Kita Akan Melepaskan ; 19 Sept 2021

Suatu saat 

Esok nanti 

Mungkin lusa

Dua tahun lagi

Atau dasawarsa mendatang


Kita akan melepaskan


Cuma

Apakah kita adalah randa tapak yang jabang bayinya terbang tertiup angin

Atau kita adalah doa pukul dua malam yang melangit bersama air mata jatuh ditarik bumi

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Dua Muda (3) ; 10 Sept 2021

 Kamu masih ingat dulu?

.

Waktu kita kecil?

.

Ya

.

Kita selalu berbagi bekal?

.

Yang lain?

.

Kamu selalu butuh bantuanku di sekolah?

.

Sekarang pun

.

Nanti?

.

Kalau aku bilang iya, kamu percaya?

.

Memang tidak ada orang lain yang bisa bantu?

.

Aku cuma mau kamu

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Dua Muda (2) ;

Lampu temaram dan hujan, kesukaanmu kan

Melihat daun-daun basah, dan air hujan sesekali menjahilimu

Yang kamu bilang, kamu bisa tidur di teras semalaman jika hujan berjanji tetap turun sampai pagi

Jika itu yang terjadi, aku akan terjaga semalaman 

Untuk memastikan bulan yang iri itu tidak mencuri kamu dari aku

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Dua Muda ;

Cuma lampu taman

Dan daun pinus yang jatuh berserakan

Dikumpulkan oleh semut beriring

Di pojok sana, di balik semak-semak, jangkrik sedang gembira

Di atas sana, bulan sedang sempurna

Tapi yang paling kurasa adalah

Hembus nafasmu, wangi rambutmu, dan ceritamu yang selalu sama tapi aku tak bosan mendengarkannya








Labels:

permalink | 0 comments (+)

Aku Hanya Ingin Pulang ; 23 Oct 2014

Waktu yang semu itu pasti tahu,
Dulu, ketika aku kembali pulang pada suatu perjalanan, aku selalu merindukan tempat yang baru saja kukunjungi

Tapi tidak kali ini,
Aku selalu merindukan rumah ke mana pun aku pergi;
Kedua lenganmu yang menjatuhkanku pada dekapan paling utuh

Waktu yang tak pernah mau kompromi itu juga mengerti,
Pada masanya saat geloraku selalu ingin pergi, hal yang membuatku paling bahagia adalah memeluk alam bebas

Tapi tidak kali ini,
Sesuatu paling membahagiakan dalam perjalanan ke negeri impian sekalipun
Adalah waktu untuk pulang

Waktu yang tak pernah berhenti itu pun memahami kerinduan ini,
Ia berlalu dua jam lebih cepat di atas awan antara Narita dan Soekarno-Hatta

Ketika roda-roda burung besi menyentuh lagi tanah di bawah langit khatulistiwa, seisi pesawat ini mengeluh dan menolak kembali pada kenyataan;
Pada Indonesia yang belum lebih maju dari Jepang, tapi mereka lupa ini tanah kelahirannya

Barangkali hanya aku yang tersenyum dan paling bahagia kembali ke bumi Indonesia, kembali menemukan napasku seutuhnya
Karena manusia lain tak akan pernah mengerti,
Aku menahan pedih merindukanmu,
Setelah kekucup keningmu pada hari kepergianku

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Menahan Mati Merindumu ; 30 Jun 2013

Aku baru saja menemukan lagi, masa di mana aku begitu mencintaimu, sayangku
Ialah saat engkau ribuan kilo jauh dariku, dan aku menahan mati karena begitu merindumu


~
Tiba-tiba saja rindu dan kesepian datang ke kamarku
Membawa ingatan-ingatan tentang senyuman manis,
Dan tatapan mata yang teduh

Ingatan yang kemudian hilang oleh pohon-pohon yang bergoyang,
Pohon-pohon yang ditinggalkan burung terbang

Pohon yang selalu rela dalam mencintai apa saja
Dan mengajariku cara tulus mencinta 

Ia mengajarkanku untuk merelakanmu
Seperti pohon yang tak pernah menahan kepak sayap burung setiap kali ia ingin pergi

Ia mengajarkanku untuk menunggumu
Seperti pohon  yang tetap setia menanti burung kembali pulang tanpa bertanya kapan


Yang tak beranjak satu sentimeter pun, dari tempat ketika pohon melepas burung pergi
Seperti rasaku yang tak berubah sebentukpun, ketika aku melepasmu pergi

