kau mau tidur denganku?”

“Karena tulisanmu dan kau, tak mau hanya dibayar dengan uang bosku.”

“Pintar.”

“Kau juga, tapi tak berhati.”

“Sama seperti kau.”

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Menjadi Sebenar-benarnya Pria ; 22 Feb 2012

Darinya aku belajar menjadi pria, perlahan-lahan, remaja dalam diriku beranjak dewasa tanpa meninggalkan muda. Pria sebenar-benarnya Pria. Bukan macam pria kebanyakan, tapi Pria berbeda yang memiliki pribadinya sendiri. Pria yang akan membuat wanita berkata "ah!" lalu hatinya luluh sudah, leleh tak berupa. Bukan, bukan semata membuai wanita macam anak muda di zaman yang sudah tua, tapi perlakuan yang sungguh untuk menyenangi hati para cucu hawa. Perlakuan yang (menurutku ia) tulus untuk menghargai, melindungi, menjaga dan muliakan wanita.

Barangkali ia mengikuti ajaran agamanya, Islam, yang mengajarkan kami untuk memuliakan wanita. Jangan kau tanyakan kenapa dan sangsikan aku tahu darimana, aku melihatnya. Aku melihat ia menggenggam erat tangan istrinya saat menyebrang jalan, memposisikan dirinya ditabrak lebih duluan. Genggaman yang mengatakan: aku tak ingin kehilangan. Genggaman yang sama ia lakukan saat membantu istrinya menyebrang sungai di lereng pegunungan. Di lain hal, aku melihat pula cara ia mencintai istrinya diam-diam. Membuat cinta jadi bahan lawakan, tertawaan, tapi tertimbun sangat dalam. Juga pada matanya, yang tak sengaja kulihat sedang mencuri waktu untuk memandang mata istrinya, meledeknya, lalu cinta berhamburan di udara. Padahal kami ada di sekitar mereka, seakan berkata: dunia itu tetap milik kau dan aku saat kita sedang dan masih jatuh cinta.

Wanita tak hanya istrinya, yang kutahu dan kukira, ia turut pula menghargai wanita lain, walau masih saja ia tutupi dengan ledekan atau canda. Ibunya, anak perempuannya, juga wanita lain yang mungkin ia anggap sahabat atau saudaranya. Bila ingin tahu cintanya yang diam-diam dan dalam-dalam, buka surat ini, ia tulis tanpa menyampaikan pada siapa surat itu dialamatkan. Meski ia sangat tahu untuk siapa surat itu ia tuliskan. Di sini aku belajar, kawan, menjadi pria tulus yang mencintai diam-diam, tanpa dikatakan, ditanam dalam-dalam, namun dibuktikan dengan perbuatan.

Mungkin aku tak banyak tahu peran ia sebagai anak, tapi ia mengajarkan bagaimana menjadi ayah sekaligus sahabat bagi anak-anaknya. Ayah yang mencintai anak-anaknya sebagaimana ia mencintai wanita yang melahirkannya. Ia menjadi laki-laki paling pria bagi anak perempuannya. Dan ia menjadi pria paling bijaksana bagi anak lelakinya, meski sebenarnya, dalam hidup dan hatinya ia masih terus belajar. Ia Ayah yang tak bosan mendengar cerita anak-anaknya, yang tak segan menjawab pertanyaan menyulitkan dari anak-anaknya. Ia ayah yang berusaha hebat meski tidak hebat, yang bijak walau masih perlu belajar banyak. Barangkali selain cinta yang tak perlu lagi dikata, ia melakukan itu berharap anak-anaknya bercerita dengan seru dan berkata pada teman-temannya dengan bangga yang penuh sesak dalam dada: Dia ayahku!

Bila kau ingin mengenal pribadi seseorang, kawan, jangan lihat pada apa yang melekat di tubuhnya, tapi lihat isi kepala dan hatinya. Aku tak belajar untuk bersikap menyebalkan di depan orang-orang tapi berbuat hal mengagumkan saat tak ada orang lain yang melihat. Aku tak belajar menjadi pria yang tak tahu kapan pernah katakan cinta pada istrinya tapi selalu mengucap ‘i love u’ di tiap detik diam-diamnya. Aku tak belajar menjadi pria yang menjadikan cinta dan mesra hanya untuk milik berdua. Aku tak belajar menjadi ayah seperti dirinya. Aku tak belajar menjadi pria seperti dia. Melainkan aku belajar menjadi pribadi yang berbeda dengan menjadi diri sendiri. Belajar mencintai dengan caraku menjadi diri sendiri.

Sebenarnya aku gengsi menulis ini, seperti dirinya yang gengsi mengatakan kangen pada (at)kawanfun. Karena dalam bicaranya di depan orang-orang ia sibuk mencela, sedang dalam hatinya ia tulus mencinta.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

Cinta Tak Perlu Apa Apa ; 1 Feb 2012

Cinta tak perlu minta diri lebih dulu untuk jatuh pada hati tuan dan puannya. Meski kau tak memintanya, meski kau tak menginginkannya. Karena Cinta punya caranya sendiri kepada siapa ia memilih. Untuk tinggal di hati seseorang, pun untuk pergi dari hati seseorang.

Dialah makhluk mulia yang selalu tinggal dalam hati manusia. Dialah alasan mengapa aku ada dan terlahir di dunia. Dan Dialah alasan mengapa engkau selalu hadir di antara kedua telapak tangan doa. Alasan mengapa aku selalu tak berdaya ketika menatap kedua bola mata.
Tahukah kau, Dialah yang membuat jantungku berlari seperti tak ada lagi esok ketika jari-jemariku berpagutan dengan gurat garis tanganmu. Dia pula yang membuat lisanku bisu, sedang hatiku tak hentinya mengatakan ‘aku mencintaimu.. aku mencintaimu.. aku mencintaimu..’ ketika aku ada di sebelahmu.

Ada kalanya Cinta tak perlu dikata. Ada masanya aku belajar mencinta tanpa mengharap sesuatu apa. Aku sudah cukup bahagia mencintaimu dengan doa-doa: semoga engkau lekas mendapatkan citamu, semoga engkau cepat bertemu dengan cintamu. Aku selalu dan tak pernah berhenti belajar untuk ikhlas, begitu juga dengan mencintaimu.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Penakluk Mimpi ; 1 Jan 2012

Kelak nanti aku memiliki anak lelaki, akan kuajari ia untuk belajar tak sekedar bermimpi. Kan kuberi ia pelajaran tentang perjuangan, tentang ilmu kehidupan. Dengan bermain bersama anak mimpi-mimpiku, anak kehidupan yang lahir dari pemahaman tentang sebuah kejadian. Kan kutanam dalam dadanya benih keikhlasan, agar ia tumbuh, berkembang dan berbuah menjadi seorang yang tak pernah mengharapkan imbalan. Kecuali hanya kepada Tuhan. Kan kuajarkan pula ia keberanian. Untuk bekal menghadapi halang rintangan yang menghadangnya. Di perjalanan menuju mimpi yang akan ia taklukkan.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Tiga Hal Yang Membuatku Mudah Menangis ; 24 Dec 2011

Adalah ibu, nabiku dan dosa-dosaku.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Surat Cinta Untuk Tuhan ; 9 Dec 2011