Seumpama itulah, sayangku, cara aku mencintaimu

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Pohon yang Setia Mencintai Udara ; 19 Jun 2013

Aku ingin jatuh cinta, seperti pohon yang setia mencintai udara
Dia akan tetap di sana, meski cuaca dan musim berubah-ubah

Aku akan tetap di sini, di sebelah kanan tubuhmu
Saat kau senang, sedih, bahagia, dan marah
Aku tak akan pergi, seperti pohon yang setia mencintai udara

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Sebab Terlahirnya Sebuah Telaga ; 18 Apr 2013

Ada gadis kecil yang menggenggam pensil warna di tangan kananya
Matanya berair, habis ditangisi oleh bocah laki sekolah sebelah
Lalu perlahan-lahan telaga terlahir di bola matanya

Ada angin yang tak sengaja berjalan melewatinya
Pelan-pelan mengusap pipinya dingin
Kemudian tercipta pohon-pohon cemara berdaun lebat
Dahan daunnya menadah dan menjuntai sampai ke bawah
Sampai ke bibirnya
Jika ia tersenyum, teduhlah itu neraka

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Belantara Cinta ; 4 Apr 2013

Ketika mereka yang jatuh cinta menghabiskan waktunya di gemerlap kota,
Kau dan aku sibuk mengeja rasa di kegelapan-kegelapan rimba

Ketika mereka yang jatuh cinta tertawa disinari cahaya lampu kota,
Kita berdua dengan rela dihujani pijar purnama, Kejora, dan juga Bintang Utara

Ketika seorang pemuda membawakan wanitanya sekuntum mawar merah muda di atas meja makan dengan lilin warna merah, aku akan membawamu ke taman bunga keabadian di balik bukit belantara, membawamu ke ladang bintang-gemintang yang bercerita tentang semesta cinta

Dan aku akan mengucapkan cinta kepadamu, sayangku, dengan pelukan yang tak akan pernah mampu dibahasakan oleh puisi sepanjang waktu

Membumi, merebah, menumbangkan ego kita kepada Tuhan pemilik semesta

Lalu ketika kau dan aku tengah merelakan diri menyatu dengan bumi, bertukar asa kemudian menerbangkannya ke langit malam, aku akan berkata;

Tahukah kau, manisku?
Aku sungguh tak ingin menjadi tua
Aku tak ingin hidup berpuluh tahun lamanya
Tanpa engkau ada di sampingku

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Puisi Afrilia Utami ; 24 Jan 2013

Ya Hayyu Ya Qoyyum 

aku ingin menceritakan padamu tentang satu kisah,
sangat sederharna dan pendek dalam lingkaran doa. 
hujan deras yang menggigil dengan tubuhnya

di depan nabawi, manusia bersujud begitu khusuk
memandang wajah Al-Aziz, dalam karunianya.

shubuh yang harau dipadati berkubik udara haru
seperti baru mengenal Rasull setelah hijrah panjang.
keriangan dan pertempuran saling bergantian
satu-satu jatuh, terbanting dari kuda, tumbuh pedang
yang menantang menembus batang nyali.

Laa ilaha ilallaahul ’azhiimul haliimu
laa ilaaha ilallahu rabuul ’arsyil ’azhiim,
laa ilaaha ilallaahu rabbussamaa waati
wa rabbul ardhi wa rabbal arsyil kariim


banyak dada memuntahkan getar
mengalahkan hujan dalam berandanya,
air yang tumpah karena dosa dan khilaf
akan ke manakan aku?

banyak hati mengeluarkan kata pembuka
menerima musim yang datang tiba-tiba
mendatangkan pertanyaan dan pernyataan
dengan islamku, aku merinduiMu..


Afrilia Utami, 24 Januari 2013

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Jati Diri ; 2 Dec 2012

Tiap manusia yang dilahirkan ke bumi itu tanpa jati diri
Tuhan sengaja memisahkannya agar manusia itu sendiri yang mencari
Diletakkannya jati diri itu di puncak gunung, di tengah laut, di belantara hutan, di air mata ibunya, di tengah-tengah dosanya, di sebatang rokok, di pedalaman hati seorang wanita, atau di penghujung usianya

Begitulah, agar manusia berpikir
Apa saja yang telah dilakukannya
Dan dengan rela hati, mau menerima takdirnya


Pinggir Jakarta, Nov 2012

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Yang Tidak Akan Pernah, Selamanya ; 21 Nov 2012



Berhenti mencintaimu itu seperti mencoba memisahkan Surya Kencana dengan kabut
Seperti berusaha melepas Edelweiss dari savana
Seperti, menunggu waktu kapan bunga abadi itu mati

Tak pernah. Tak akan pernah.
Selamanya.