Teruntuk, Raja Yang Menguasai Hari Pembalasan

Dengan menyebut namaMu yang maha pengasih lagi maha penyayang

Pada matahari sepenggalah yang tak pernah berhenti menyembah, aku menuliskan surat cinta yang hanya dapat diterima oleh iman. Ya Malik, sungguh aku adalah manusia jahil lagi tak berpikir. DariMu segala apa yang kumiliki, segala apa yang Kauanugrahi, tapi tak pernah segala itu kukembalikan kepadaMu. Terutama kelebihan yang Kauberikan tak pada seluruh umat: sebuah kuasa mengangkat pena menjadi kisah, kata, atau cinta. Kaubuat otakku berpikir dan jemariku mengukir, kata kemata yang berbicara tentang segala. Kata yang rupawan, yang terkadang kutujukan untuk beberapa orang: wanita, kekasih, sahabat, orang tua. Tapi tak pernah kuindahkan Kau dengan tulisan, seperti Engkau mengindahkan aku lewat tulisan. Ya Rabb pemilik langit dan bumi, aku memohon segala ampun, aku meminta segala magfirah, atas kesombongan yang pernah ada di dalam dada.

Ya Rahman, yang memiliki malam beserta apa yang bercahaya pada gelapnya, aku ingin mengatakan: terima kasih. Aku telah bertemu dengan seorang pribadi siapa sebenarnya diri ini. Kau membuatku mengerti untuk apa sebenarnya aku hidup. Kini aku mengerti arti dari setiap apa yang Kauberi. Sungguh, Kau adalah sebaik-baik penulis cerita. Yang me-reka tiap kejadian dengan segala perhitungan. Kau pertemukan aku pada orang-orang yang mengenalMu lebih dulu. Agar aku belajar: dunia adalah fana dengan segala isinya.

Ya Rahim, dzat yang melukis merah dan jingga langit senja, sungguh tak ada daya upaya selain daya upaya Engkau. Aku adalah manusia tak berdaya. Yang tak memiliki sesuatu apa pun di dunia, yang tak mempunyai-tak memiliki sesuatu. Terlahir tak membawa apa-apa, mati pun hanya berbekal amal ibadah. Aku manusia tak punya kuasa. Hanya tanah yang Kau tiupkan nyawa. Dengan tubuh yang berlumur napsu dan dosa. Aku manusia lemah, yang sedang mencoba menelusuri jalan yang baru saja kutemukan untuk mencapaiMu. Manusia yang hanya bisa menangisi dosa-dosa. Manusia yang menitikan air mata karena tak pantas menempati surga dan sungguh tak akan tahan dengan siksa neraka. Aku manusia tiada, yang sedang jatuh cinta pada Yang menciptakan cinta. Maka kasihilah, dengan segala kasih dan sayangmu, Tuhan penyayangku.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Dengan Segala Tunduk ; 5 Dec 2011

Jiwaku, ruhku, zahirku, nyawaku, hidupku, matiku, hanya untuk Raja yang menguasai hari pembalasan: Allah Azza Wa Jalla.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Utopis ; 8 Nov 2011

Sebut aku pemimpi, maka akan kubuat duniaku sendiri!

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Untuk Kita, yang Menyebutnya Keluarga ;

Sesungguhnya aku tidak menyukai politik. Benci terhadapnya. Namun seseorang pernah mengatakan, jangan membenci politiknya tetapi bencilah orang-orang di dalamnya. Dan aku, membencinya dengan sederhana. Bila dalam skala besar, politik terkadang lebih kejam dari pembantaian. Bahkan tak jarang pembantaian itu sendirilah politiknya. Dari mulai suara hingga nyawa, dipaksa tercabut demi suatu kuasa. Dan ada apa gerangan seseorang yang tidak mau menyebutkan dirinya saya karena keakuannya, yang mengaku tidak menyukai politik, berbicara tentang politik? Sesungguhnya ini bukan tentang kekuasaan, kawan. Ini tentang aku yang apatis terhadap politik, dan sesuatu yang hidup di dalam dada kiriku merasa terusik: karena bahtera keluarga yang tlah berlayar sedemikian jauh tengah melawan gelombang pasang.

Ada masanya seseorang menerima ujian, mendapatkan kegagalan, tak lain adalah pemantapan atas diri sendiri satu tingkat dari sebelumnya: inilah pembelajaran. Tak ubahnya seseorang, sebuah keluarga –kecil atau pun besar- juga mengalami pendewasaan.

Apa yang ada di pikiranmu tentang ketidakadilan? Apa gagasanmu tentang sebuah kecurangan? Tentang sebuah invisible hand yang mengotak-atik sesuatu untuk sebuah kekuasaan? Kiasan tangan yang tak terlihat itu, memang sangat halus, hingga tak terlihat, hingga kita tak merasa sesuatu sedang berusaha mengendalikan kita. Kau tahu setan? Tipu dayanya begitu memikat, berbisik di telingamu dengan halus, sangat halus, pelan-pelan menjebakmu pada sebuah kenistaan.

Kawan, kuberi tahu kau. Ketidakadilan itu diciptakan Tuhan, untuk menguji kemanusiaan tiap manusia. Penyair dan pemikir, Goenawan Muhammad, pernah bilang: Di negeriku, korupsi dan atap sekolah roboh sudah tak lagi menjadi berita. Salah satu jiwa kemanusiaan yang terusik. Mungkin ini yang disebut dengan perjuangan yang lebih sulit dari mengusir penjajah: melawan bangsa sendiri. Melihat koruptor bebas berlibur dari televisi, melihat maling ayam dipukuli sampai mati sedang mereka yang ucapannya tak bisa dipegang tertawa-tawa diatas kekayaannya sendiri. Dan yang mengerikan, aku melihat bibit-bibit anggota DPR masa depan yang sama saja dengan anggota DPR saat ini, dengan mata kepalaku sendiri. Beserta cara-cara berpolitiknya yang ia pelajari sebagai bekal saat perut mereka mulai membuncit kelak. Kata sahabatku: Hanya massa dan kekuatan, itulah yang mereka gunakan untuk meraih kekuasaan, tidak diimbangi dengan kualitas diri.

Klise memang. Sangat sangat sangat klise berbicara idealis seperti ini. Banyak orang bilang: idealisme mudamu itu akan habis terkikis seiring bertambahnya usia dan perjumpaanmu dengan kejamnya dunia yang disebut realita. Tapi kawan, semua itu tergantung pada iman. Relakah kau menggadaikan harga diri untuk sebuah materi, menanggalkan keyakinan untuk sebuah kekuasaan, mengkhianati hati untuk sebuah kepentingan pribadi? Kau yang tahu jawabanmu sendiri. Kalau sudah begitu pun kau masih mengelak membohongi diri sendiri, Tuhan Maha Mengetahui. Bahkan isi hatimu saat hati itu sama sekali belum terisi.

Umpama akademismu yang selalu mendapat nilai A kini mendapat nilai D, hatimu akan terguncang tentu saja. Akan ada dirimu-dirimu yang lain di dalam kepalamu yang mempertanyakan mengapa mendapat nilai buruk, mengapa bisa begini, mengapa bisa begitu. Dan jika kau bertanya pada orang tuamu tentang masalah itu, mungkin mereka akan menjawab: Semua orang pernah mengalami itu, jalani saja, inilah masa pendewasaanmu. Guru rohaniku, Pramoedya, bercerita dalam Bumi Manusia: Hidup bisa memberikan segalanya pada orang yang ingin dan pandai menerima.

Tidak ada manusia yang bodoh, kecuali mereka yang tidak mau belajar. Tidak ada orang yang gagal kecuali mereka yang tak lagi mau berusaha.


Dariku, pribadi yang apatis terhadap pemerintah, tapi tidak untuk keluarga.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Garis Takdir ; 5 Nov 2011

Kita sama-sama tahu: kita sedang berbicara tanpa berkata-kata. Pun kau dan aku mengerti: ini adalah sesuatu lain lagi dari pendewasaan diri. Rupanya memang manusia: tak berdaya sama sekali pada Yang Maha Membolak-balikkan Hati.

Seperti semua, segala, segenap, seluruh kegagalan. Tak lain adalah sebuah pemantasan diri, sebelum seseorang layak menjadi pemenang. Kau dan aku, adalah pelajar dari sekolah bernama kehidupan dengan kurikulum pendidikan hati.

Kita sedang menuju tujuan yang sama: ialah rumah kita. Dengan jalan yang berbeda: kau ke timur, aku ke barat. Dan teruslah berjalan hingga timur dan barat menjadi satu: perjalanan panjang melintasi separuh bumi.

Kau, wanita yang sejak jabang bayi telah kucintai. Percayalah: cinta kita akan menemukan garis takdirnya sendiri.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Yang Tertulis di Lauh Mahfudz ; 7 Oct 2011

Kepada wanita yang telah tertulis di Lauh Mahfudz

Apa kabar? Semoga selalu baik-baik saja. Aku pun di sini baik-baik saja. Meski terkadang beberapa waktu merindukanmu. Ya, merindukanmu. Meski kau dan aku belum pernah bertemu. Mungkin kau tertawa, bagaimana caraku mencintai dan merindukan seseorang. Termasuk kau, yang belum kukenal secara zahir, tapi lama kukenal di dalam batin. Coba bayangkan sejenak, saat-saat malaikat menulis kau sebagai jodohku dan aku sebagai kekasihmu, di Lauh Mahfudz. Dunia pertama yang kita huni sebelum dilahirkan ke bumi. Begitu penuh cinta. Bermula dari segumpal darah, lalu menjadi sekepal daging, kemudian diciptakan tangan, kaki, kepala, hati, mata, jantung, telinga. Sampai seluruh organ manusia kita punya, datang seorang malaikat. Yang mengucapkan salam, yang membawa catatan dan pena. Menuliskan cerita perjalanan hidupku di dunia, dan empat hal yang tak dapat ditukar dan tertukar: kelahiranku, kematianku, rizkyku dan kau. Begitu romantis, bukan? Ketika aku baru saja memiliki ruh, ketika aku hanya bisa menendang perut ibu, ketika aku hanya bisa diam saat malaikat menulis kisah hidupku, saat itu sudah diceritakan suatu saat nanti kita akan saling mencintai. Kau kekasihku dan aku kekasihmu.

Lalu kita dilahirkan pada ruang dan waktu yang berbeda. Dipisahkan untuk sementara.

Dan kita menjalani hidup yang berasingan. Mencintai orang yang berlainan. Sebelum waktu pertemukan kita pada sebuah jalan yang bersimpangan. Seperti sepasang rel kereta, kita adalah keduanya. Bersebelahan, tapi menjalani hidup yang berlainan. Dekat, tapi tak terikat. Kau pada hidupmu, dan aku pada duniaku. Menjalani kehidupan panjang, sampai pada akhirnya kita akan bertemu pada sebuah persimpangan, sebelum kereta kita berhenti di stasiun terakhir.

Mungkin kita belum pernah bertemu, mungkin pula kau adalah seseorang di masa lalu. Mungkin kau wanita yang tak sengaja kulihat di bis kota, mungkin kau wanita yang selalu mendengarkan aku bercerita, mungkin kau wanita yang selalu kudamba namun tak pernah kunyatakan cinta, dan mungkin pula kau wanita yang pernah mencintaiku dan memiliki sedikit kenangan manis tentang kita. Siapa pun dirimu, kekasih. Aku percaya, kita hanya dipisahkan sementara untuk belajar sebanyak-banyaknya tentang cinta, sebelum hidup pada satu rumah yang sama.

Tak usah khawatir kau akan kehilanganku. Seperti aku tak khawatir aku tak akan menemukanmu. Sebab kau tak mungkin tertukar, dan aku tak mungkin ditukar. Tugasku bukan mencarimu, tapi menshalihkan diriku. Tugasmu bukan menantiku, tapi mempersiapkan dirimu.

Baik-baiklah kau di sana. Belajarlah sebanyak-banyaknya. Persiapkan dirimu sematang-matangnya. Untuk hidup, cinta dan anak-anak kita.

Labels:

permalink | 1 comments (+)

« BACK