Surya Kencana, Nov 2012

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Mary Elizabeth Frye ; 22 Oct 2012


“Do not stand at my grave and weep,
I am not there; I do not sleep.
I am a thousand winds that blow,
I am the diamond glints on snow,
I am the sun on ripened grain,
I am the gentle autumn rain.
When you awaken in the morning’s hush
I am the swift uplifting rush
Of quiet birds in circling flight.
I am the soft star-shine at night.
Do not stand at my grave and cry,
I am not there; I did not die.”

~ Mary Elizabeth Frye

via Harigelita

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Malaikat Penjaga Jatuh Cinta ; 31 Jan 2012

Padamu kupinta beribu maaf, puan yang paling perempuan,
Karna lancang kutulis cantikmu dalam puisi picisan, dari bukan pujangga yang pula tiruan
Walau kau, aku, dia, mereka dan dunia pun tahu,
Kau, adalah sajak yang tak mampu dirangkai puisi, puisi yang tak mampu dicipta ribuan pujangga
Karna kau puan, wanita bersenyum puisi, gadis berbola mata kejora
Sesekali boleh kau tengok bahu kananmu itu,
Dia, malaikat pencatat amal baikmu, bisa kau tuntut di pengadilan Tuhan
Karena melupakan segala kebaikan, karena terlena pada kecantikan
Dia buat puisi untukmu puan, bukan catat amal kebaikan
Dan boleh kau tengok bahu kirimu pula
Dia, Sang Atid pencatat keburukan, tak juga laksanakan pekerjaan
Dia, menulis cerita tentang malaikat penjaga yang jatuh cinta pada puannya
Menuliskan temannya dalam sastra tak tergapai akal manusia
Padahal ia cemburu buta! Cemburu buta pada Sang Rakib yang jatuh cinta

Kau percaya ceritaku, nona?
Jangan sekali kau percaya pada seseorang yang sedang jatuh cinta
Karena yang dikatakannya hanyalah buaian kata paling indah yang dimiliki manusia
Aku berkelakar, nona
Malaikat mana yang ingkar pada Tuhannya?
Itu hanya cerita,
Karena aku tak dapat lagi bandingkan cantikmu dengan kata-kata
Maka aku permainkan malaikat penjaga, agar mereka jatuh mencinta
Hanya agar kau tahu,
Cantikmu begitu memesona hingga malaikat pun bisa saja jatuh cinta

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Aku (tak) Menemukanmu ; 10 Jan 2012

Setelah hari itu, aku mencoba menghibur diri dengan pergi ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi orang-orang yang patah hati, yang biasa dikunjungi oleh jiwa-jiwa yang menderita penyakit tak kasat mata, yang adanya di dada, sebelah kiri, jauh ke dalam, dan lebih dalam lagi

Tempat-tempat yang barangkali bisa menyembuhkan cedera tak tertangguhkan yang pernah diderita hati manusia, rasa pembuat galau manusia kebanyakan

Bukan, bukan laut, tidak pula puncak gunung, apa lagi padang gurun

Melainkan tempat paling nyaman yang pernah diciptakan manusia, yang terletak di antara kedua tangan: ialah dekapan

Tapi aku tak menemukanmu di sana


Tempat lain lagi adalah ruang yang tak kalah menenangkan, ia lebih hangat dari pelukan, karena letaknya tersembunyi di balik peluk, berada di dalam rongga dada: itulah hati manusia

Bukan sembarang hati, tapi rumah yang cukup nyaman untuk bisa kusinggahi, rumah seorang lain lagi yang kupikir memiliki pribadi putih, dan kukira bisa menelurkan sebutir bahagia dari segenggam luka

Namun aku salah

Aku tak menemukanmu di sana


Masih adakah tempat lain? Barangkali masih, jika saja aku mencoba melawan takdir ruang dan waktu: masa depan, sayangnya aku bukan ilmuwan, bukan pula ahli sihir yang katanya mampu melihat masa datang, sebagai manusia biasa aku hanya bisa berjalan-jalan ke masa lalu, menjenguk kenang-kenangan yang seharusnya tak kukenang

Ya, tak seharusnya kukenang

Karena aku hanya menemukan kepingan-kepinganmu yang tak utuh, serpihan jiwa yang sebenarnya sedang menjalani aktivitasnya di dunia nyata yang kau sebut realita, kepingan-kepinganmu yang menyerpih seperti bulu-bulu bambu, seperti pecahan-pecahan kaca yang hanya membuatku terluka bila aku menyentuhnya

Kembali, aku tak menemukanmu di sana


Hingga akhirnya aku memilih luka ini untuk sembuh sendiri, biar ia dikeringkan oleh detik-detik yang berubah menit, menit-menit yang berubah jam, jam berubah hari, berubah minggu, berubah bulan, bersamaan dengan bertemunya aku dengan orang-orang baru yang tak mengenalmu, yang membuatku benar-benar sembuh dari luka itu

Orang-orang yang beberapa kuanggap teman, beberapa kuanggap kawan, beberapa kukatakan sayang, beberapa kukatakan cinta

Yang pada akhirnya, tetap, aku tak menemukanmu di sana


Hingga akhirnya aku kembali pada hatiku sendiri, membawa pulang pelajaran dari perjalanan yang tak menghasilkan apa-apa, kecuali sebuah penyadaran diri yang selama ini tak kumengerti: engkau tak pernah pergi

Aku menemukanmu, di sini, di hatiku sendiri

Labels:

permalink | 1 comments (+)

Rasa yang Tak Terkata ; 7 Jan 2012

Ada tutur yang melebur pada udara
Begitu saja
Saat dua pasang mata bola saling bertatapan, kemudian dua kepal hati bertautan

Ada rasa yang tak terkata di dalam dada
Enggan bersuara
Ketika kenangan berlarian ke masa depan, membawa rasa yang dititipkan pada hujan

Rasa ini seperti peluk
Tak perlu ditafsirkan seperti mufasir yang membahasakan wahyu Tuhan
Seperti air mata
Yang tak perlu kau bicara namun sudah terkata di dalam dada

Tentang suara hati ini
Cukuplah kau dan aku menjadi saksi
Dan Tuhan yang mengawasi

Karena
Terkadang memang ada hal-hal yang tak perlu dipertanyakan dan tak harus memiliki jawaban
Hal yang hanya perlu dimengerti oleh perasaan
Seperti manisnya kenangan

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Musuh Terbesar ; 5 Nov 2011

Aku pernah bermimpi menjadi seorang Tuan

Di dalamnya aku memiliki beberapa orang hamba: yang menanak makanan, yang memanggilku Tuan, yang menyiapkan segala keperluan dan yang perkasa memberikan perlindungan

Suatu waktu, ada seseorang yang datang ke istanaku

Dia bilang ia bukan kawan, hendak melawan

Kemudian kupersilakan para hamba pengawalku untuk memberinya pelajaran

Hebat, puluhan ajudan itu tiada yang wijaya dibuatnya

Kata salah satu di antara mereka, “Orang itu tak bisa dikalahkan, dialah musuh terbesar Tuan”

Aku geram, keluar istana hendak menghadapinya seperti ingin menaklukkan malam

Namun dayaku ketika ada di hadapannya hilang bak cahaya matahari tenggelam

Dia, tak ada beda, tiada lain, persis serupa, tanpa suatu cela: adalah diriku sendiri

Labels:

permalink | 0 comments (+)

LUAP CINTA DALAM DOA ; 4 Oct 2011

Aku kecanduan cinta,
Cinta yang melulu desahkan Kau dalam detakku
Tiada Tuhan Selain Allah, penguasa singgasana semesta
Aku kecanduan cinta,
Cinta yang menderaskan sekujur kelenjar tubuhku merapalkan asmaMU
Tiada Tuhan Selain Allah, Maha Suci Engkau Tuhan para malaikat dan ruh
Aku kecanduan cinta,
Cinta yang memabukkan malam-malamku, mencakar-cakar hening tiap kuhamburkan aduh ke ribaMu
Tiada Tuhan Selain Allah, Dzat yang menggenggam segala maksud

Aku kerasukan cinta
Aku ingin terus dirasuki cinta
Kita harus lekat
Sebelum tungku semesta tak cuma bakar hasrat, lelehkan keringat
Sebelum ubun-ubun dan kepastian menjadi begitu dekat
Aku kerasukan cinta
Cinta yang terus lafaskan Kaf Ha Ya Ain Sad, Ha Mim Ain Sin Qaf
Aku tak ingin berpaling dari merinduMu, Aku tak ingin sebatang kara ,terbiar hilang arah
Aku tak ingin menganiaya diri terputus cinta olehMu
Aku kerasukan cinta
Melalui hak kalimat LA ILAHA ILLALLAH serta rahasia disebaliknya. Dengan hak Arasy kerajaanMu yang gemerlap. Dan hak kalam dengan ilmu dan kebijaksanaannya yang terus nyala tak kenal padam. Dengan hak pengawasan Lauf Mahfudh yang jeli. Dengan hak penimbang neraca mizan yang tak timpang. Dengan hak titian Sirathal Mustaqim yang lembut berayun. Dengan hak Jibril dan sifat tepercayanya. Dengan hak Mikail dengan sifat kasih-sayangnya. Dengan hak Israfil dan tiupan sangkakalanya. Dengan hak Izrail dan tugasnya mencabut nyawa. Dengan hak Ridwan sang penjaga surga dan Malik pengawas gerbang neraka.
Aku racaukan cinta...
Cinta yang menghidupkan dan mematikanku,mula dan khatam tentangku
Tiada Tuhan selain Allah, Dzat pencipta gulita dan cahaya
Aku kerasukan cinta
Cinta yang menghuni jasad dan mengawal ruhku
Tiada Tuhan selain Allah, yang menunjuk Daud sebagai khalifahNya
Tiada Tuhan selain Allah, yang mengizinkan Musa berbicara padaNya
Tiada Tuhan selain Allah, yang meniupkan ruh Isa dan segala mukjizatnya
Tiada Tuhan selain Allah, yang memilih Muhammad jadi utusan dan pemegang syafaatNya


Aku kecanduan cinta
Cinta tanpa sisi dan kisi, tanpa sekat atau tamat
Tiada Tuhan selain Allah, Dzat pemberi kurnia
Yang mengamanatkan Zabur, Taurat, Injil dan Qur’an
Aku leleh dalam kobar cintaMU
Aku tekuklutut pada keramat pesonaMu
Aku kecanduan cinta, Aku kerasukan cinta
Cinta Sang Maha Penyinta
Kau hidup dalam cintaku, Cinta dalam hidupku
Ya Rahmaaaaaaan......


Shah Alam, 20 September 2011
Nuthayla Anwar


nb. Nuthayla Anwar, adalah penyair wanita favorit saya, yang juga merupakan seorang kakak dari perguruan tinggi tempatku belajar, puisi-puisi cinta Illahi yang ia tulis selalu mampu membuat hatiku gemetar hebat karena ia menulis kekuasaanNYA dalam puisi ciptaannya.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

.... ; 1 Oct 2011

Kau baik-baik saja?
Bicaralah....

Aku ingin mengobrol malam ini,
Pasti banyak hal yang ingin kau ceritakan, aku pun....

Hei....
Kenapa kau diam saja?

Kau yang selalu mengajarkan aku bertahan,
Kau pula yang mengajarkan kedewasaan....

...
....

Lihat, aku baik-baik saja, seperti halnya kau, ya kan?
Kumohon, bicaralah....

...
....

...
....

...
....

Hati, bicaralah!

Labels:

permalink | 0 comments (+)

Cara Terdalam Mencintai Seseorang ; 7 Aug 2011

Ketika mencintai, ketika dicintai, dimengerti atau tidak, dua diantara hati manusia saling berbagi memiliki

Terkadang, cinta jatuh pada hati yang takut akan kehilangan; rasa yang tiada pernah tidak ada, walau hanya sebuah rasa yang belia

Hingga pada akhirnya, menjaga adalah salah satu cara agar cinta tidak binasa

Namun terkadang manusia, lupa bahwa ia tidak memiliki apa-apa; lupa bahwa dia, dunia, beserta isinya hanya sementara; dan meminta, jangan ambil apa yang ia tidak punya

Hingga tak hanya menjaga: ia mengekang, mengenggam, mencengkram cinta hingga kram lalu karam

Sekepal pasir, semakin digenggam semakin membikin ia berlari seperti air menuju hilir; sekepal hati, dititipi bukan untuk dilukai, bukan untuk digenggam sangat erat hingga ia tersakiti

Atau ia akan terluka, dan sang empu-n(N)ya hati memintanya kembali; hingga manusia harus melepaskan apa yang ia cintai, merelakan apa yang ia (pikir ia) pernah miliki

Dan pada saat itulah, Tuhan mungkin berharap agar manusia pintar belajar pada waktu, pada kehidupan atau pada seseorang

Untuk mencintai seseorang secara sederhana, hingga saat kehilangannya, dunia tidak terasa hancur secara tiba-tiba

Dan bahwasanya [darimu aku belajar] cara terdalam mencintai seseorang, ialah melepaskan

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK