Balada Wartawan Bayaran; Mafia Media Massa ; 5 Mar 2014
Suatu ketika di negeri para koruptor, tersebutlah tiga orang pekerja media yang sedang senang-senang berbincang di sebuah meja kafe tempat ngopi para eksekutif. Boy, ia seorang reporter dari salah satu harian ternama di negeri para koruptor, mengumpat para anggota dewan yang telah akrab menjadi kawan. “Anjing itu anggota dewan. Korupsinya gila-gilaan, rumah mewah tiga, mobil balapnya dua puluh,” cerca Boy kepada asap rokok yang dilontarkannya ke udara di depan wajah. Boy meminum kopi hitam pahit; espresso.
“Terus, lo tulis itu koruptor?” tanya Joko, seorang kordinator lapangan (korlap) khusus mengurus perkara suap menyuap. Siapa yang disuap? Wartawan! Ia menghirup capuccino yang choco granule di atas krim bergambar pistol. Ia juga seorang wartawan, yang tak jelas apa medianya. Di negeri para koruptor, seorang diri pun mendirikan media itu sah-sah saja. Asal berpihak pada uang haram.
“Ya enggaklah. Kan gue dijamin sama doi,” Boy melepas tawanya membumbung ke udara. Bersama asap rokok kretek dan aroma kopi pahit. Jaminan koruptor itu kepada Boy, sebagian kecilnya digunakan untuk mentraktir dua orang temannya minum kopi di kedai kopi mahal.
“Lo ngapain sih, bos? Sibuk amat.” Boy gemas seorang kawan seperjuangannya, seperjuangan mencari uang suap, tak ikut tertawa dengan hal tak lucu yang baru saja ia tertawakan. Rosi, ia memesan kopi tubruk. Tapi belum disentuh sepinggir cangkir pun karena dirinya masih sibuk dengan BlackBerry di tangannya.
“Bentar, ini anak buah gua bego banget. Gua suruh dateng liputan peluncuran henpon dia malah alesan sakit, gua lagi marah-marahin dia,” kata Rosi sang redaktur sebuah media online di negeri para koruptor.
“Berapaan sih itu jaleannya? Sampe satu ton?” tanya Joko kepada Rosi.
“Nggak lah, cuma lima literan aja.”
“Alah cuma segitu, masih aja lo mainin? Itu mah kelasnya recehan.”
“Lumayan, bos. Selain lima liter masuk rekening gua, plus dikasih hape yang dilaunching buat gua.”
Bagi Kau yang tak paham pembicaraan dua wartawan sogokan di atas, biar aku berikan kamusnya. Liter yang dimaksud adalah bilangan dalam ratusan ribu. Dan satuan ton berarti juta. Semua dalam rupiah. Mata uang negeri tetangga yang sangat berarti dipergunakan di negeri para koruptor. Dan yang dibicarakan di sini adalah Jale, atau plesetan dari kata Jelas, yang memiliki arti sebagai kejelasan sebuah nominal rupiah yang dijanjikan apabila sebuah isu dinaikkan ke suatu media massa. Ya, di negeri para koruptor, yang kebanyakan orang-orang hidup hanya untuk uang, semua orang bisa dibayar. Termasuk media massa yang katanya merupakan salah satu pilar demokrasi, dan katanya sebagai tempat yang berpihak kepada masyarakat banyak, yang berpihak kepada kebenaran. Di negeri para koruptor, pekerja media massa mudah dibayar untuk menaikkan isu yang tak berisi namun berarti bagi perusahaan bisnis untuk menjatuhkan para rivalnya.
Rosi, adalah wartawan sogokan yang memiliki kekuasaan lebih sebagai redaktur. Dengan posisinya sebagai atasan para reporter, ia bebas menugaskan wartawan bawahannya untuk meliput acara-acara perusahaan yang mau memberikan bayaran asal beritanya naik di media. Simpelnya, Rosi hanya tinggal perintah, bersantai-santai di kantor sementara reporternya turun ke jalan melakukan liputan hingga membuat berita, setelah berita naik Rosi hanya tinggal menikmati uang haram mengalir ke rekeningnya tanpa ia bersusah payah. Sekali naik satu berita Rosi biasa mendapat lima liter, alias lima ratus ribu rupiah. Sementara dalam satu minggu ia bisa mendapat pesanan empat berita dengan masing-masing berita dihargai lima liter. Coba hitung berapa yang akan ia dapat jika sebulan ada empat minggu, yang di tiap minggunya Rosi mendapat pesanan empat berita masing-masing seharga lima liter. Delapan ton, alias delapan juta. Bagi Rosi yang hanya mendapat gaji sebesar tiga jutaan di kantornya, jumlah itu sudah lebih dari lumayan untuk menambah biaya untuk membeli beras untuk keluarga, membeli susu untuk anak-anaknya, dan sebagian disisihkan untuk orang tua. Jangan anggap Aku berbohong. Ini nyata di negeri para koruptor.
Sedangkan Joko, adalah koordinator lapangan khusus membagi-bagikan uang jale kepada wartawan lain. Ia kerap jadi tangan kananya Rosi untuk bertugas mencari uang di lapangan. Jika ada liputan yang sudah jelas kejelasannya, Joko pasti dicari-cari oleh wartawan lain. Karena uang dari liputan berbayar itu terkumpul di genggamannya.
“Boy, ada acara nih, diskusi tentang anti politik uang jelang pemilu. Dateng aja lu, nanti gua suruh reporter gua juga dateng deh,” kata Rosi tiba-tiba.
“A1 gak?”
“Tenang, udah di-listing. Lu masuk dalam list,” Rosi dengan gaya bossy menghirup kopi tubruknya dengan ketentraman akan banyak uang. Uang sogokan.
“Gue sekarang cuma mau liputan A1, atau gak listing yang ada nama gue. Males kalo A3,” Boy tak menghirup kopinya. Karena hanya tinggal cangkir yang sekarang ia jadikan asbak abu rokok.
Kode apalagi ini? Barangkali Kau bertanya. Biar kujelaskan, A1 itu tentang kepastian, A3 itu melulu tanda tanya, dan Listing adalah daftar khusus nama penerima bayaran.
“Isu pesenan dari perusahaan telko itu udah lo mainin belom, bos?” tanya Joko setelah menghirup capuccino-nya.
“Udah, itu gua running terus beritanya. Paketan dia itu mintanya dua minggu, bener-bener ngancurin pesaingnya itu,” jawab sang redaktur pencari kejelasan. Aku percaya, jika saja ia memiliki kuasa lebih besar dan lebih tinggi, sebagai wakil rakyat misalnya, ia pasti sudah korupsi besar-besaran.
“Pimred lo gak tau kan?”
“Pimred gua kan tolol, anak buahnya pada naikin isu pesenan yang bayarannya gede, doi gak tau.”
Joko tertawa hingga kepalanya menengadah ke langit-langit. “Pimred lo itu, di mana-mana isu pesenan yang dinaikin ke media itu dipegang sama pimred. Ini malah sama lo, redaktur doang, dan lebih parahnya lagi pimred lo gatau lo maen kotor.”
“Gua maen kotor, sama juga kaya lu.”
Boy menyulut batang rokok ke dua. Dalam mulut yang terselip gulungan tembakau itu, ia berbicara seperti sedang berkumur-kumur. “Ngomong-ngomong, kisah Jilbab Hitam yang menyeruak di media itu lo pada percaya gak?”
Kini Rosi yang terbahak. Tawa khas penguasa berperut buncit karena memakan uang sogokan. “Lah lu bukannya sosok yang diceritain Jilbab Hitam? Wartawan bayaran, cuma lu main recehan dan gak pake jilbab.”
“Jing, apalagi elo. Redaktur yang ngibulin pimred dan orang satu negeri lewat berita bayaran. Dan parahnya lagi tuh duit haram lo kasih makan buat anak bini serta nyokap lo.”
***
Di sebuah rumah sederhana yang diisi oleh nenek, mantu, dan cucu, yang tak tahu menahu sebuah perkara apa-apa, tiba-tiba terkejut pada kejadian. Si cucu yang tengah ikut-ikutan sang mantu mengiris daun kangkung, tangannya terluka oleh pisau. Bukan darah yang keluar dari jarinya yang tergores pisau dapur. Tapi uang kertas rupiah yang berlumut dan berjamur. Yang kemudian uang tersebut menjadi panas dan terbakar.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
The Quran That Seldom Rest ; 15 Oct 2011
Aku sedang membuka-buka kenangan lama waktu itu. Di lantai teras belakang rumah. Aku dengan sekotak dus lumayan besar berisi buku-buku, membuka-buka masa lalu. Seperti halnya sebuah kenangan, ia sudah lusuh, berdebu, rapuh dan tak tersentuh.
Aku menemukan dus lumayan besar itu di kamar ibu. Di dalam lemari tempat menggantung kemeja, jas dan pakaian lainnya yang tak dilipat. Di bawahnya. Bersama dus-dus kotak sepatu yang isinya bukan sepatu dan tas-tas yang tak lagi dipakai ibu. Isinya, hanya buku-buku.
Ada yang tebal, tipis dan sedang. Buku pengembangan diri terkenal, novel dan kamus jepang. Satu buku yang menarik mataku lebih kuat dari gravitasi bumi adalah sebuah yang cantik. Berwarna ungu dengan motif kembang-kembang. Hard cover, berisi tak terlalu tipis juga tak begitu tebal dengan warna kertas yang menguning seperti perkamen tua. Dan yang terpenting dari daya tarik melebihi gravitasi, buku itu harum. Entah, yang kutahu pasti harum itu bukan dari parfum. Tak mungkin racikan wewangian tangan manusia bisa bertahan begitu lama selama bertahun-tahun. Ya, itu sebuah diary.
Naluri keingintahuan manusia membuatku mengangkat diary itu dari tempatnya dan menyapukan debu yang selama ini menyelimutinya. Tak di selatan tak di utara, manusia mana pun pasti tertarik pada sebuah diary seseorang yang dekat dengannya. Terlebih seseorang itu telah tiada.
Aku membolak-balikan catatan tua nan harum itu. Sekadar memeriksa sampulnya yang tiada cacat. Tak terlihat seperti buku puluhan tahun. Ingin rasanya segera membuka dan membaca lembar demi lembar, tapi kutahan keingintahuanku sejenak. Sekali tarikan napas, tak cukup. Dua kali, sampai tiga kali baru aku berani menyentuh pinggir buku itu. Hanya menyentuh. Meski aku ingin sekali mengetahui cerita tentang ibu yang tak pernah kukenal. Yang amat sangat dicintai ayah yang mungkin baru saja bertemu kembali dengan ibu di surga.
Akhirnya kubuka. Tapi entah, kebiasaanku membaca koran dari halaman terakhir turut andil dalam membaca diary ini. Aku membukanya dari halaman belakang. Dan tak kusangka, ibu telah sampai menulis pada halaman terakhir diary-nya. Awalnya kupikir ia rajin menulis, tapi ternyata ia melompat setengah buku hanya untuk menulis di halaman terakhir. Di sana tertulis:
Allah… lama aku tak membuka dan menulis lembaran hidupku. Kubaca, semua tentang putus cinta dan putus asa saat muda. Kekecewaanku saja. Yang kutangisi, bukan melulu tentang cerita dukaku. Tapi betapa aku tak pernah mensyukuri hidup yang Kau beri. Allah, ampuni aku… Sesuatu bergetar dalam dadaku. Melihat sebuah Asma yang menciptakanku dalam diary ibu, aku teringat sesuatu tentang cerita ayah yang selalu diulang dan tak ada habisnya. Mataku kembali pada dus lumayan besar itu lagi. Dan mendapatkan sesuatu yang memiliki gravitasi dua puluh kali dari bumi. Lebih dari tertarikku pada diary tua yang tetap muda: rapi, indah tiada cela. Sebuah Al Qur’an lusuh, berdebu, rapuh. Hard cover bertuliskan Allah dalam kaligrafi arab itu sudah hampir tak memiliki tenaga untuk melindungi. Robek di tepi, terkelupas di sana-sini. Kertasnya tak lagi kuning tapi kecoklatan berselimutkan debu tipis. Tak menempel, hampir semua halamannya copot dari pangkal cover. Lebih tepat disebut mushaf yang berupa lembaran-lembaran. Dan halamannya banyak yang keriting bekas tetesan-tetesan air. Aku meletakkan diary ibu dan menimang Qur’an itu sangat hati-hati. Menatapnya lekat-lekat dan dalam-dalam. Sampai tak sadar Al Qur’an itu kembali segar dengan setetes air mataku yang tak sengaja jatuh.
Jadi ini cerita ayah tentang Al Qur’an yang Jarang Istirahat?
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
“Jika Kau Pintar Kau Akan Mengerti Isi Pesan Ini” ; 10 Oct 2011
“Jadi aku bodoh kalau aku tidak bisa membaca isi pesan ini?”
“Kau sendiri yang bilang begitu, bukan aku. Padahal belum tentu kau bodoh, bisa saja belum pintar, tidak terlalu pintar atau tidak begitu mengerti.”
Si pemuda bersemangat api memutar isi kepalanya. Berpikir mengenai makna dari kata yang baru saja terlontar untuknya. Ia merasa sudah cukup hebat sebelumnya, namun di hadapan orang tua itu ia bak pemuda kampung sombong yang belum mengenal eropa, afrika dan amerika.
“Kau ini, semangatmu boleh berapi-api, aksimu boleh kau perlihatkan dan dilihat orang-orang, pemikiranmu boleh mengkritisi sesuatu. Tapi tolong isi dulu itu semua dengan ilmu.”
“Sudah. Aku sudah punya cukup ilmu untuk mendebatmu!”
“Itu menurutmu, coba kau lihat dunia di luar sana. Yang tadi kau ucapkan kau sudah punya cukup ilmu akan berubah seperti kutu. Orang-orang bukan cuma di kampungmu saja, di kotamu saja, bukan cuma di negaramu saja.”
Pemuda itu merasa tertindas, terkucilkan. Ia terus memikirkan sesuatu, entah itu kata-kata, gagasan, ide atau bahkan kekuatan fisik kalau otaknya sudah tak mampu lagi bekerja. Namun ia tetap menahan emosinya.
“Lihat, aku sudah bisa membuat media!”
“Hah, kau cuma mencuri ilmu dari bom lain untuk membuat suatu bom. Sedang kau sendiri tak tahu itu bagaimana caranya membuatnya. Kau cuma bisa memerintah dan mengendalikan dengan kekuasaanmu. Berharap kau bisa mengubah sesuatu, tentu dengan motivasimu tersendiri di balik itu.”
Pemuda itu memandang sebuah bom canggih hasil ciptaannya. Lebih tepat dibilang hasil jiplakkannya. Ia mencuri bahan-bahan pembuat bom itu dari pencipta bom lain yang sudah lama diakui dan lebih pintar darinya. Bom luar biasa, sebuah media yang akan membantunya menghancurkan kekuasaan raja yang lalim.
“Tak bisa kah kau menghargai karyaku sedikit? Aku sudah membuatnya, beberapa langkah lebih di depan dari orang yang tidak bisa membuat media atau diam saja membiarkan hidup orang-orang dalam pengkhianatan diam-diam raja lalim itu!”
“Yah, kau cukup cerdik karena sudah bisa membuat media.”
“Nah!”
“Tapi, tidak di barat tidak di timur, seseorang yang ingin mendapatkan sesuatu memang selalu cerdik. Lihat saja koruptor, kalau mereka bodoh, mereka sudah ditangkap tanpa bisa ia nikmati harta haramnya itu.”
Ia kembali menundukkan kepala. Mengerutkan kening, menautkan alis. Kini otaknya tak lagi berputar, tapi terpelintir seperti pakaian basah diperas hingga kering. Masih memikirkan cara untuk bisa menaklukkan orang tua di hadapannya.
“Tapi lihat, aku tidak diam saja. Aku sudah berusaha membuat suatu media untuk menghancurkan raja lalim itu. Lihat! Sekali tembak binasalah mereka!”
“Hei, nak. Kau tahu orang pemberani itu hanya sedikit bedanya dengan orang bodoh? Tentara pemberani bisa maju kapan saja melawan musuh yang menyerangnya, meski ia tahu lawannya lebih banyak darinya, ia tetap maju. Tapi ia mati. Bodoh atau berani menurutmu? Perang itu tak hanya menggunakan otot, tapi juga otak! Kalau mau menyerang jangan grasak-grusuk, sangat terlihat kualitas dirimu sampai dimana bila seperti itu. Menyelinaplah dengan halus, dan bunuh diam-diam lawanmu bahkan ia sendiri pun tak tahu ia sedang dibunuh. Pintarlah, nak!”
Pemuda itu merasa sangat kecil, merasa sangat bodoh. Dia dan media yang dibuatnya dengan mencuri dari bahan-bahan media orang lain sedang diperolok oleh orang tua. Orang tua yang katanya bila seribu hanya bisa memindahkan gunung saja. Sedang sepuluh pemuda seperti dirinya bisa mengguncang dunia! Tapi si pengguncang dunia tak bisa apa-apa di hadapan pemindah gunung. Tentu saja, bila si pengguncang dunia tak berilmu.
“Lihat dirimu nak, tubuhmu, kulitmu, antenamu, gigi taringmu. Compang-camping tak berdaya. Semangatmu sudah terlalu banyak kau buang pada hal-hal yang tak berguna. Bagaimana orang lain mau percaya orang sepertimu bisa mengubah negeri, sedang untuk dirimu sendiri kau tak peduli!”
Pemuda itu tak bisa berbicara lagi. Hanya diam mendengarkan nasehat orang tua. Diam merenung.
“Tak usah terlalu jauh mengambil contoh, lihat seberapa pintar kau tak menyia-nyiakan penderitaan ratumu melahirkanmu. Kau diberi pendidikan untuk belajar mencari makan, tapi kau lalaikan dengan bermain-main tanpa merasa punya dosa. Semut seperti inikah yang dibilang berpikiran kritis untuk mengubah dunia dengan menghancurkan raja belalang yang lalim? Hah?”
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Sepandang Cinta Alami Tanpa Pengawet ; 21 Aug 2011
Sudah bisa kuhitung jari berapa kali aku mampir di tempat ini. Empat, lima, enam dan ini yang ketujuh. Ada sesuatu di rumah makan ini yang membuatku kembali lagi dan lagi. Makanannya lumayan tepat di lidah, tapi bukan itu yang menjadi alasan. Dari pertama kali mampir baru sekalinya aku memesan makan. Selebihnya hanya camilan dan secangkir Cappuccino, teman favoritku menumpang online di tempat ini. Hotspot gratisan adalah salah satu kelebihan yang membuatku betah berlama-lama dan kembali ke rumah makan ini. Tapi bukan itu pula alasanku untuk kembali. Sesuatu itu lebih manis dari secangkir Cappuccino yang hanya seujung kuku.
Rumah makan ini cukup nyaman dan unik menurutku. Perabotan, bahan bangunan dan hiasan di sini sebagian lebih dari barang-barang bekas yang didaur ulang. Sampah-sampah ini diolah dan kembali menjadi sesuatu yang berharga. Bahkan mungkin lebih cantik setelah didaur ulang daripada bentuk orisinilnya. Kreatif. Tepat seperti tangan-tangan orang Jepang. Entah barang-barang ini dibeli dari toko di Indonesia atau hasil perburuan sang pemilik rumah makan di negeri matahari sana. Atau malah semua perabot ini hasil karya sendiri? Bisa saja. Bila si pemilik mempunyai pola pikir seperti orang Jepang, atau setidaknya pernah tinggal beberapa lama di sana. Tapi masih bukan itu yang membuatku tertarik. Ada yang lebih unik.
Lain lagi hal yang kusuka, dan memiliki kesamaan denganku adalah foto. Tak ada dinding yang terlalu kosong untuk diisi sebuah bingkai foto. Dimana ada tembok tak terisi, disitu terpajang karya jepretan entah siapa yang seirama. Walau ada beberapa dinding yang tak terlalu kosong hanya untuk mengatur komposisi. Semua foto hitam putih. Dengan ukuran bermacam-macam, dengan bingkai yang seirama. Apa saja. Berbagai tema terpampang namun lebih banyak foto diam-diam. Tak ada foto panorama –tentu saja tidak, semua foto ini berwarna hitam putih-, tak ada foto yang direncanakan, semua foto ini bercerita. Seperti mata sang fotografer yang merekam hal-hal manis yang tak ingin ia lupakan. Dan lebih banyak foto manusia, lengkap dengan perasaan subjek foto yang ikut terrekam. Juga lebih banyak lagi tentang sepasang manusia, pria dan wanita. Kekasih mungkin. Tapi tak satu pun aku melihat pasangan muda-mudi. Hanya pria dan wanita paruh baya, kakek nenek dan anak laki-laki dan perempuan. Mungkin ia ingin bercerita tentang cinta yang muda dan senja. Lumayan.
Walau tak besar, rumah makan ini memiliki ruangan di luar bagi siapa saja yang ingin merokok. Aku tak merokok, tapi lebih suka menghabiskan Cappuccino dan waktuku di luar. Dari sini aku bisa melihat jelas keadaan di dalam dari kaca transparan itu. Orang-orang yang makan di dalam, tv flat siaran internasional, sang ibu pemilik yang selalu di meja kasir, dan terkadang suaminya duduk tak jauh dari meja kasir menghabiskan waktunya membaca buku sambil menunggu waktu shalat. Usia mereka sudah pasti lebih setengah abad, entah tepatnya berapa.
Seorang wanita datang. Kami beradu pandang dan ia lemparkan senyum padaku, kemudian masuk dengan terburu-buru. Menuju meja kasir dan meraih tangan ibu pemilik rumah makan, menciumnya. Dia Nadya, anak dari pemilik rumah makan. Wanita lumayan tomboy yang kupikir usianya tak ada beda denganku. Sepertinya sehabis pulang dari kantor yang aku belum berhasil menebak pekerjaannya. Ia memakai kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak yang dibiarkan tak terkancing. Lengan kemejanya digulung hingga siku. Jeans, sepatu kets dan ransel. Pasti bukan pegawai kantoran.
Ia duduk di tempat ayahnya biasa duduk. Mengeluarkan semua isi ranselnya seperti mencari sesuatu. Kamera, laptop, buku catatan, id card. Ah, wartawan! Kenapa baru terpikir olehku. Dan pasti dirinya juga sang fotografer yang sudah seperti memiliki galeri sendiri di sini. Ayahnya turun dari tangga di belakang meja kasir. Habis shalat kukira, lantai atas adalah mushala. Dyana meraih tangan ayahnya dan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada ibunya. Mereka berbincang, entah apa. Kemudian ibu pemilik rumah makan juga ikut bergabung bersama mereka. Ah, Dahlia!
***
“Umar.”
“Hmm…”
“Kenapa kita selalu makan di tempat ini? Hari yang selalu sama, jam yang selalu sama?”
Aku tersenyum. Kemudian kupandangi wajah Dahlia lekat-lekat. Tenggelam di bola matanya dalam-dalam. Dan senyumku makin lebar memandang cantiknya.
PLAK!
Begitu saja. Semudah itu ia menjatuhkan telapak tangan di pipiku. Kemudian wajahnya, ah, wanita selalu nampak lebih cantik apabila sedang marah. Mampu membuatku tersenyum kembali.
PLAK!
“Jawab!” semudah itu pula ia mendaratkan telapak tangan di lain pipi!
“Hhh.. belum menyadarikah kamu maksud aku selalu mengajakmu makan di sini?”
Ia menggeleng.
“Kalau begitu kamu gak pantes jadi jurnalis investigasi.”
Tangannya mengambil ancang-ancang! “Eitt! Piss, iya! Masih ingat gak jawaban kamu waktu aku mencoba mengajakmu menikah? Kita masih terlalu muda, kamu masih perlu belajar apa itu cinta sebenarnya dan bagaimana seharusnya berumahtangga. Ya kan? Sekarang coba kamu lihat itu.”
Aku menunjuk ibu pemilik rumah makan yang sedang memakaikan jam pada tangan suaminya. Tangan lelaki itu masih basah dengan air wudhu. Kemudian sang istri pergi, dan kembali lagi dengan segelas air putih serta sepotong bolu pisang. Duduk di samping suaminya, menemani ia membaca buku walau hanya dengan diam.
“Pemandangan seperti ini tak akan kau dapatkan di rumah makan lain, Dahlia. Sesuatu yang membuatku kembali lagi dan lagi ke rumah makan ini. Lihat lagi mereka.”
Nadya turun dari lantai atas. Duduk dan berbincang bersama orang tuanya. Tawa tanpa suara yang kami dengar pecah di sana. Nadya cepat-cepat merogoh kamera lalu memotret ayah dan ibunya diam-diam. Ah, ayahnya terlalu sadar kamera. Ia meminta Nadya memotret mereka sekali lagi dengan pose siap difoto. Pria senja itu merangkul kekasihnya, lalu mencium keningnya sesaat sebelum jendela rana terbuka kemudian tertutup. KLIK! Kemudian mereka kembali tertawa.
“Jika rambutku sudah memutih seperti bapak itu, mungkin aku juga akan mencintaimu seperti ia mencintai isitrinya, bahkan lebih.” dan aku mencium kening kekasihku.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Dreamer’s Love Triangle ; 8 Aug 2011
Jarak biasa menjadi pencipta rindu bagi sepasang manusia yang hatinya diliputi oleh cinta. Juga bisa menjadi hal yang dibenci oleh mereka yang dipisahkan olehnya. Namun bagiku, jarak adalah satu-satunya cara untuk diam-diam menaruh cinta. Diam-diam memperhatikan seseorang yang hanya bisa kulakukan dengan jarak pandang yang tak lagi cukup renggang, tapi jauh, tak tergapai. Hanya mata normal yang mampu merengkuhnya. Namun cukup bagiku untuk mengawasi bibir tipis yang sesekali tersenyum, bahkan tertawa pada entah apa yang ada di layar laptop di samping segelas Ice Chocolate yang setengah habis. Membaca blog seseorang, Facebook, Twitter atau mungkin tengah berchit-chat ria, entahlah. Aku cukup bahagia melihatnya tertawa.
Kopi hitam dan sebungkus rokok menjadi teman mengamati hari bahagia penuh tawa dari kedai kopi ini. Sengaja aku tak membawa kamera seperti biasa, tapi handycam. Bukannya aku bosan mencuri tawanya secara diam-diam. Dengan handycam aku bisa memperkecil jarak pandang tanpa harus terang-terangan terlihat sedang mengamati seseorang. Aku benci mata-mata yang tak punya urusan memperhatikanku seperti seorang sniper yang tengah membidik jantung presiden berpidato. Dengan alat rekam kecil ini aku tinggal memperhatikan gerak-gerik dia, wanita yang sangat kukenal wajah juga pribadinya, hanya lewat layar LCD mungil: praktis.
Ia perempuan yang sangat wanita. Anggun tiada cela. Juwita yang paling jelita. Cantiknya cantik. Duduk menikmati sore di rumah es krim, coklat, cupcakes dan teman-temannya. Cantik sederhana tanpa banyak polesan di wajah yang berkacamata. Tanpa sesuatu warna di rambutnya kecuali hitam seperti pualam. Lembut tanpa harus kuraba, halus walau hanya dilihat mata, dan lurus menjuntai seperti malaikat yang jatuh dari surga.
Pribadinya? Tak kalah elok dari wajahnya. Bahkan mungkin lebih indah dari apa yang bisa dilihat mata: hati berparas bidadari. Tiada cela? Atau mungkin aku sedang dibutakan cinta? Aku, dia atau mereka yang merasa sama, tetap bahagia walau cinta kami tak punya mata.
Dia indah seperti namanya, Cahaya. Bersinar tak hanya dalam gelap, namun juga pada terangnya siang. Wanita yang kukenal sudah sejak SMP dulu, hingga sekarang ia sudah bekerja. Ada yang bilang cinta pertama tak kan terlupakan. Bagiku adalah Cahaya, cinta pertama yang juga tak harus menjadi pacar pertama. Cinta pertama yang belum sempat kudapatkan. Cinta pertama yang tetap hidup setiap harinya, seperti namanya, Cahaya pada malam atau pun siang. Dan aku, aku adalah suara yang tak kuasa mengejar cahaya. Lafaz lirih yang pemalu saat di hadapannya, namun lebih lantang dari suara pesawat yang mengudara dibelakangnya.
Entah pengaruh kafein dalam kopi atau tar dalam rokok, pikiranku terbawa khayal yang tiba-tiba datang begitu saja. Kepada tempat dan waktu dimana aku berada di depannya. Berjarak hanya satu meja. Tak lagi pada kedai kopi dan rumah es krim yang berseberang-seberangan. Dan aku tak perlu lagi melihat senyumnya dari layar kecil pada kamera. Matanya bulat hitam terlihat jelas walau terhalang kacamata. Juga setitik lesung pipi kecil yang tak akan tumbuh menjadi dewasa. Tersenyum kepadaku, menggenggam tanganku dan… ia benar-benar menatapku!
Dia, Cahaya yang nyata. Bukan cahaya semu yang ada dalam khayalanku saja. Di seberang sana, dia menatap ke arahku lama. Memperhatikanku dengan sekulum senyuman di ujungnya. Kurasa ia mengenali wajahku yang tak banyak berubah sejak semasa SMP, SMA dan kuliah bersamanya, dewasa bersamanya. Ia kembali pada laptop yang sedari tadi membuatnya harinya tersenyum. Mengetik beberapa lalu melipatnya, memasukkan ke dalam tas. Ia beranjak dari meja setelah membayar bill. Berjalan sangat anggun dengan rambut hitam yang melambai-lambai. Keluar dari rumah es krim tempat ia menikmati ice chocolate, menengok ke kanan dan kiri terlebih dulu sebelum menyebrangi jalan yang tak besar. Dan ketika menyebrang jalan hampir sampai, ia menoleh ke arahku dan, tersenyum. Ah, dunia serasa runtuh tiba-tiba lalu berganti surga. Dengan bidadari yang tersenyum kepadaku cuma-cuma.
“Lafaz?” ucapnya setelah tepat berada di depan mejaku. Dan, ah… senyumnya membuat hati meleleh seperti es krim.
“Ah.. ng.. i.. iya Aya.” aku gugup. Tak ada kata yang mampu berdiri dengan tegak di hadapan senyum yang melelehkannya. Aku salah tingkah!
Ia lebih mendekat lagi kepadaku. Lebih dekat. Wajahnya yang masih terhias senyum menghampiriku lebih dekat. Dekat! Dan… ia mengecup pipiku.
“Kebiasaan melamun kamu itu harus dihilangkan, sayang. Atau kau sengaja, karena aku terpaksa membangunkanmu dengan kecupan?”
Cahaya tersenyum, manis sekali. Menarik tanganku untuk pergi dari kedai kopi itu setelah meninggalkan uang beserta kembaliannya di atas bill.
“Apa itu benar-benar sebuah penyakit, Aya? Lamunanku itu. Aku baru saja membayangkan jatuh cinta sangat dalam kepadamu.”
“Haha.. itu bukan lamunan, sayang. Aku pun mencintaimu sangat dalam.”
“Bukan. Maksudku, Aku mencintaimu sangat dalam, tapi aku hanya bisa memperhatikanmu tanpa menjadi kekasihmu. Seperti seorang pemuja dengan cinta yang rahasia. Cuma seorang, pecundang!” kataku dengan sejumput rasa stress di kepala.
“Tapi kau bukan. Sudahlah, aku cukup senang ketika melihat wajahmu terpaku pada sesuatu yang sebenarnya bukan di situ nyawamu. Dan pada saat itulah aku harus mengecupmu untuk membangunkanmu. Seperti sebuah permainan yang menyenangkan, bukan?”
Aya hanya tertawa riang tanpa suara. Berjalan terus tak memperdulikan lamunan yang sebenarnya bisa membuatku benar-benar menjadi pengkhayal paling gila. Aku pun berjalan, mengingiringi langkahnya namun serasa mengikutinya. Seperti suara yang tak mampu mengejar cahaya.
***
Sepertinya aku benar-benar butuh penyegaran otak. Menyegarkan pikiran dengan berjalan-jalan menghirup udara bersih tanpa polusi. Walau tanpa Cahaya menemani, aku masih bisa merasa segar dibawah pohon-pohon rindang Kebun Raya. Udara yang begitu segar karena baru saja disiram hujan. Bau hujan yang membasahi tanah, airnya yang menyangkut pada ranting dan daun-daun pepohonan begitu menyegarkan. Tiada suasana yang lebih segar dari udara sehabis hujan. Wangi air langit yang semerbak.
Sore ini Kebun Raya sepi. Mungkin karena hujan warga Bogor malas bepergian keluar rumah, apalagi berpiknik ria seperti minggu biasanya di Kebun Raya. Kanan kiriku tidak ada keluarga yang sedang berpiknik bahagia kecuali pohon dan tumbuh-tumbuhan yang basah. Namun masih ada saja pasangan muda-mudi yang kasih mengasihi. Berdua serasa dunia milik mereka. Duduk di kursi taman saling berangkulan, berbagi canda dan kebahagiaan, bahkan berciuman! Ah, kemana kau Cahaya? Harusnya kita tunjukkan pada mereka pasangan paling bahagia di dunia adalah kita. Dengan cinta yang tak lagi perlu diucapkan lewat lisan, tapi peluk dan cium yang tak lagi terbahasakan.
Sesekali, ada rasa ingin mengintip mereka yang berciuman. Sejauh mana kepandaiannya dan seerat apa urat malu mereka. Mata usilku tak tahan ingin mengintip. Sekaligus menyadarkan bahwa dunia tak lagi milik mereka berdu… “CAHAYA!”
Lumatan mereka berhenti, dengan tangan masih tertempel pada pipi-pipi. Keduanya menengok ke arahku. Si laki-laki terlihat marah permainannya diganggu. Sang wanita yang cantik tiada cela kaget melihatku.
Wajah cantik sederhana tanpa makeup, rambut sehitam pualam menjuntai seperti malaikat jatuh. Ia tergagap mengambil kacamata di pangkuan lalu menenggerkan di depan mata yang butuh bantuan penglihatan. Benar, dia Cahaya!
“Lafaz?” ucapnya lebih kaget dari matanya yang tadi tak berkacamata.
Hatiku remuk! Hancur bersamaan dengan dunia yang tiba-tiba saja menjadi gelap, Cahayaku hilang! Napasku mulai sesak, oksigen serasa hilang dari dunia, kepalaku berdenyut sakit sekali. Kepala? Kepala? Lamunan? Ini tidak nyata?
Dengan otak paling waras yang kumiliki aku mencoba mencerna dengan akal yang paling sehat. Aku di Kebun Raya, sedang Cahaya pergi menemani mamanya ke rumah sakit. Ini tidak nyata. Khayalan!
“Cahaya, ini tidak nyata kan? Ini lamunanku saja kan? Kamu tak berselingkuh! Jelaskan padaku kalau ini tidak nyata!!”
Kesadaranku mulai hilang. Aku berteriak seperti orang yang takut kehilangan nyawa. Dan Cahaya membalasnya tanpa teriakan, tapi suara halus penuh kelembutan.
“Ya. Ini tidak nyata, sayang. Ini tidak nyata. Aku tak pernah berselingkuh. Ini hanya ada dalam khayalanmu saja, Lafaz.”
Jawabnya sungguh menenangkan. Menghadirkan sepercik harapan bahagia. Dan sebelum aku membuka tawa, Cahaya melanjutkan berbicara, “Ini memang tidak nyata.” dan membentak, “LAGIPULA, SEJAK KAPAN AKU JADI KEKASIHMU?!!”
Semua mata tertuju pada meja di sebelahku. Sepasang suami istri yang bertengkar. Sang istri menggebrak meja hingga kopi hitamnya tumpah dan cangkirnya pecah. Dengan beringas ia pergi meninggalkan suaminya yang duduk tak berdaya. Mereka menjadi tontonan seisi kedai, juga orang—orang yang lewat di pinggir jalan.
Mataku kembali pada meja yang diatasnya terdapat kopi, kamera, puisi dan bunga. Setangkai bunga mawar yang tak lebih indah dari wanita di seberang sana, dan puisi yang didalamnya terdapat kalimat cinta. Hanya menunggu diantarkan menyebrang jalan.
Sedang di seberang sana, di rumah es krim, seorang wanita cantik sedang tertawa-tawa dengan pria di depannya. Di meja mereka hanya ada dua gelas ice chocolate dan bergelas-gelas bahagia.
“Sampai kapan kau mau tinggal di dunia khayal? Kapan kau akan kembali pada kenyataan, Bella?” Dia. Bagaimana bisa tiba-tiba ada di hadapanku? Pria ini.
“Kau tahu aku tak bisa, Kau yang paling mengerti aku sejak kecil!”
“Bellatrix Andromeda. Perempuan yang lebih kuat daripada aku. Wanita penyuka bintang yang lebih senang berteman dengan pria. Cewek tomboy sahabatku sejak kecil. Yang kau pun tahu aku mencintaimu sejak dulu.”
Air mataku mulai menggenang. Dan sedetik lagi ia akan jatuh seperti hujan. Atau mungkin badai.
“Aku sakit, Lafaz! Aku sakit!!”
CINTA SEGITIGA ~ Kau tahu sejak dulu aku mendambamu, dan kamu dengan ketidaknormalanmu tetap mencintai gadis itu.Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Aku Mencintaimu Tak Dalam Aksara ; 6 Jan 2011
“Hei gadis kecil, kemari.” Panggil bapak aki yang sedang menikmati teh sore harinya di ruang tamu. Aku menyahut lalu menghampirinya, walau detik milikku sebagian terbagi, dan pergi.
“Ada apa, Ki?”
“Aki mau minta tolong sama kamu, mau kan?”
“Tapi, Ki. Aku sebentar lagi mau….”
“Hei, gadis kecil. Aki cuma minta tolong sedikit saja. Mau kan?” Belum usai aku berkata, sudah dipenggal kalimatku oleh permohonan aki. Kata terakhirku menyangkut di kerongkongan.
Ia tak memaksa. Tapi sejak kecil aku selalu diajari untuk tidak menolak permintaan tolong orang lain, terlebih bapak aki-ku sendiri. Sedikit, aku menyimpan dongkol di bawah leher. Mungkin, 4:1, 4 dongkol, 1 ikhlas.
Bagaimana tidak? Aku sudah memiliki janji dengan Wira. Malam ini ia akan mengajakku ke suatu bukit, lalu mengenalkanku satu per satu pada para ksatria malam.
“Aki minta tolong, tuliskan sesuatu untuk emak.”
“Tapi ki, emak kan…”
“Hushh, sudah. Kamu tuliskan saja ya gadis kecil. Aki yang diktekan. Kalau aki bisa menulis, aki juga tak akan menyuruhmu.”
Lagi-lagi kalimatku dipotong. Kata-kata itu terbendung di kerongkongan bersama kesal di leher yang semakin membesar. Aku hanya bisa membatin. Namun aki tetap mempertahankan senyumnya.
Aki sudah mempersiapkan kertas dan pena, ia berikan keduanya padaku. Lalu ia mulai mendikte, aku mulai menuliskannya.
Awalnya kesal masih melekat di leherku, menjalar menelusuri kulit menuju tangan kananku, kemudian hinggap di batang pena, meresap di telan tinta, namun hilang saat kutuliskan pada sebuah kata. Kata yang Aki ucapkan untuk emak, panggilan untuk nenek. Aku merasa tak ada lain selain cinta, yang menempel pada tinta yang kutulis dalam kata. Meski aku tahu persis aku menuliskannya dengan hati yang sedikit berpenyakit. Aki, walaupun ia buta aksara tapi kata-katanya… mampu mengumpulkan segumpal air di pelupuk mataku. Hampir jatuh. Satu kata lagi penuh makna aku tak janji air mataku masih bisa terbendung.
“Sudah? Tolong masukkan ke amplop ini.” Aki memberikanku sehelai amplop putih polos tanpa noda sedikit pun. Memintaku memasukkan suratnya ke dalam amplop itu.
“Gadis kecil, tunggu.” Bapak Aki benar-benar hobi memotong segala sesuatu rupanya. Tak hanya kalimat, tapi hal yang kulakukan pun tak segan ia penggal. Semoga leherku tak ikut-ikut ia penggal.
Ia mengambil dompet dari saku belakang celananya, lalu membukanya. Asikk dapat duit! Tak sia-sia ternyata aku menulis sebuah surat seperti ini.
“Kamu masukan bunga ini bersama surat itu, ke dalam amplop.”
Pupus harapanku. Ternyata ia mengambil beberapa pucuk bunga Eidelwise dari dompetnya. Bunga berwarna hijau kelabu itu sudah gepeng karena terlalu lama di taruh dalam dompet. Aki menaruhnya di tempat yang seharusnya sebuah foto melekat di sana.
“Tak apa walau sedikit gepeng. Wanginya masih sama saat pertama kali aku mendapatkannya.” Katanya sambil tersenyum.
Aku manut. Memasukkan surat yang sudah kutulis dan beberapa pucuk bunga Eidelwise yang sudah gepeng ke dalam amplop. Lalu sebagai akhir aku melepas plastik lem untuk menutup rapat-rapat amplop tersebut. Akhirnya, selesai. Tapi…
“Tuliskan nama dan alamat rumah nenekmu, juga nama dan alamat aki sebagai pengirimnya. Lalu tempelkan perangko ini.” ternyata belum.
“Tapi Ki, emak kan…”
“Sudah, ikuti saja perintah aki. Ayo cepat tempel perangkonya.” Kata aki seraya memberiku perangko enam ribu, bergambar bunga Eidelwise.
Lagi-lagi aku manut. Tapi kali ini tanpa kesal. Dan sepertinya aku tahu selanjutnya apa yang harus kulakukan.
“Sudah. Sekarang aku kirim surat ini ke Emak, kan?” kataku menebak perintah Aki selanjutnya. Dan pria tua itu pun mengangguk sambil terus melengkungkan senyum di bibirnya.
“Terima kasih, gadis kecil.” Sifatnya tak pernah berubah sejak dulu, begitu juga dengan panggilanya untukku 20 tahun lalu.
Tanpa banyak mengeluh lagi, aku beranjak ke teras rumah. Menghampiri nenek yang tengah menikmati teh sore harinya bersama senyum senja dan belai sepoi angin. Untuk memberikan surat cinta dari kakek.
Nenek heran saat kukatakan ia dikirimi surat dari kakek. Keriput semakin terlihat di wajahnya ketika ia mengerutkan dahi. Namun pelik yang dirasanya diabaikan dan diubahnya jadi senyuman. Ia meraih surat itu. Melihat tulisanku yang terukir di sana.
Kepada Humaira-ku
Jl. Anggrek Bulan no.11, teras rumahMelihat sebentar pada perangko bergambar bunga Eidelwise, mengusapnya perlahan. Lalu membalikkan amplop tersebut untuk melihat alamat bapak aki yang tertulis.
Dari lelaki-mu
Jl. Anggrek Bulan no.11, ruang tamuDan senyum emak kini berubah tertawa melihat tulisanku yang satu itu. Ia membuka amplop dengan merobek bagian atasnya, lalu ia keluarkan surat di dalamnya. Dan ia pun terkejut dengan bunga Eidelwise gepeng yang berada dalam amplop itu. Ia mengambil serta bunga Eidelwise perlahan, lalu mendekatkan ke hidungnya. Mencium harumnya.
“Wanginya masih sama sejak 48 tahun yang lalu. Walau bentuknya sudah tak seindah dulu.” Dengan tersenyum, emak memberikan surat itu kepadaku.
“Tolong, Zahra. Aku tak akan memintamu andai aku bisa membacanya sendiri.”
Aku tersenyum memandang wajahnya yang penuh kerutan. Tapi tidak dengan cintanya yang masih seperti wanita usia dua puluhan. Aku sama sekali tak merasakan pedih ada di sekitar sini.
Kuraih kertas yang beberapa menit lalu baru saja kulipat. Kemudian kubuka lipatan itu, dan membaca tulisan yang sekejap lalu kutulis sendiri.
Aku mulai membacakannya…
Teruntuk, bidadariku di dunia dan di surga
Humaira,
Aku tahu kau tak akan geleng-geleng kepala menerima perlakuan dariku seperti ini, kau pasti akan tersenyum. Karena cuma kamu wanita yang begitu menghargai tiap cinta yang kuberikan. Karena kau adalah sebaik-baik perhiasan di dunia yang aku milikki.
Humaira, meski namamu adalah panggilan sayang Muhammad kepada Aisyah, aku akan tetap mencintaimu seperti Muhammad mencintai Khadijah. Dan bila waktuku telah sampai lebih dulu, aku ingin mati di atas pangkuanmu. Kau peluk aku sampai ruh benar-benar tercabut dari tubuhku, seperti wafatnya Muhammad di pangkuan Aisyah.
Dan kumohon, jangan terlalu lama kau tinggalkan aku sendirian. Kau tahu aku selalu rapuh tanpamu. Beri tanda bila waktumu hampir sampai, aku akan menjemputmu bersama malaikat.
Kau tahu? Hampir 50 tahun aku mencintaimu dan 48 tahun aku hidup bersamamu. Jadi wajar aku berpesan seperti itu, kau juga tahu, aku tak ingin terlalu lama tua seperti kamu yang dulu tak menginginkan tua.
48 bukan angka yang sedikit Humaira. Bukan seperti waktu aku menikmati es krim pemberianmu kemarin yang cepat habis, bukan pula seperti aku menikmati secangkir teh buatanmu yang habis sekali senja. Tapi waktu yang membuat keriput wajah kita terlihat tua dan kaki kita begitu lemah tak berdaya. Tapi seperti yang kau tahu Humaira, cintaku padamu tak akan pernah tua. Seperti halnya cintamu padaku yang selalu muda.
Kau lihat Eidelwise yang kau pegang saat ini? Kau ingat? Itu bunga yang kau berikan padaku saat umur kita masih dua puluh. Saat kakimu masih tangguh menanjak gunung Semeru. Saat kau permalukan aku yang belum pernah sekali pun mendaki gunung, sedang kau entah tak terhitung menaklukkan gunung. Bunga itu selalu tersimpan dalam dompetku sejak 48 tahun lalu. Tanda cintamu padaku.
Bukan, cinta kita bukan seperti Eidelwise yang abadi dalam dompetku. Tapi karena cintamu padaku, cintaku padamu, bunga itu tetap abadi. Eidelwise yang meniru cinta kita, sayang.
Batariku, aku memang tak bisa menulis seperti kamu tidak bisa membaca. Aku pun tak belajar menulis puisi seperti kamu tak belajar membaca puisi. Dan kau tahu itu, al-quran telah mengajari kita banyak hal. Termasuk membuat puisi tanpa pernah sekali pun kau belajar menulis. Seperti kau yang tak pandai bernyanyi tapi suaramu seindah nyanyian bidadari saat mengaji. Karena Dialah pujangga maha indah, yang telah menulis puisi paling suci. Di jagad raya.
Selamat ulang tahun,
Nb. Aku tahu kau lupa hari ulang tahunmu, dan hanya mengingat hari ulang tahunku dan ulang tahun pernikahan kita. Seperti aku yang melupakan hari ulang tahunku, dan hanya ingat hari ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita.
Aku mencintaimu,
Lelakimu
Tak bisa kutahan lagi. Air mata ini sudah meleleh sedari tadi. Aku tak bisa membendungnya. Dan kulihat wajah emak, hanya tersisa bekas air mata yang beranak sungai di atas pipi keriputnya. Ia tak melihatku, melainkan senja yang hampir habis. Matahari yang tak berdaya tenggelam. Matahari yang buru-buru bersembunyi, malu jika air matanya terlihat karena mendengar aku membacakan surat.
BUTA AKSARA. Kakek memintaku menuliskan surat cinta untuk nenek. Nenek memintaku membacakannya. ~ @winnywitana
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Kangen Ibu ; 14 Dec 2010
Elok sekali pemandangan ini, seorang gadis cantik berkacamata tengah tersenyum seraya menyuapi sesendok bubur pada wanita renta yang berusaha meraih sendok bubur tersebut.
KLIK!
Pemandangan itu abadi dalam kameraku. Dan ah, sesuatu mempercantik karya fotoku. Cahaya senja menyiram sebagian wajah mereka yang duduk di beranda. Bagaimana kalau kuberi judul ‘Wanita dan Senja’?
“Hayo, memotret kami ya? Coba aku lihat.” Carina menghampiriku dengan semangkuk bubur kosong di tangannya. Wanita ini memang terlalu sadar kamera untuk kupotret secara diam-diam.
Dia tersenyum, “Cantik. Terima kasih ya.”
Lalu mengecup keningku sebelum beranjak ke dalam rumah mengambil segelas air putih untuk ibundanya terkasih. Gadis itu, sejak aku mengenalnya tiga tahun lalu hingga detik tadi belum juga padam kelembutannya. Dan kuharap tak akan pernah hingga ia menirukan jejak cinta yang ditinggalkan di keningku kepada anak-anaknya nanti. Anak-anak kami.
“Jadi kapan kamu pertemukan aku dengan ibumu?” Carina kembali lagi padaku setelah meninggalkan ibundanya menikmati senja bersama air putih yang tinggal setengah gelas.
“Secepatnya.” Jawabku.
“Itu jawabanmu enam bulan lalu, saat kamu memberikanku ini.” Carina menunjukkan cincin perak bermata ruby. Pemberianku dulu, untuk mengikatnya agar tak lepas sebelum aku benar-benar melamarnya. Andai saja bisa, aku ingin mengikat cahaya indah dari mata bidadarinya untuk diikat pada cincin perak itu.
“Aku perlu waktu Carina. Tak semudah itu.”
“Satu semester tak cukup kah? Kamu sudah begitu mengenal keluargaku, ibuku, kakak-kakakku, saudaraku. Bahkan kamu juga sudah menemui ayahku walau hanya makamnya. Tapi aku hanya mengenal kamu, tanpa tahu seperti apa dan bagaimana keluargamu. Seperti apa pun mereka, aku akan menerimanya seperti aku menerimamu dengan segala baik burukmu, sayang.”
“Bukan itu masalahnya.”
“Lalu apa?!” suaranya meninggi. Carina tampak kesal dengan alasanku. Terlihat jelas di wajah dan nadanya seperti ditarik keras oleh amarah. Aku hanya menatapnya. Tak balas menjawab, apalagi membentak. Kutinggalkan dia, biar saja senja yang menghisap merahnya marah lalu meniupkan eloknya jingga pada hatinya. Aku beranjak pada ibunda Carina. Duduk di sebelahnya dan memperlihatkan hasil jepretanku sesaat tadi.
“Judulnya Wanita dan Senja, bu. Wanita adalah kalian berdua, Senja karena wajah kalian begitu cantik tersiram cahaya matahari senja. Lihat bu, disini ibu terlihat lebih cantik daripada Carina. Walau sudah senja, mata ibu tetap indah tanpa perlu kacamata seperti anakmu.”
***
Hari ini adalah hari pertama gadis kecilku masuk sekolah. Zahra, malaikat kecil yang sayapnya tak pernah lagi ia kenakan. Satu yang kanan untuk ayahnya di surga, dan yang kiri untuk ibunya sebagai balas jasa karena rela mati agar Zahra kecil bisa melihat dunia. Keponakan Carina itu begitu bersemangat menuntut ilmu. Walau di kelas pelajarannya hanya bernyanyi, menggambar dan bertepuk tangan, semangatnya tak kalah seperti mahasiswa demo meminta presiden turun. Sudah dari jam enam pagi ia siap dengan sepatu, seragam dan tas ranselnya. Padahal kelasnya baru dimulai pukul delapan pagi.
Aku yang mengantar Zahra, menungguinya hingga ia pulang. Sengaja kubawa serta kamera kesayanganku. Selain untuk memotret wajah tanpa salah milik Zahra yang memenuhi 50% memori kameraku, aku juga ingin memotret keadaan taman kanak-kanak. Pasti banyak anak kecil –tentu saja- dan ibunya yang juga mengantar. Seperti yang sudah kulakukan selama Zahra kecil meneriakkan lirik lagu Pelangi-pelangi, beberapa ekspresi kegembiraan dan beberapa wajah wanita paruh baya terekam sudah dalam Canon. Aku tersenyum-senyum sendiri saat melihatnya. Ibu-ibu yang ngerumpi sambil menunggu anaknya pulang sekolah, andai suara mereka juga abadi dalam foto, aku pasti tertawa kala mengingatnya. Tak hanya mereka, beberapa pahlawan tanpa tanda jasa juga abadi di dalam sini. Foto yang selalu membuat hatiku serasa seperti embun di pohon kaktus. Entah, aku selalu nyaman saat memandang foto-foto wanita paruh baya seperti mereka. Serasa aku berada di depan pintu surga di kaki mereka.
Tak berapa lama, kelas sudah bubar. Lagu sayonara sedang dinyanyikan di dalam kelas. Dan hei, itu Carina. Dari kejauhan, caranya berjalan begitu anggun seperti bulan melangkahi malam. Cantik. Lengkap sudah, malaikat kecilku ditambah bidadariku. Pagi yang menyenangkan.
“Kok gak bilang kalau mau jemput Zahra juga? Kan sudah ada aku.”
“Aku mau bicara sama kamu, sekalian kita langsung pergi.” Jawabannya tak seindah pagi ini. Tapi menyengat seperti tengah hari.
“Yuk, tuh Zahra sudah keluar. Kita langsung pergi.” Carina tergesa-gesa. Tak memberikanku jeda. Ia beringsut menghampiri Zahra yang berlari keluar dari dalam kelas. Memeluknya dan menggendongnya. Pipi tomat milik Zahra tak lepas dari sasaran bibir tipis Carina.
KLIK!
Indah sekali. Seperti ibu muda dan anaknya yang cantik. Tapi ekspresi tak seindah fotoku kudapati dari wajah Carina. Lagi-lagi jutek. Sadar betul wanita itu kalau di foto. Aku hanya tersenyum kecil. Dan mengikuti Carina melangkahkan kaki kemana dia pergi. Sambil sesekali kucium pipi merah malaikat kecilku.
“Kita mau kemana?” tanyaku membuka pembicaraan.
“Ke jalan Jalak Harupat no.23, Cijantung, Jakarta Timur.”
DEG! Seperti terkena serangan jantung namun tetap baik-baik saja. Itu alamatku. Apa yang harus kulakukan bila sudah seperti ini? Semua rahasiaku akan terbongkar!
“I..itu, kamu tahu dari mana?” aku mulai panik.
“Rumahmu kan? Dari teman kerjamu, Windy.”
“Tunggu, tunggu Carina. Maksud kamu apa?” aku mulai kewalahan dengan kepanikan ini.
“Ini sudah lewat enam bulan kamu berjanji ingin mempertemukan aku dengan ibumu. Aku hanya ingin bertemu ibumu, seperti kamu yang senang bisa berbincang-bincang dengan ibuku. Kedua, aku sudah tak tahan dengan sikapmu yang seperti ini. Selalu saja meninggalkan aku dengan kamera bagusmu itu. Iya, itu hobi kamu. Tapi ya tak sampai menyuruh aku pulang lebih dulu saat kamu sedang asik memotret. Dan yang kamu potret itu kebanyakan wanita paruh baya, bahkan sampai nenek-nenek. Oh, apa kamu Oedipus Complex?”
JLEB! Kali ini sepertinya benar aku akan mati.
“Yang terakhir aku bercanda.” Syukurlah. Walau klarifikasinya masih saja ketus dan pedas. Setidaknya aku tidak jadi mati.
“Oke, baiklah kalau memang itu maumu. Kita ke… sebenarnya itu bukan rumah, tempat kost.”
“Oh, kost. Ada ibumu di sana?”
“Entahlah, mudah-mudahan saja ada.”
Hanya tatapan polos. Tak mengerti apa-apa yang terjadi antara kami, dua manusia dewasa yang rumit permasalahannya. Zahra hanya memandang penuh tanda tanya dengan mata bulatnya. Di ujung jalan, kami melanjutkan perjalanan dengan naik angkutan umum.
***
Sampai di depan pintu, aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Memastikan diri aku siap dengan segalanya. Melihat ke wajah Carina yang masih saja jutek untuk memastikan, hingga akhirnya kubuka pintu kamar itu.
Aku masuk lebih dulu, lalu Carina. “Silakan masuk.”
Hanya ada kasur tanpa tempat tidur, televisi, dispenser, komputer dan sebuah lemari kecil. Tapi yang membuat Carina terus membuka mulutnya bukan itu, melainkan ratusan foto yang kutempel di ke empat dinding kamar yang ada. Ia memutar badanya untuk melihat foto-foto itu secara keseluruhan. Benar-benar terpana tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Di keempat dinding, salah satunya penuh dengan foto Carina. Ia tertawa, ia tersenyum, merajuk, bengong, dan semua ekspresinya kutangkap dan kucetak. Satu dinding lagi yang memiliki foto serupa ada di sebelahnya. Foto Zahra, aku sangat bahagia tiap kali melihat wajah malaikat kecil itu, walau hanya dalam selembar foto. Dan dua dinding sisanya adalah foto-foto wanita paruh baya yang kuambil secara diam-diam. Dengan kesibukan mereka masing-masing. Guru, pedagang sayur, wanita karir, ibu rumah tangga, penjaga toko, polwan, semua. Entah berapa jumlahnya, yang jelas foto itu menutupi setengahnya dari dua dinding kamarku. Dan bila aku rindu, dua dinding itu yang menghapuskan rinduku bertemu ibu. Foto-foto ini yang membuatku selalu merasa bahagia. Menciptakan senyumku saat pedih, membangunkan semangatku saat jatuh. Carina, Zahra dan mereka.
“Kamu mau bertemu ibuku? Aku sendiri belum pernah bertemu dengannya. Tapi jika kamu memaksa, lihat di dua dinding ini. Mungkin salah satu diantara mereka adalah ibuku.”
AKU KANGEN IBU - Kupandang foto wanita-wanita paruh baya yang kupotret diam-diam. Mungkin salah satu dari mereka adalah ibuku. ~ @rigeladitya
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Kisah Hati Anak Manusia (bagian 2) ; 24 Nov 2010
Lebih dari dua puluh sudah aku bersemayam di sini. Di dalam tubuh anak manusia. Sebelah kiri, dada kiri. Bila dibelah dada kiri itu, tak akan kau temui aku. Melainkan hanya seonggok organ sebesar kepalan tangan yang berdenyut mengiramakan dentum kehidupan.
Itu jantung. Dia bukan aku.
Aku hati. Aku adalah dia.
Aku berada di sana, tak kasat mata, tempat menyimpan segala rasa. Rumah hati, dan segala kamar kediaman para rasa. Kamar yang memiliki komplek sesuai dengan kedudukan mereka. Keluarga, sahabat dan cinta. Rasa itu pun terbagi lagi. Ada suka, bahagia, senang, perih, pedih, amarah, duka dan lara.
Oke cukup! Ini sudah dibahas dalam kisahku yang pertama. Aku tak ingin bercerita dua kali. Karena saat ini aku ingin bercerita tentang kisahku yang baru.
Oke, babak pertama dimulai.
Dulu, ada seorang cinta yang menetap begitu lama di rumahku. Ia tak pernah pergi, beranjak sedikit pun, bahkan niat pun tidak. Masih ingat? Ya, dialah yang pertama bagi majikanku. Cinta pertama.
Awalnya, kupikir tuanku tak kan menggantikan dia dengan orang lain. Hingga akhirnya ada seorang cinta lain yang membawa papan nama berbeda di tangannya. Tapi sama terang dengan yang pertama. Aku diperintah majikanku untuk melayani dia dengan sangat spesial, super istimewa.
Kau tahu? Kamar tempatnya menetap dipenuhi dengan puisi tuanku, penuh warna syair, melodi – melodi larik dan sajak yang bernyanyi. Rumahku indah karenanya. Tapi juga hancur karenanya.
Ya, hancur. Porak poranda!
Ia merobek puisi – puisi tuanku, mengekelabukan syair, mematahkan melodi, membungkam sajak yang bernyanyi. Dinding rumahku tak terbuat dari batu bata, apalagi baja. Hanya daging yang dihias sedemikian rupa hingga terlihat kuat bagai baja. Tapi tetap saja aku dan rumahku akan mudah terluka.
Ia menoreh pisau dan silet hampir di seluruh dinding. Disayat perlahan, diiris bagai daging kurban, bahkan dihujam, ditusuk secara frontal. Tak perlu kujelaskan sepertinya kau tahu bagaimana perih itu, bagaimana sakitnya aku. Apalagi majikanku. Aku tak akan tahan melihatnya terluka begitu dalam. Tulusnya hanya dibalas duka. Dan dia pergi meninggalkan luka.Cinta itu, cinta yang berhasil mengumpulkan segudang puisi majikanku.
Disaat aku dan rumahku begitu hancur, entah siapa dan rasa apa berkunjung kerumahku. Aku tak mengenalnya, tapi ia begitu bercahaya. Berbeda! Sangat berbeda!!
Di dalam kegelapan rumahku, aku menangis. Dan ia meneranginya. Tanpa berbicara, ia memugar kembali rumahku. Ia menutup luka, mengobati perih, memberikan tawa, menciptakan bahagia. Seketika rumahku kembali indah. Banyak para rasa seperti bahagia, senang, suka, ceria bermain – main di rumahku.
Saat kutanya, “Siapa kau? Rasa apakah kau? Cinta, sahabat, teman atau….”
Dia tak menjawab. Hanya senyum yang ia lempar, manis sekali. Entah. Aku tak mengerti siapa dan rasa apa dia. Aku hanya begitu berterima kasih padanya.
Saat kutanya tuanku, ia bercerita, “Dia adalah bidadari surga yang tinggal di bumi. Tuhan sengaja mengirimnya untuk mengobati lukaku yang tak terperi. Jaga ia baik – baik, perlakukan sebaik mungkin, jangan biarkan ia terluka walau secuil pun. Bahkan aku sendiri tak berani menyentuhnya. Dia terlalu indah, dan sangat tak pantas untuk disakiti.”
Aku terdiam. Tertegun mendengar ucapan majikanku. Tuanku, apakah kau sedang jatuh cinta?
Maaf, bukan aku sok mengajari. Tapi, coabalah untuk -Memberikan sepenuhnya, berharaplah tiada-
“Terima kasih, hati. Aku akan seperti itu. Tapii… darimana kau bisa bicara seperti itu? Siapa yang mengajarimu?”
“Agamamu, Tuan.”
“Oh ya? Apa namanya itu?”
“Ikhlas.”
Hari terakhir Mei 2010
Jakarta
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Shanaz ;
Aku tak pernah menyangka hidup di bawah langit sebegini cepat. Pun tak kusangka Tuhan merangkai cerita hidupku sebegitu indah. Entah. Rasanya seperti sekejap mataku terlelap dan terjaga, dari aku kecil hingga nyaris dewasa. Rasanya baru kemarin ayahku membelikan sepeda roda tiga, kini giliranku menghadiahi ayah sesuatu beroda empat. Walau usiaku belum menggapai dua puluh.
Dulu malamku begitu manis dengan ibu di samping tempat tidurku. Satu dari berbagai kisah yang ia punya tak pernah tidak berhasil menjatuhkan mataku dalam pangkuan kasihnya. Membuatku terlelap, dan menikmati mimpi indah yang sudah lebih dulu ia rajut untukku sebelum ia mendongeng. Namun pada malam yang turun hari ini, aku terpisah jauh dari mereka dengan hanya meninggalkan senyum dan bangga yang tersemat di hati keduanya. Meski beribu-ribu kilometer jarak kami, hatiku tetap bergetar setiap kali ibu berdoa untukku. Dan air mataku selalu tak jadi jatuh saat ayahku kembali berkata dalam kepala: “Laki-laki harus kuat. Nggak boleh cengeng.” walau rindu tak pernah bisa mengerti betapa aku ingin memeluk mereka saat ini.
Ayah bilang, air mata ini harus kusimpan dan kujatuhkan hanya disaat-saat diperlukan. Kecuali untuk ibu. Ayah tak mau melihat embun mataku jatuh untuknya, ia tak mau ditangisi dan selalu memintaku untuk selalu jadi pria yang tangguh. Seperti aku tak diperbolehkan menjatuhkan air mataku di depan istri dan anakku kelak.
“Nhaz, kita disuruh kumpul semua. Ditunggu di taman samping kolam renang.” Dion, atlet renang teman sekamarku kembali hanya untuk mengabarkan itu.
“Ngapain?”
“Gak tau. Mereka menyebutnya Malam Berbagi, mau dibagi-bagiin hadiah kali buat yang udah dapet emas.” tambah Dion seenaknya. Jelas matanya semacam menyindir atau iri dengan peraih medali emas di hadapannya. Dan aku hanya bisa tersenyum. Antara kemenangan dan jenaka.
“Duluan aja, nanti gue nyusul.” tanpa membalas kata ia hanya mengacungkan jempol padaku dan menutup pintu.
Lihat itu bu, yah, Dion cemburu ia hanya dapat perunggu. Entah bagaiamana Indonesia menyambutku nanti ketika aku kembali. Dengan sebuah medali logam mulia kukalungi, itu untuk Indonesia dan kalian. Aku ditunggu. Kutinggal dulu bingkai senyum kalian berdua dalam pigura. Percayalah, yang ada di kepalaku hanya bagaimana jadinya senyum kalian bila aku berhenti mengayuh sepedaku dan tak menjadi nomor satu.
Penghujung hari kali ini tak sekelam masa lalu. Puan malam sempurna bersolek di balik awan. Kuning dan bulat yang tak pernah habis diputari. Hei Luna, aku titip salam pada ayah dan ibuku. Tolong sampaikan pada mereka sebelum pagi merebut mimpi mereka paksa saat terjaga. Dan hei, beruntungnya aku. Bulan menjadi saksi kemenanganku di negeri para dewa dan dewi, Yunani.
“Ini dia jagoan gowes kita, Shanaz!” suara lantang pelatih Arie yang berlebihan disusul sorak lebay teman-teman membuat rembulan malas berpijar. Apalagi aku, sanjungan berlebihan hanya akan membuatku jatuh. Aku tak perlu itu. Cukup sekadarnya saja seperti ayah mencintai ibu dengan sederhana.
“Liat nggak kemarin gimana kaki Shanaz hampir putus saking cepetnya gowes tuh pedal. Gile meennn, putarannya kayak abang-abang becak di kampung gue lagi genjot di tanjakkan.” Lani si petarung Taekwondo yang tak menghadiahi Indonesia apa-apa tetap ceria meledekku.
“Pala lu ngebul, Shanaz disamain sama tukang becak kampung Bojong. Lu tuh, berantemnye kayak reman Pasar Minggu.” Andi, si peraih perak angkat besi membelaku. Dan kalimatnya itu pecahkan tawa yang sedari tadi diam melayang-layang di langit bersama para bintang. Mendadak malam di Yunani yang dingin menjadi hangat. Tawa bisa dijadikan sebagai pengganti kayu bakar rupanya.
“Hei, sudah-sudah. Acara kita malam ini adalah Malam Berbagi, bukan Malam Mencaci. Sebelum kita pulang besok, saya ingin rekan-rekan pejuang Indonesia di bidang olahraga saling berbagi malam ini. Ya, sekadar cerita-cerita penghangat suasana atau entah apa. Tapi yang saya inginkan disini, kalian menceritakan tentang pengalaman kalian yang paling berharga. Entah itu dalam Olimpiade kali ini atau di mana pun terserah kalian. Ceritakanlah tentang hal terbaik apa yang pernah kalian dapatkan sepanjang hidup kalian! Dimulai dari kamu, Lani.”
Seraut wajah malu kini melekat erat menjadi topeng Lani. Ia salah tingkah dipilih menjadi yang pertama oleh pelatih Arie. Tawa kembali terlepas dari sangkarnya masing-masing. Dengan ragu Lani beringsut maju. Berdiri di pinggir kolam tempat rembulan berkaca mempercantik diri, sementara kami duduk manis di kursi santai memperhatikan gelagatnya yang kikuk.
“Ehm… iya. Mungkin gua gak bisa meraih emas seperti Shanaz di Olimpiade Yunani 2025 ini. Tapi gua juga punya pengalaman menarik dan hal terbaik yang gua dapatkan sendiri. Gua, bisa sampai pada level internasional atas kerja keras sendiri. Dulunya, ehm.. maaf Ndi, gue emang reman pasar minggu. Gua sering gebukin orang, malakin pedagang, tapi seseorang ngingetin gua sama Tuhan. Istri gua. Karena istri gua, gua belajar Taekwondo. Dia juga petarung seperti gua, tapi lebih resmi gak dijalanan atau terminal Pasar Minggu. Gua satu perguruan sama dia, dan sampai akhirnya dia jadi istri gua. Gak punya kerjaan, luntang-lantung di jalanan, kerjaan cuma latihan, istri gua nyaranin gua ikut turnamen-turnamen. Dengan keahlian yang udah terasah di jalanan dan giatnya latihan gua banyak memenangkan turnamen. Hingga akhirnya sampai tingkat nasional dan gua ditarik jadi atlet nasional, siapa sangka seorang reman pasar minggu bisa menginjakkan kakinya di Yunani untuk membela negaranya, ya gak?”
Kalimat penutup Lani diakhiri dengan aplaus kagum atas perjuangan hidupnya. Beberapa teman menjabat tangan dan menepuk-nepuk punggung karena terharu atas kehidupan ciptaan Tuhan untuk Lani. Andi pun merangkul Lani dengan limpahan hangat persaudaraan. Siapa menyangka pria berkulit kelam dengan tubuh seperti Boris musuh Popeye persis reman Pasar Minggu bisa pergi ke Eropa. Tuhan memang punya cerita sendiri untuk hamba-hambanya. Dan percayalah, cerita Tuhan untuk kita akan berakhir manis kalau kau setia kepadaNya.
Yang kedua, Lani menarik Andi ke depan panggung ala kadarnya. Mungkin ia berpikir harus membalas dendam kecil pada masa lalu, beberapa detik yang baru saja terlewat. Lengan kekar Lani menarik paksa tangan yang tak kalah keras si pengangkat barbel. Juga dengan ragu dan sedikit malu Andi tampil di depan banyak teman seperjuangannya. Pria Papua ini menceritakan bagaimana perjuangannya meraih mimpi: Atlet Nasional (sepertinya sudah tak jadi mimpi ya?). Kerja kerasnya patut ditiru! Ia berjuang bukan dengan alat bantu, tapi keterbatasan. Rupanya julukan Si Penggotong Tebu bisa menjadikan ia menjadi Si Pengangkat Besi peraih perak. Dan satu per satu teman-teman yang lain pun maju. Menceritakan kisah mereka dari nol hingga jadi seperti ini. From zero to hero. Kalau dilihat-lihat, ternyata para pemenang ini sama seperti manusia biasa lainnya kawan. Awalnya mereka bukan siapa-siapa, tapi kerja keras dan doa mereka yang merubahnya jadi pemenang. Bakat? Itu hanya 5% membantu mereka dalam pertandingan. Semuanya menceritakan sesuatu tentang diri mereka yang paling hebat. Memenangkan berbagai macam pertandingan, dapat uang jutaan rupiah, medali, piala, pengakuan, popularitas dan hal lainnya yang bisa membuat dadamu membusung.
“Shanaz! Giliranmu.” seru Dion yang kembali ke tempat duduknya. Aku tak sadar sekejap ini bumi berputar. Kulihat ke langit, puan malam pun sudah beranjak dari tempat duduknya. Ia menari melangkahi langit, mempercantik malam bersama bintang-gemintang. Dengan mantap kulangkahkan kaik memijak bumi. Menuju panggung dengan meja rias rembulan menjadi latar belakangnya.
“Mungkin berbeda dengan teman-teman semua. Saya tak merasa telah mendapatkan hal terbaik dari medali emas Olimpiade ini melebih saya mendapatkan ayah terbaik yang pernah ada. Bagi saya kemenangan ini bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kasih sayang orang tua saya. Mereka terbaik yang saya punya. Ehmm.. sebenarnya saya tak berdiri sebagai pemenang di atas podium paling tinggi kemarin kalau bukan karena seseorang, ayah saya. Ia yang mengenali saya dengan sepeda. Bagaimana mengasikannya berjalan-jalan ke sudut kota tanpa melukai alam. Dan ia pula yang menanamkan kemenangan itu dalam diri saya, di dalam jiwa. Saya hanya tinggal menjaga dan merawatnya sebelum ia benar-benar matang untuk dipetik. Ia yang mengajarkan saya perjuangan, kejujuran, kerja keras, kasih sayang dan tentang melepaskan sesuatu yang bukan milik kita, ikhlas. Pernah 15 tahun yang lalu, saat itu saya masih empat tahun. Baru bisa bersepeda. Ditantang oleh ayah saya untuk bermain di lintasan tempat ia biasa bermain. Bermodal sepeda, helm, sarung tangan, semangat, keberanian dan ayah saya yang selalu ada di belakang, saya bersepeda seperempat Depok. Kalau kalian tinggal di Depok pasti tahu rute dari Depok 2 rumah kami, ke hutan Ui, lalu kembali lagi ke Depok 2. Yaa, sekitar 15km. Saat itu saya yang baru bisa bersepeda, menyusuri pinggir jalan yang dipenuhi keegoisan para pengendara bermotor dan asap knalpotnya sepanjang 15km. Dan tahukah kalian, sepanjang 15km itu ayahku selalu ada di belakang untuk menjagaku. Ia membuntutiku sambil lari-lari kecil atau jalan cepat. Terus saja begitu sampai kembali ke rumah.”
“Ah gile Nhaz, 15 kilo ngikutin lu doang? Kenapa gak sepedaan juga saja sih?”
“Hal itu pernah ditanya oleh teman ayah saya, dan kalian tahu jawabannya apa? Agar ia bisa lebih cepat tanggap kalau terjadi apa-apa dengan saya. Mungkin saat itu saya tak peduli dan hanya ada rasa senang di hati. Tak mengerti betapa lelahnya ayah saya membuntuti sepanjang 15km dengan lari kecil. Haha, kalau kalian tahu ayah saya lebih lucu lagi. Badannya tak sebagus tubuhku kini. Ia pria gemuk, besar, tapi terlihat kekar. Kalau kalian ngefans sama Saykoji, ayah saya tak jauh beda dengan Igor si rapper gemuk itu. Tapi tentu lebih keren ayah saya. Bayangkan saja dengan tubuh sebesar itu ia jogging sepanjang 15km.” aku berhenti sebentar. Menikmati tawa teman-temanku yang entah bahagia entah bangga dengan ayahku.
“Tapi sehari itu percuma. Ayah saya tak kunjung kurus juga. Tubuhnya tetap besar seperti jiwanya. Tubuhnya tetap kekar seperti semangat dalam dada saya yang ia tanam 15 tahun lalu. Tubuhnya tetap besar seperti cintanya kepada saya dan ibu.” serentak semua menjadi biru seharu aku meneteskan air mata bangga dalam hati. Teman-teman seperti tersihir dengan ceritaku. Malam mereka seperti ingin jatuh. Sungguh itu terlihat pada wajah mereka. Tapi, seseorang mencengkram perhatianku. Lani. Matanya mengembun.
“Hei Lani, kata ayah saya jadi pria harus kuat. Bukan kuat seperti kekarnya tubuhmu itu, tapi kekuatan lain di dalam hati.”
nb. cerita fiksi ini terinspirasi dari kisah seorang kakak yang benar-benar menjadi seorang Abi untuk anaknya.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Catatan Harian Burung Gereja ; 26 Oct 2010
Minggu, 5 September 2010
Dear, diary
Umurku sekarang genap satu tahun. Tak ada yang spesial di hari lahirku ini. Tak ada ucapan selamat ulang tahun, tak ada kejutan, tak ada black forest, tak ada lilin berangka satu, tak ada kado, hanya nyanyian yang aku senandungkan sendiri. Kidung di Pucuk Akasia. Aku memberi judul laguku sendiri seperti itu. Entah orang lain senang mendengarnya atau tidak, entah para manusia itu tersenyum hatinya atau tidak. Suaraku memang tak seindah para burung lain. Tak seindah Kenari yang kicauan mereka sama seperti warna bulu - bulunya. Tak sepintar beo yang pandai berbicara meniru bahasa manusia. Atau kutilang yang dipelihara oleh manusia karena mereka senang dengan cericitnya.
Aku hanya burung yang tak diperhatikan. Hidup atau mati pun tak ada yang peduli. Bila aku adalah tumbuhan, mungkin sama halnya seperti rumput di lapangan sepak bola kampung. Cericitku asal bunyi. Irama, ritme, tempo atau apalah itu bahasanya aku tak peduli. Bulu – buluku tak cerah. Hanya ada coklat dan hitam yang mendominasi. Dan satu titik putih di pipi kanan dan kiri. Itu juga sepertinya Tuhan kasian denganku. Ia menambahkan bedak seadanya untuk mempercantik kedua pipiku. Meski itu tak banyak membantu. Rumahku adalah Akasia besar ini. Rerumputan kering, dahan – dahan dan sedikit bulu – bulu yang kurontokkan sendiri cukup membuat nyaman pembaringanku kala malam mulai turun.
Ini hari minggu. Sepertinya aku harus libur bernyanyi dulu hari ini. Pagi dan sore akan ada banyak manusia yang bernyanyi untuk Tuhannya. Di dalam gereja sebelah rumahku. Pagi, para manusia paruh baya yang berdatangan. Mereka semua berpakaian rapi, berkemeja, wangi dan membawa sebuah kitab di tangannya. Berjalan berdua, sendiri dan ada pula yang diantar. Dia, gadis berambut ikal sebahu yang selalu mengantarkan ibunya setiap pagi dengan skutermatic. Mencium pipi ibunya, lalu kembali pulang. Sorenya, aku melihat ia kembali. Cantik, memakai kemeja, rok dan… ah, wangi tubuhnya tak terlupakan saat aku terbang melintasinya. Dia, gadis yang selalu menebar senyum, tak pernah telat datang dan pulang paling akhir. Entahlah, menurtuku ia seorang gadis yang baik dan sangat mencintai Tuhannya.
****
Jumat, 10 September 2010
Dear diary,
Hari ini aku bosan bermain di sekeliling rumah. Walau daya jelajahku tak seperti elang, aku ingin berkeliling melangkahi langit. Tapi apa daya, aku hanya burung yang alakadarnya. Tak istimewa! Aku hanya bermain ke tempat yang tak jauh dari rumahku. Satu lagi, rumah Tuhan yang sering didatangi banyak manusia. Tapi mereka mendatanginya pada hari Jumat, bukan minggu. Juga saat matahari tengah meraja di 12, bukan pagi atau sore. Dan mereka semua laki – laki. Masjid.
Aku berkunjung ke rumah temanku, Erow. Ia membangun rumah di lubang ventilasi tepat di bawah genting masjid. Aku pikir ini lucu, ia burung gereja sama sepertiku tapi membangun rumah di masjid. Seharusnya ia mengganti nama jadi burung masjid. Dari sarangnya, kami bisa melihat apa saja yang mereka lakukan di dalam masjid. Mereka tak bernyanyi seperti umat Kristiani, mereka tak duduk di kursi, hanya khotbah yang sama diantara cara beribadah mereka.
Erow bilang, “Lihat Trees, manusia itu aneh ya. Mereka menyebut dirinya muslim, sedangkan mereka yang di dekat rumahmu menyebutnya kristiani. Cara beribadah mereka berbeda. Keyakinan mereka berbeda. Padahal Tuhan mereka adalah Tuhan kita juga. Tuhan yang menciptakan mereka adalah Tuhan yang menciptakan aku dan kamu.”
“Lalu kenapa kalau mereka berbeda?”
“Tak ada yang salah. Malah perbedaan itu membuatnya indah. Tapi aku heran kenapa masih saja ada manusia yang saling memusuhi karena mereka berbeda. Seharusnya mereka yang diberikan kemuliaan yang disebut akal budi tak seperti kita bisa belajar dari pelangi. Mungkin bila warnanya hanya merah saja ia tak seindah saat ini.“
Aku heran dengan Erow. Mungkinkah ada sedikit akal manusia yang tercecer di otak kecilnya?
****
Minggu, 12 September 2010
Dear diary,
Minggu lagi. Sepertinya hariku akan terus seperti ini, sampai aku mati. Hidup hanya untuk mencari makan dan bernyanyi. Meski tak ada yang peduli. Tapi aku yang selalu peduli dengan sesuatu merasakan hal aneh pada minggu ini. Apakah umat kristiani mulai fals bernyanyi? Ah, tidak. Suara mereka tetap indah melebihi nyanyianku. Oh, gadis itu. Ia datang terlambat. Tak seperti minggu biasanya. Ia terbirit – birit membawa al kitab di trotoar depan gereja. Wajahnya nampak cemas meski cantik tak bisa membohongi. Saat nyanyian dalam gereja mulai menggema ia baru masuk.
Kenapa gerangan kau terlambat hei gadis?
***
Minggu, 19 September 2010
Diary!
Hari ini aku melihatnya! Gadis itu terlambat lagi. Bahkan lebih telat dari minggu kemarin. Dan yang membuatku terkejut, ia bersama seorang laki – laki. Mereka berjalan berdua dan berhenti beberapa meter sebelum gerbang gereja. Aku tahu ada lisan yang bercakap diantara mereka. Karena itu langsung kulebarkan sayap dan melesat seketika menghampiri mereka.
“Bagaimana dengan dia?” gadis itu berkata. Aku belum ketinggalan percakapan mereka. Di pagar kayu pembatas antara halaman dan trotoar aku bertengger menjadi saksi.
“Sudahlah, aku sayang kamu. Pergilah, temui Tuhanmu.” Pria itu tersenyum ramah. Tapi aku menangkap sesuatu yang tersembunyi dari kata – katanya, meski mataku tak setajam elang.
Dan, pria itu mengecup kening sang gadis yang tertutup poni. Keduanya tersenyum. Kemudian gadis gereja itu pergi meninggalkan pria entah dengan bahagia melimpah di wajah. Kulihat lagi wajah pria itu. Benar, ia memang menyembunyikan sesuatu. Atau lebih tepatnya, sesuatu itu sedang merasuki pikirannya. Napas panjang keluar membawa kebenaran yang tak mungkin ia berbohong.
****
Minggu, 26 September 2010
Maaf Diary,
Hari ini aku melihat gadis itu. Aku senang ia tak terlambat. Datang dengan wajah cerah dan wangi seperti melati mekar. Dengan tenang ia membawa Al kitab berjalan menapaki trotoar, memasuki gerbang gereja yang di kira kanannya rimbun dengan warna – warni bunga. Sepintas aku melihat senyum kedamaian melengkung kecil di bibirnya.
Tapi, aku melihat pria itu lagi setelah beberapa lama gema lagu mulai bernyanyi dari dalam gereja. Ia berdiri di depan gerbang, mematung cukup lama sebelum akhirnya ia memasuki gerbang. Beringsut ke sisi gereja yang ditumbuhi Akasia rumahku dan semak yang kurang terurus. Ia mengeluarkan telepon genggam dari sakunya, mengetik entah disana. Tak berapa lama, aku melihat gadis itu keluar dari gereja. Ia terbirit dengan wajah seperti orang yang keluar gedung untuk menyelamatkan diri dari gempa. Menengok ke kanan kiri, kemudian tersenyum setelah mendapatkan seorang pria sedang berdiri tepat di bawah rumahku.
“ALIIIII…” teriaknya sedikit cemas. Ia berlari menghampiri pria bernama Ali itu lalu menubruknya dengan dekapan hangat. Aku tak perlu terbang, suara mereka cukup terdengar dari atas sini.
“Kenapa kamu kesini?”
“Entahlah, aku hanya ingin lari dari kehidupanku dan hadir dalam hidupmu. Yang aku tahu pasti aku rindu kamu.” Ali menyambar bibir gadis itu. Ia melumatnya seperti ia menikmati ice cream cone tiada habis.
Gadis itu menikmati ciuman basah yang diberikan Ali. Beberapa lama, dan ia melepaskan bibirnya, “Kau tahu Ali? Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan gadis itu kalau saja ia tahu semua ini. Ia sangat mencintaimu.”
“Aku lebih mencintaimu Evangelin.”
“Kenapa?”
“Karena aku tak bisa menyentuhnya, sebelum dia benar – benar menjadi milikku. Paras bidadarinya tak bisa kukecup seperti aku menciummu.” dan mereka kembali berciuman. Saling melumat, tak pedulikan mereka yang bernyanyi memuji Tuhannya di dalam gereja. Sambil berepelukan erat, tak pedulikan dia yang hampir rubuh di depan gerbang gereja. Memegang dada kiri dan air mata yang serta merta mengalir melihat sepasang anak manusia berbeda keyakinan saling bercinta dalam ciuman. Dia, gadis berkerudung yang Ali pernah ceritakan betapa cantik hatinya kepada Evangelin. Yang sangat mencintai Ali dengan segala ketulusannya.
** TAMAT **
RT @AANMANSYUR: CATATAN HARIAN BURUNG GEREJA ~ SEPASANG REMAJA BERCIUMAN DI SAMPING GEREJA YANG CUMA BERISI GEMA DOA. MEREKA BERBEDA AGAMA.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Putri Hujan ;
Hari ini aneh. Pagi tadi saat matahari baru terbangun dari tidurnya ia memancar begitu indah, begitu hangat. Kokok panjang si jantan menjadi alarm sang mentari, kicau burung – burung menjadi nyanyian memulai hari bagi sang raja siang. Pagi yang cerah namun sayangnya tak senada dengan suasana hatiku. Namun siang ini, langit sepertinya mengerti apa yang kurasakan. Entah ia mengikuti lagu hatiku yang sedang bernyanyi sendu atau memang ia yang ingin menangis, aku tak tahu. Yang pasti hari ini dimulai dengan pagi yang cerah bak tawa kelahiran seorang bayi, namun tiba – tiba kelabu seperti kematian seorang ibu. Awan mendung menggumpal dimana – mana. Menutupi seluruh langit yang seharusnya biru.
Hari ini aku berjalan sendiri tak memiliki teman. Hah, bukankah memang seperti itu? Aku memang sepertinya tak pernah punya teman. Ya, sejak SD Rigel Alinitaka selalu dimusuhi dan dijauhi oleh teman – temannya. Mereka menyebut aku gila. Padahal jelas – jelas aku masih bisa berfikir jernih, aku masih bisa berhitung dan membaca. Bahkan aku sang juara di kelas. Nomor satu tak pernah bermusuhan denganku di buku rapor. Sejak SD hingga sekarang aku SMA, sedikit pun sepertinya tak ada niatan untuk aku atau untuk si nomor satu saling mengkhianati satu sama lain. Bagaimana aku bisa disebut gila? Mereka yang gila! Mungkin mereka iri dengan aku yang tak pernah menjadi nomor dua. Sudahlah, tak ada gunanya juga dibahas. Biarkan saja mereka bersenang – senang dengan pikiran mereka. Dan aku bermain – main dengan pikiranku sendiri.
Sepanjang jalan aku hanya bertegur sapa dengan angin, daun – daun yang berterbangan dan sesekali bergurau dengan debu yang terhempas. Selintas bayangan muncul di kepalaku: apa rasanya menjadi daun yang diterbangkan angin, kemudian melihat seorang wanita tengah dikecup mesra oleh seorang pria dari atas taman. Dan wanita itu adalah kekasih kita. Ahh, tak usah dirasa. Hanya sekedar bayanganku saja.
Ada sesuatu yang jatuh dari langit dan menyentuh batang hidungku. Basah. Aku mendongakan kepala menatap langit. Tanganku menengadah. Titik – titik air semakin banyak yang jatuh. Gerimis. Aku harus bergegas sampai di rumah. Kupercepat langkahku menjejak bumi, seperti rinai yang juga semakin cepat terjatuh dari langit dan menumbuk tanah. Debu – debu yang tertidur di tanah terbangun tersiram sejuknya hujan. Menciptakan wangi hujan, wangi mata air langit yang bersetubuh dengan tanah. Wangi ini tak akan ditemui kalau langit tidak menangis. Rumahku masih jauh, dan titik – titik air ini semakin membabi buta menghantam tanah. Butiran airnya bertambah besar dan banyak. Serempak mereka menyuarakan bunyi yang membuat manusia – manusia tak berpayung lari mencari tempat berteduh. Aku berlari sambil menutupi kepala dengan tas slempangku. Kulihat kanan kiri, tak ada tempat berteduh. Hanya ada sebuah taman yang lengkap dengan air mancur, kursi taman, bunga – bunga, pohon dan tempat bermain anak. Kulihat ada sebuah beringin putih besar menaungi kursi taman yang terbuat dari batu. Itu tujuanku. Aku berlari untuk mencapainya. Dan setelah sampai, aku lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi yang sudah basah dengan hujan. Dan… hujan pun semakin deras mengguyur kota. Beruntung aku memiliki tempat berteduh, walau sesekali air jatuh menembus rimbunnya ribuan daun putih kehijauan di atasku.
Udara langit mulai turun bersama hujan. Temperatur mulai menurun di sekitarku. Aku yang sudah memakai jaket kini kutarik retsleting hingga menutupi tubuhku. Lalu aku bersidekap. Menutup hatiku dengan lengan. Hujan mulai bernyanyi. Kini ia merintik dengan irama yang syahdu, memiliki ritme. Aku bisa merasakan merdunya rintik mereka. Lama, hujan masih terus saja bernyanyi. Tapi perhatianku langsung tersedot oleh sesuatu. Sekitar lima belas meter di sebelah kiriku, ada seorang wanita berbaju putih sedang duduk di kursi taman. Hujan – hujanan! Ia sudah basah kuyup, tak bergeming. Pikiranku semakin meracau setelah melihat sebuah payung hitam yang tengah mekar hanya tergeletak begitu saja dihadapannya. Aku heran. Sangat heran! Pikiranku lebih tak mengerti. Kini ia bermain.
“Nona! Hei, nona!” ia tak mengindahkan teriakanku. Tetap mematung.
“Nona! Kenapa kau duduk saja disitu?! Kau bisa sakit kalau terus hujan – hujanan!” dia masih tetap tak mau mendengarkanku. Benar – benar tak bergerak seperti batu. Atau memang ia hanya sebuah manekin? Entahlah, ia membuatku mengambil tindakan lain selain berteriak.
Dengan menutupi kepala dengan tas slempangku aku berlari menghampirinya. Kecipak air berbunyi tiap kakiku menghantam bumi yang basah. Dengan cepat, aku mengambil payung hitamnya setelah sampai disana. Lalu memayungiku dan dia dari hujan. Tapi, ah… wanita ini sangat cantik. Ia menghipnotisku beberapa detik hanya dengan tatapan kosong dan bibirnya yang sudah membiru. Dan kesadaranku kembali saat ia tersenyum manis sekali ke arahku. Aku tersenyum membalasnya.
“Hei, kenapa kau hujan – hujanan. Lihat dirimu, sudah tak ada yang kering ditubuhmu. Kau bisa sakit, nona.” kataku ramah.
Senyumnya semakin melebar. “Hatiku kering.”
Aku terperanjat mendengar jawabannya. Ekspresiku seketika tersedot oleh dua kata yang dikeluarkan dari mulutnya. Seperti halnya hujan yang menculik panas dan debu di atas bumi.
“Kamu belum pernah hujan – hujanan?” tanyanya pelan. Terlihat giginya sedikit bergemeretak saat ia berbicara. Siapa lagi kalau ini bukan ulah suhu. Aku tak menjawab pertanyaannya. Malah isi kepalaku yang bertanya: mengapa mengajak ngobrol di situasi seperti ini? Ia duduk di kursi, aku dengan posisi setengah merunduk sedang memegangi payung ditengah taman yang hujan.
“Mungkin kau pernah sewaktu kecil. Membiarkan diri disirami rinai hujan, berlari – lari dengan basah di sekujur tubuh. Bahagia menyesaki dadamu kan? Itu yang kuinginkan saat ini.”
“Bahagia?” tanyaku mulai penasaran dengan perbincangan aneh ini.
“Bukan. Tapi kebebasan. Merasakan tiap titik air menyusuri bagian tubuhku, aku merasakan kenyamanan. Aku merasakan kebebasan.” lalu ia mengambil payung yang kugenggam. Kemudian melemparkannya ke samping. Payung hitam itu terlentang, mulai menampung air yang jatuh dari langit. Ia menggenggam pergelangan tanganku, lalu menarikku duduk di sampingnya. Mataku masih tak lepas dari tatapannya. Ia tersenyum.
“Rasakanlah.” katanya pelan.
Aku masih tak mengerti. Sungguh – sungguh tak mengerti. Siapa dia sebenarnya ini. Hujan mulai merambati tiap senti tubuhku.
“Kau tahu? Aku selalu bahagia saat hujan turun. Karenanya, aku bisa bersembunyi dari kepedihan. Dan merasakan kebebasan, kebahagiaan.” sungguh, tiap kata – katanya seperti sebuah labirin. Aku tak mengerti, apakah ini teka – teki?
“Kau tak bisa melihat air mataku yang sedari tadi mengalir deras kan?” ia tersenyum. Sungguh manis sekali. Dan aku memang tak melihat ada air mata kepedihan yang mengalir di pipinya. Hujan menyamarkannya.
“Kau disakiti?” tanyaku memberanikan diri mengikuti pembicaraannya. Meski aku tak tahu kemana juntrungannya.
Lagi – lagi bibir tipisnya yang membiru mengulas senyum. “Aku ingin bertanya padamu selaku pria. Pernahkah kau membayangkan menjadi air hujan yang jatuh mengalir di pipi kekasihmu, lalu kau menemukan air mata disana? Pernah?” aku menggeleng.
“Pernahkah kau membayangkan menjadi lampu tidur kekasihmu yang menerangi malamnya hingga pagi, namun saat dini hari kau mendengar ia mengigau menyebut nama pria lain? Pernah?” aku menggeleng lagi.
“Pernahkah kau membayangkan menjadi gelas yang ia genggam untuk menuang air pelepas dahaganya, namun tiba – tiba ia buang ke lantai, pecah berkeping – keeping karena ia melihat ada seorang pria yang telah lama pergi dan menghampirinya dengan suka hati? Pernah?” dan lagi – lagi aku menggeleng.
“Seperti itulah yang aku rasakan saat ini.” ia tersenyum. Sungguh senyum manis itu bukan tanda kebahagiaan. Aku merasakan kepedihan disana.
Tubuhku mulai kuyup. Semuanya basah, dan karena ceritanya aku juga merasakan ada satu bagian tubuh yang tak ikut basah. Hatiku. Aku tak merasakan kebebasan disana.
“Lalu… sampai kapan kau akan duduk menyendiri di bawah hujan?” tanyaku.
“Sampai hujan ini berhenti, meninggalkanku seperti ia yang juga telah meninggalkanku. Dan menyisakan pelangi, tak seperti ia yang pergi tanpa menyisakan sekeping hatinya pun untukku. Aku ingin belajar bersama hujan dan pelangi. Hujan, ia adalah rezeki yang dikirim Tuhan untuk menghidupkan tumbuhan dan para petani. Ia menciptakan kedamaian, menyanyikan lagu merdu, merintik syahdu. Sejuk bertebaran dimana – mana. Walau hujan badai sekali pun, setelah mereka pergi tetap akan menciptakan kedamaian di bumi dengan pelangi yang ditinggalkannya bukan? Banjir? Kalau kau menjadi hujan mungkin kau akan protes, berkata seperti ini: Manusia yang tak mencintai lingkungan membuat aku menjadi tak lagi romantis.”
“Kau…”
“Hujan adalah rezeki yang diturunkan Tuhan dari langit, maka jangan sekali – kali kau memakinya. Lebih baik kau berdoa, karena Tuhan yang maha pengasih telah memberkati hujan. Ia akan menjabah doa manusia yang meminta padanya saat rinai itu menyentuh tanah.” ia terus berbicara. Tak memberikan kesempatan padaku.
“Tunggu, sebenarnya kau ini…”
“Pelangi. Selain mengagumi keindahannya, seharusnya kau gunakan sayapmu untuk terbang mencapainya. Lihat indahnya lebih dekat agar kau mengerti, lalu petik sebuah pelajaran darinya: Warna - warni menjadikan ia indah. Perbedaan itu anugrah. Sifat manusia yg menjadikannya bencana.” ia tersenyum mengakhiri katanya. Kini giliranku bicara.
“Siapa kau sebenarnya? Siapa namamu?”
Lagi – lagi ia tersenyum. “Namaku Putri Hujan.”
Putri Hujan? Maksudnya? Ah… ini semakin membingungkanku. Nama yang indah untuk seorang anak manusia, dan kedengarannyan itu tak hanya sekedar nama. Itu seperti… sebuah cermin bagi dirinya. Rinai mulai melambat merintik. Perlahan – lahan ia tak sederas tadi. Bulirnya menjadi halus dan tak lagi membabi buta menghunjam tanah. Lamat – lamat mentari mengintip dibalik awan. Cahayanya mulai menyinari kami. Sementara aku masih sibuk dengan keheranan dan kebingungan di dalam kepalaku.
“Kau… kau? Sebenarnya siapa?” aku tergagap bertanya padanya. Pikiranku yang membuatnya seperti itu.
“Aku Putri Hujan.” Ia tersenyum lagi. Kemudian bangkit dari kursi. Ia berdiri menatap langit yang hampir tak menurunkan bulir air lagi. Awan – awan seperti menyingkir ketika dilihatnya. Memberikan jalan seperti seorang putri yang baru turun dari kereta labu ingin memasuki istana. Lamat – lamat, aku melihat warna – warna indah yang perlahan mulai muncul. Awalnya samar, namun mulai cerah beberapa saat kemudian. Warna – warni yang kupelajari saat SD dulu. Mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Ia melengkung di atas langit. Indahnya tak terbantahkan.
“Dia namanya Pelangi atau sebagian lain menyebutnya Benang Raja.” Ia menoleh padaku, tersenyum. “Dan aku… Putri Hujan.”
Dan tiba – tiba hal yang belum pernah kulihat sebelumnya ada di depan mataku. Dua buah sayap keluar dari punggungnya. Lalu sayap itu mengibas – ngibas angin seperti halnya ia baru saja keluar dari sangkar. Bak seekor kupu – kupu yang baru terlahir dari kepompong. Bebas. Sayap itu membentang. Sekali lagi, ia menoleh padaku sebelum terbang. Senyuman manis terakhirnya yang ia berikan padaku. Lalu sayapnya mulai mengibas, dan ia terbang. Terbang menuju pelangi. Bayangannya mengecil, mengecil dan semakin mengecil. Sampai akhirnya ia hilang bersama warna - warni.
AAAHHHHHHH!!!!!!!!!!
Sudah cukup! Kembalilah ke alam nyatamu hei kawan! Usir jauh – jauh imajinasi bodohmu itu. Berhentilah hidup di negeri dongeng. Kau hidup di dunia kejam yang disebut realita. Dunia yang harus membutuhkan tindakan kalau kau menginginkan apa pun. Tak hanya bermimpi! Berhasil! Kutendang jauh – jauh imajinasi itu. Sampai kapan aku membiarkan wanita itu duduk sendiri di bawah guyuran hujan yang dingin?
“Nona! Hei, nona! Nona! Kenapa kau duduk saja disitu?! Kau bisa sakit kalau terus hujan – hujanan!” ia tak mengindahkan kata – kataku. Lebih baik aku melakukan hal lain yang lebih kongkrit daripada hanya berteriak – teriak saja dari jauh. Aku bukan supporter.
Kulibas hujan di depanku. Aku berlari menghampiri wanita berbaju putih itu. Dan ketika aku sampai, kusambar payung hitam yang tergeletak di hadapannya. Kupayungi diriku dan dia dari hujan. Dan aku tercenung melihat wajah cantiknya yang memucat. Lalu tersadar kembali setelah ia tersenyum manis sekali kepadaku.
“Kenapa kau hujan – hujanan. Lihat dirimu, sudah tak ada yang kering ditubuhmu. Kau bisa sakit, nona.”
“Kamu belum pernah hujan – hujanan? Mungkin kau pernah sewaktu kecil. Membiarkan diri disirami rinai hujan, berlari – lari dengan basah di sekujur tubuh. Bahagia menyesaki dadamu kan? Itu yang kuinginkan saat ini. Bukan kebahagiaan. Tapi kebebasan. Merasakan tiap titik air menyusuri bagian tubuhku, aku merasakan kenyamanan. Aku merasakan kebebasan.” lalu ia menyambar payung hitam yang kugenggam. Kemudian melemparnya ke samping hingga payung itu tergeletak. Lenganku ditarik hingga aku duduk di sebelahnya. Rinai hujan mulai membasahi tubuhku.
Ah, apa ini? Tak mungkin. Tidak mungkin sama.
“Tunggu nona, sebelumnya aku ingin bertanya. Siapa namamu?”
Ia tersenyum manis sekali sebelum menjawab pertanyaanku, “Putri Hujan.”
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Heka, Messia, Aku dan DIA... ; 24 Aug 2010
"12 malam, dingin, gelap, untuk apa kau bawa aku kesini?"
"Sebentar lagi akan hujan."
"Hah... Hujan?"
"Kenapa?"
"Gak masuk akal. Keluar di tengah malam, duduk di atas tebing, kedinginan, cuma untuk menunggu hujan? Dan lebih gak masuk akal lagi, langit malam ini tanpa awan. Suatu hal yang gak mungkin untuk turun hujan."
"Hujan itu gak akan basahi kamu kok. Ini bukan hujan air, tapi hujan cahaya. Meteor Rain."
Para ksatria itu malu. Ia hanya jatuh saat bumi terpejam. Mengendap - endap menelusup ke atmosfer bumi dengan cepat, dari langit yang biasanya juga mengirimkan para pasukan titik air yang disebut rinai. Mereka juga merinai, tapi tak lebih dari sedetik. Ia terlalu malu untuk menampakkan indah cahayannya. Jarum panjang bercerai dengan jarum pendek. Ia meninggalkan istrinya yang pendek dan lelet tetap pada posisinya di 12, sedangkan ia mulai beranjak ke angka 2. Sepagi ini dua anak manusia bergurau di atas tebing, menghadap laut, dipayungi langit. Sang ombak tak henti bergemuruh. Sepertinya ia benar benar kesal pada karang, tak pernah pelan ia menabraknya. Bila kau pernah menjejakkan kaki di atas rumput liar tebing pantai Baron, mungkin dengan mudah kau hisap tiap rasa yang keluar dari huruf dan kata yang kutulis. Disana dingin, dua orang anak manusia itu duduk di ujung tebing yang hanya dipagari oleh rumput gajah dan tumbuhan lain yang berbunga. Sedikit bebatuan menemani agar tumbuhan itu tak monoton. Maju selangkah lagi ke depan, apa kabar manusia yang jatuh dari ketinggian lebih dari 100 meter dan berakhir di gulung ombak bercampur bebatuan karang? Heka berbaring menatap langit. Ia tekuk kedua lengan di bawah kepalanya digunakan sebagai pengganti bantal. Sementara Meissa lebih senang memadukan langit dengan lautan. Garis horison masih bisa terlihat, langit berbintang dan laut hanya kelam. Ia duduk melepas pandangannya keluar tebing.
"Sini, kukenalkan kau dengan bintang. Jangan belajar tentang tubuh manusia melulu, Ratu Sains sesungguhnya adalah Astronomi."
"Mana?"
"Lihat, kukenalkan dengan bintang paling ramah yang sering muncul di langit Indonesia. Orion. Ikuti telunjukku." Heka menuntun mata Messia perlahan, menyusuri tiap lekuk tubuh rasi Orion. Dari bintang tercerlang, bintang merah, dan gugus tiga bintang yang berjejer bak pasukan pengibar bendera. Orion sudah kujelaskan sebelumnya.
"Alfa Orionis, bintang berwarna merah menyala bak membakar langit itu namanya Betelgeuse. Beta Orionis, bintang putih kebiruan tercerlang keenam di langit bumi itu bernama Rigel. Dan tiga yang kecil berjejer, Alnitak, Alnilam, Mintaka. Orang jawa menyebutnya rasi Waluku, bintang bajak. Orion sendiri disebut bintang Belantik."
"Ada kisah dibaliknya?"
"Ada, Orion seorang putra Dewa Poisedon yang tampan dan pandai berburu. Dia jatuh hati pada seorang putri, lihat disana, itu sang putri. Namanya Pleiades. Orion terus mengejarnya, tapi tak kunjung mendapatkannya. Dan sampai nama mereka diabadikan di langit malam, seperti yang kita lihat, Orion masih mengejarnya di angkasa, tak kunjung mendapatkannya."
"Mereka tak sekedar bersinar ya, tapi punya kisah yang tak kalah indah dibalik cahayanya."
"Dulu aku ingin menceritakan ini pada seseorang, tapi sepertinya tak kan pernah terjadi."
"Siapa? Dia? Sudahlah Heka, kau diberikan mata oleh Tuhan untuk menatap masa depan. Seorang pengendara motor pun pasti jatuh kalau ia terus melihat kaca spion."
"Hah... aku masih tak percaya. Hidupku baru saja indah sebentar. Bahagia, menjadi pangeran, seorang batari, sepatu kaca, pahlawan yang beruntung, bagaimana tidak indah, semuanya indah. Hanya satu, cuma mimpi...
Aku seperti melayang ke ranah berwarna, menembus awan yang tak lagi putih: merah seperti kesukaannya. Terbang bersama memori: saat dia masih mencintaku. Hanya imaji!"
"Pujangga berpuisi!"
"Kalau menghapus aku dalam hidupnya bisa membuat sebuah bulan sabit terlentang turun di wajahnya, aku ikhlas dihapus dalam semua ingatannya."
"Teruskan!"
"Andai aku mati hari ini, aku ingin Tuhan meninggalkan separuh jiwaku di bumi. Tempatkan di jantung hatinya, agar aku bisa tersenyum saat tahu ia bahagia, dan menangis ketika melihat ia terluka."
"Cukup, sudah melankolisnya. Buka mata lebar - lebar, dunia ini terlampau indah kalau kau hanya fokus pada satu hal: pesakitan!
Kau boleh jatuh, kau manusia. Tapi tak harus lama, dunia semakin kencang berlari bersama mimpi. Kalau kau hanya duduk merasakan penderitaan, mimpimu akan terbang dibawa orang. Ayo bangkit kawan, tak hanya satu keindahan di bumi. Kau bisa cari di tempat lain."
"Aihh... katamu bangunkan aku."
"Gitu dong.. eniwei, mana Meteor Rainnya? sudah lewat jam 1."
"Ahh... tuan. Aku ingin akhir bahagia!"
"Tuan? Siapa maksudmu Heka? Kenapa kau berbicara pada langit?"
Aku Messia. Ya kan, Heka?
"Ya dia. Kau tak tahu? Kita ini hanya fiksi, dongeng semata! Kisah kita malam ini hanya sebuah karangan seorang manusia."
"Heka... aku gak ngerti."
Tak usah kau mengerti Messia. Jalani saja, dan percayakan semuanya padaku. Aku juga tak ingin ceritaku berakhir buruk.
"Kalau begitu, kenapa tak kau kirimkan Hujan Meteor di malam kami? Itu kan yang akan jadikan indah?"
Tidak akan Heka.
"Kenapa? Malamku jadi biru tanpa hujan cahaya itu."
Ini skenarioku, malammu menjadi biru itu menurutmu. Padahal aku merencanakan suatu kisah yang lebih manis untukmu. Seperti halnya aku, aku seorang manusia, kadang memiliki pikiran yang sama sepertimu tentang kehendak Tuhanku yang tak sejalan dengan keinginanku. Tapi kau tahu Heka? Seseorang mengajariku, 'Tuhan tak perlu izinmu terlebih dulu untuk berkehendak dalam kehidupanmu'. Baik menurutmu belum tentu baik menurutNya, dan baik menurutNya sudah tentu baik untukmu. Kau mengerti Heka? Mungkin kau perlu belajar dari air mata seorang ibu yang didurhakai anaknya sendiri untuk mengerti arti tulus dan ikhlas menyayangi. Dan mungkin juga kau perlu belajar dari air mata yang tersembunyi dari seorang ayah yang melepas putrinya diambil oleh orang lain saat ijab qabul pernikahan untuk mengerti arti sebuah kehilangan dan melepas seseorang.
"........."
"Aku masih gak mengerti."
Tak perlu dimengerti Messia, pikirmu tak akan sampai. Seperti halnya pikirku yang tak akan sampai bila mencari semua apa maksud Tuhan. Cobalah belajar dari bola lampu, kau tak mengerti bagaimana caranya ia bisa menyala tapi yang pasti kau tahu ia bisa menyala bila kau tekan stop kontaknya. Syukuri saja ini sudah terjadi. Dia sang maha penyayang, tak kan mungkin tega melihat hambanya menderita. Dia lebih dari apa yang kau pikirkan, bahkan Dia lebih dekat denganmu dari pada urat nadimu sendiri.
*lagipula dengan begini jadi lebih menarik kan? :p
Jakarta, Agustus hari pertama 2010
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Untuk Mata Jelita Itu (part 2) ; 2 Nov 2009
"Cukup Pergi dari sini! Kau membuatku makin terpuruk!"
"Baiklah, aku tak akan masuk. Tapi biarkan aku berdiri di sini."
Ibum asyik mendengarkan Adin yang berceloteh riang. Tapi ia sama sekali tak menatap binar kedua bola mata Adin yang penuh warna. Seperti nama pemiliknya, Adina Pelangi.
"Jadi tuh ceritanya tentang anak jalanan yang berusaha menggapai mimpinya." gadis yang belum lama dikenal Ibum namun bukan baru - baru ini ia memperhatikannya begitu antusias menceritakan kisah dari novel karyanya sendiri. Tatapannya dilekatkan pada mata Ibum dalam - dalam yang hanya dibalasnya sebentar - sebentar.
"Cukup!! Jangan tatap mata dia lagi! Sudah kubilang pergi!"
"Salahkah ia hanya menatapnya? Ia tidak mengharapkan lebih darinya.""Oke, nanti aku baca deh. Kayaknya......" Ibum terpaku, lisannya menemukan jalan buntu saat matanya menatap bulat bola mata Adin yang jelita.
"Kayaknya apa?" Adin tambah dalam menyelami tatapan Ibum.
"Ah..." Ibum mengalihkan pandangan pada sejuknya pohon - pohon teduh yang memayungi mahasiswa - mahasiswa berjalan kaki. "....Kayaknya bagus...hehe..." Ia menyembunyikan suatu rasa dibalik senyum palsu yang dibuat - buatnya.
"Ahh...Sakit! Apa kubilang, Aku tak ingin ia menatap dia karena akan membuatku sakit. Seperti juga yang dia rasakan."
"Maaf...bukan maksudku. Sungguh aku tak ingin."Adin ikut tersenyum palsu yang berarti kekecewaan karena jawaban dan tatapan Ibum tak memihak dirinya.
"Bum..."
"Hmm?" Ibum sibuk membolak - balikan halaman naskah novel Adin.
"Kenapa sih kamu gak pernah natap mata aku kalo lagi ngomong?" Ibum tercenung mendengarnya, ia berhenti membolak - balikan halaman naskah novel. Ia tau pasti Adin tengah menatapnya dalam saat ini.
"Ahh...Aku tambah sakit! Suruh ia berhenti memandangi dia!"
"Kau tak mengerti! Tak akan mengerti sebelum dia membalas tatapannya."Ibum merogoh ke dalam ranselnya, mengambil note kecil dan membukanya. Dirobeknya satu lembar kertas note itu yang penuh dengan tulisan tangan Ibum dan diberikannya kepada Adin, masih tanpa menatapnya. Adin membacanya, itu sebuah puisi. "Untuk Mata Jelita Itu" begitulah 4 kata yang tersurat di bagian paling atas kertas.
"Aku sudah mengirim itu padamu! Puisi Untuk Mata Jelita Itu. Itu untukmu. Untuk matanya. Hanya ia yang memiliki mata itu. Hahh!!! Memang perasaan seperti kita tidak mengenal logika! Hanya ada cinta dan keindahan dalam diri kita."
"Maaf...Aku tidak membacanya. Tapi kali ini ia pasti membacanya."Ekspresi Adin berubah setelah membaca puisi itu, entah kaget atau tak percaya. Ia memandang Ibum, hendak mengatakan sesuatu. Tapi Ibum yang kali ini menatapnya dalam menaruh telunjuknya di bibir Adin yang hampir terbuka.
"Cukup. Sekarang kau tau alasan aku tidak menatapmu. Aku hanya takut. Hanya takut tidak bisa melepaskanmu. Hanya takut menerima kenyataan kalau kau bukan untukku. Aku gak mau mendengar kata lain dari mulutmu selain kata yang sama dengan perasaanku sekarang. Aku Cinta Kamu."
Minggu 1 nov 2009, 8.37 pm
Labels: sepenggal kisah (cerpen)
Sang Penakluk Mimpi ; 30 Oct 2009
“Hahaha..kau pasti sudah tak ada di sini jika aku tidak menolongmu pagi tadi.”
“Heh…enak saja. Tanpa pertolonganmu, aku juga bisa lolos. Lariku lebih cepat dari Puma.” Cikal membantah membela diri.
“Hei..kalau larimu lebih cepat dari puma, kenapa tidak jadi atlet lari saja?” Adin yang mendegar ceritaku ikut meledek Cikal.
“Mauku juga begitu. Tapi nasib yang membuangku telantar di jalanan.” Gerutu Cikal. “Nasib bisa diubah kawan, tenang saja.” Aku menyemangati Cikal yang geram pada hidupnya.
“Dengan apa? Mimpi dan harapan?”
“Tepat sekali.” Aku membenarkannya yang disambut dengan wajah heran seakan berkata “Kau gila.”. “Tapi Ibum, kita hanya…gelandangan.” Adin juga ikut menyangkal pendapatku.
“Ya…gelandangan yang akan meraih mimpinya.” Cikal memutar matanya dan menyunggingkan senyum sinis meremehkan aku. Lalu ia masuk ke dalam tempat kediaman kami, tepatnya sebuah ruko kecil yang pengap dan usang berukuran 2x3 meter. Tentu saja kami tidak menyewanya. Kami hanya tiga orang anak yang menghabiskan setiap saat waktu kami di jalanan. Kami tinggal bertiga di ruko kecil di pinggir terminal. Ruko yang tak terurus, ditinggali pemiliknya karena lokasinya yang tak strategis, di belakang terminal yang tak dilewati pembeli. Karena itu kami berhasil menggergaji gemboknya dengan gergaji pinjaman milik supir angkot.
Aku duduk di teras ruko bersama Adin di sampingku. Aku melipat kakiku, menaruh daguku di atas lutut sambil memeluk kakiku. Adin pun melakukan hal yang serupa. Kami menatap langit yang dipenuhi bintang – bintang. Aku menengok ke arahnya, wajahnya sudah tak sekusam tadi siang. Tapi bajunya tetap saja dekil walau ia sudah mandi di tempat pemandian umum malam ini. Rambutnya bergelombang sampai dada. Matanya jeli, bibirnya tipis, kulitnya kuning langsat. Sebenarnya dia cantik menurutku. Hanya saja kecantikannya tertutupi oleh kotornya kehidupan kami. Ia teman mengamenku. Ya mengamen, agar bisa bertahan hidup di kota Jakarta yang seperti rimba di Afrika. Usiaku sama dengan Adin, seharusnya kami duduk di bangku SMA. Jika saja kami beruntung.
Aku menoleh ke belakang. Terlihat Cikal sudah tertidur pulas beralaskan kardus sebagai ranjangnya. Rambut keritingnya tak terurus berantakan, berwarna pirang matahari, kulitnya hitam kusam. Diantara kami dialah yang paling jarang mandi. Biarlah ia membuang lelahnya malam ini. Kehidupan keras menantinya esok hari. Ia tak mau ikut kami mengamen, ia hanya ingin mencopet. Karena itulah larinya cepat sekali. Hahh…sampai kapan kami hidup seperti ini. Aku ingin hidupku indah seperti sinar bulan di atas sana. Bukan seperti gelapnya langit malam ini.
“Sampai kapan kau mau melamun terus botak? Aku mau tidur.” Adin berdiri, masuk ke dalam ruko meninggalkanku. “Aku tidur di luar. Aku ingin melewati malamku bersama bulan penuh.” Jawabku. Adin memberikan selimut untukku. Aku membaringkan tubuhku di lantai teras ruko, menyelimutinya agar terlindung dari dinginnya angin malam ini. Aku terlentang melipat kedua tanganku di belakang kepalaku sebagai pengganti bantal. Aku menatap bulan yang melingkar sempurna, dan memejamkan mataku berharap sinar bulan menerangi mimpi dan hidupku nanti.
Hhhh…nikmat sekali meregangkan otot setelah seharian bekerja mengais rupiah di tengah keramaian kota. Aku merebahkan tubuhku di atas rumput lapangan sepak bola yang kering, tapi juga masih menampakan tanda – tanda kehidupan di warna hijaunya. Hidup segan mati tak mau. Heii..apa rumput ini menyindirku ya? Aku memasang posisi favoritku memandang langit. Terlentang sambil melipat kedua tangan di belakang kepala. Di sebelah kanan terbaring gitar butut penyambung hidupku. Dan Adin di sebelah kiri, yang duduk melipat kaki dan memeluknya sambil wajahnya ditengadahkan ke langit malam. Berharap bintang jatuh membawa kehidupan yang lebih baik.
Lapangan ini tidak jauh dari terminal, rumput – rumput hanya tumbuh di pinggir lapangan, dan sisanya adalah tanah kering yang berdebu. Dua gawang dari bambu terpasang di kedua ujung lapangan. Ini tempat favorit kami untuk melihat langit dan gemerlapnya kota di malam hari karena berdataran tinggi. Tak jarang juga cikal menyusul melepas sepinya dengan bergabung bersama kami.
“Apa impianmu Adinda?” Aku memecah kebisuan diantara kami. Adin menoleh padaku sebentar, lalu kembali menatap rasi bintang dua tiga dua, Orion. “Pergi ke Paris, melihat menara Eiffel. Seperti yang kulihat di poster – poster film bioskop.”
“Hah..kau menontonnya?” Kataku kaget sambil menoleh ke arahnya, tapi dia tak melepaskan pandangannya dari Orion. “Ahahaha..memangnya siapa diriku?” ia tertawa tanpa menoleh, Orion sangat memikatnya.
“Kau seorang Adinda Aya Alanys yang akan pergi ke Paris melihat menara Eiffel.” Adin tersenyum mendengar ucapanku. “Aku berjanji akan membawamu ke Paris tahun ini.”
“AHAHAHA…” tiba – tiba tawa keras Adin membuat jangkrik berhenti berderik. Entah apa yang lucu. “Kenapa kau tertawa?”
“Hahaha..aku tahu kau bohong besar tapi aku senang mendengarnya, terima kasih.” Jawabnya mencoba menghabiskan sisa tawa miliknya. “Hei, tak percayakah kamu hidup itu berawal dari mimpi?” Aku mencoba benar – benar serius kali ini.
“Iya, tapi kalau mimpi jangan terlalu tinggi.”
“Bila tidak bermimpi tinggi, bagaimana bisa kau raih sesuatu yang tinggi pula. Kau hanya akan mendapatkan hal – hal yang kecil yang membuatmu dilecehkan orang lain.”
“Ok..Ok..tapi hati – hati jika bermimpi terlalu tinggi. Kalau jatuh pasti sakit sekali.”
“Ya, benar. Aku setuju kalau jatuh dari ketinggian pasti akan sakit sekali. Tapi…anak balita juga tahu kalau kau terjatuh, harus bangkit lagi.” Dan akhirnya ia melepaskan pandangannya dari Orion, memandangku dengan senyum manisnya. “Entah darimana rasa ini muncul. Aku yakin seratus persen kau akan meraih impianmu, pemimpi.” Dan aku pun membalas senyumannya, ia menyulutkan api semangat di dadaku. Tak mungkinlah aku mengecewakan kepercayan sahabat seperti dia.
“Pemimpi itu hanya untuk pecundang.” Itu suara Cikal. Aku bangkit dari pembaringanku untuk melihat anak yang kepalanya sekeras batu. “Lihat aku bawa apa.” Serunya sambil memberiku sebuah gulungan, sepertinya poster. Kubuka gulungan itu, Adin merapat padaku ingin melihat juga. LOMBA ESTAFET MARATHON, begitulah bunyi tulisan paling besar yang ada di poster. Aku langsung memberikan poster itu pada Adin yang masih ingin membacanya, aku tak berminat. Kupandang Cikal yang berdiri sombong. “Untuk apa?”
“Kita ikut lomba itu.” Katanya. “Kita? Kau saja, aku tidak jago lari sepertimu.” Jawabku malas. “Heii, tidak kah kau lihat berapa jumlah hadiah pertamanya?’
“Dua puluh lima juta rupiah.” Aku menengok pada Adin, tak percaya dengan ucapannya. Aku merebut poster itu lagi, melihat pada bagian hadiah. Benar. “Banyak. Tapi percuma, aku dan Adin tak biasa lari, hanya kau yang paling cepat. Lagi pula, lomba ini dibuka untuk umum, dan se-Indonesia. Pasti banyak atlet – atlet yang ikut. Sedangkan kita…hanya gelandangan.”
“Gelandangan yang akan meraih mimpinya. Itu yang kau ucapkan kemarin. Tak malu kah kau pada dirimu sendiri? Menyerah sebelum bertanding.” Cikal membalikan kata – kataku. Tak mungkin aku menolak bila sudah seperti ini. “Ok..Ok..kita akan latihan setiap hari untuk memenangkan lomba itu.”
“Tapi..butuh dua ratus lima puluh ribu untuk biaya pendaftarannya. Tak cukup waktu kita mengumpulkan uang sebanyak itu sampai ditutupnya pendaftaran.” Adin membuatku tak percaya lagi. Aku merebut poster itu lagi untuk memastikan, dan sayangnya dia benar.
“Aku sudah tau cara kita dapatkan uang itu.” Cikal tersenyum licik. Aku sudah tahu apa yang ada di pikirannya. “Tidak! Aku tidak mau kalau mencuri. Tidak akan!” aku berdiri lalu berjalan meninggalkan mereka.
“Hei tak ada cara lain lagi kawan. Mencuri atau tidak sama sekali.” Cikal meneriaki aku, tapi tak kupedulikan, aku terus saja berjalan meninggalkan mereka. “Pergilah sana tidur! Mengkhayal sepuasmu! Nikmatilah impianmu hanya di alam mimpi, dasar pemimpi.”
Aku berhenti melangkah, berbalik “Hei..jangan sembarangan bicara. Hidupku berawal dari mimpi.” Kataku geram. “Sampai mati pun kau akan tersiksa dengan impianmu kalau kau hanya berani bermimpi tanpa berani bertindak!” sebuah tamparan keras menghantam pipiku, walaupun tak nyata. Ucapan Cikal menyadarkanku. Itu aku, aku yang selalu tersiksa dengan mimpi – mimpiku yang tak kunjung nyata. Mimpiku tinggi, yang selalu ada di dalam benakku tiap malam. Tapi sekali pun aku belum pernah berusaha mewujudkannya. Mungkin ini jalannya, tapi…aku tidak mau mencuri. Apa yang harus kulakukan?
“Kita meminjam, walaupun kita mencuri tapi kita akan mengembalikan uang itu dua kali lipat, bagaimana?” Adin berdiri dengan senyuman manisnya, sungguh memecahkan masalah.
“Hei Adin, jika kita di dera suatu masalah, kau selalu punya seratus solusi untuknya.” Kata Cikal tersenyum. “Itulah namanya sahabat.” Balas Adin lantang. Aku sungguh beruntung memiliki sahabat seperti mereka.
“Kami akan membayar dua kali lipat bila kami tidak berhasil jadi juara satu.” Cikal mencoba usahanya agar Adin boleh ikut dalam kejuaraan ini. Kami tengah melakukan pendaftaran, Adin seorang wanita, ia tak diperbolehkan ikut lomba oleh panitia gendut ini. “Menarik, tapi tidak. Begini saja…karena gadis itu yang jadi masalahnya, maka pertaruhkan dia. Dia cukup manis untukku, atau…untuk orang lain yang mau membayar padaku.” Si gendut brengsek itu sungguh melecehkan kami. Ingin sekali kuhajar wajahnya, kusundut pipinya dengan bara rokok yang dihisapnya.
“Tidak! Tak akan! Lupakan lomba ini.” Seru Cikal geram. Ia berjalan meninggalkan ruangan dan menyambar tangan Adin mengajaknya pergi. Tak ubahnya Cikal, wajah Adin tak sama geramnya. Tapi aku tak bisa biarkan ini.
“Oke..kau ambil dia jika kami tidak bisa jadi juara pertama.” Cikal dan Adin menghentikan langkahnya, menoleh padaku dengan wajah yang lebih marah dari yang barusan.
“Baiklah kalian boleh ikut. SELANJUTNYA!! Hei cepat keluar.” Si gendut memerintahkan kami keluar. Aku berjalan tanpa menghiraukan Cikal dan Adin, mereka mengejarku. Cikal menarik bahuku hingga membuat tubuhku memutar. “Apa yang kau lakukan Tolol?” Cikal membentakku. “Meraih impian kita.” Jawabku tenang.
“Tapi tidak dengan mengorbankan teman kita.” Ia tambah geram, matanya membelalak. Kulihat Adin, matanya berair penuh kekecewaan. “Kita tidak akan kehilangan Adin kalau kita juara pertama. Lagipula Adin mempercayaiku seratus persen aku akan berhasil meraih mimpi – mimpiku.”
“Tapi apa kita sudah pasti jadi juara pertama? Apa jaminannya? Hah?”
“Hei...kemana semangatmu yang kemarin? Untuk apa kita mencuri? Apa tujuan kita ikut ini? Lebih baik kau ambil kembali uang itu bila hanya ingin jadi yang kedua. Jadi yang pertama, atau mati!”
“Ibum benar. Jadi yang pertama, atau mati. Lebih baik aku melacur daripada hidup dupecundangi mimpi.” Adin menatapku tajam dari bola matanya yang berair. Penuh kepercayaan, semangat, atau bisa juga dibilang penuh dendam. Dendam pada hidup, dendam pada mimpi, dendam pada orang – orang yang melecehkan kami. Cikal meredam amarahnya, menatapku menaruh kepercayaan di bola mataku. “Baiklah. Jadi yang pertama, atau mati.”
“Cikal, berhentilah mencopet. Itu akan menghambat doaku dikabulkan oleh Tuhan.” Kataku terengah – engah. Kami sedang duduk istirahat di trotoar di sela – sela latihan lari kami. “Baiklah, demi kalian dan mimpi kita, aku berjanji tidak akan mencopet lagi.”
“Ya, aku percaya seorang pemula yang memiliki mimpi tinggi seperti kita mampu mematahkan teori – teori masuk akalnya para ahli. Karena para ahli berteori didampingi oleh guru besarnya, sedangkan pemula yang memiliki mimpi tinggi bertindak didampingi oleh Tuhan-nya.” Adin dan Cikal tersenyum mendengar kata – kataku.
Hhhh…sudah cukup istirahatnya. Aku mengambil sebongkah batu, lalu kulempar pada anjing besar yang melintas. PLAAKK..tepat sasaran. “LARII!! Anjing ngamuk!” aku berlari secepat kilat, Adin dan Cikal menoleh ke arah anjing lalu ikut lari bersamaku. Wajah mereka sangat panik, hahaha..aku berhasil. Aku tak mau digigit anjing. Aku benci anjing. Aku lari sekuat tenagaku. Begitu juga Adin dan Cikal. Kami bertiga berteriak katakutan, tapi Adin paling keras. Ia sangat takut dengan anjing. Hahaha..mengerikan tapi menyenangkan.
Entah berapa jauh kami lari, yang pasti kami lolos dari kejaran anjing itu. “TOLOL! Kau hampir membuatku mati. Aku paling takut anjing.” Adin meneriaki aku penuh amarah. “Hahaha..betulkah? Tapi kau lari paling cepat, bahkan lebih cepat dari Cikal.” Tawaku tercampur oleh nafasku yang hampir habis.
“Hei lihatlah, tiga orang gelandangan yang ingin memenangkan kejuaran estafet marathon hanya dengan berbekal mimpi.” Tiba – tiba kami menerima ejekan dari orang yang melecehkan kami saat pendaftaran. Ingin cari masalah rupanya. Aku berdiri menentangnya “Mimpi yang tinggi dan kepercayaan kepada Tuhan dengan sangat, disertai sebuah tindakan nyata. Akan mampu mengalahkan ucapan – ucapan merendahkan dan membungkam mulut besar orang – orang yang meremehkan kami seperti kalian.”
“Hei..sejak kapan gelandangan busuk berubah menjadi pujangga yang berani menentangku, lawan aku.” Ia menarik kerah bajuku. Memancing emosiku untuk menghajarnya. “Aku memang gelandangan, tapi aku bukan seorang yang bersikap sok jagoan yang sebenarnya kampungan. Lawan aku di lintasan!” dengan wajah sangat kesal ia melepaskan tangannya lalu pergi bersama dua temannya dengan rasa kesal. “Hahaha…kata – katamu hebat. Dasar pujangga jalanan.” Cikal tertawa lantang, menepuk bahuku keras dengan rasa puas yang sangat.
Berlari, berlari dan berlari. Hanya itu yang kulakukan selama dua bulan terakhir. Kami tak akan menyerah. Walau harus berpeluhan, walau harus terjatuh, walau harus terluka, kami tidak peduli. Menjadi yang pertama, atau mati. Terlalu banyak hal berharga yang dipertaruhkan pada lomba ini. Termasuk Adin, teman terbaik. Hal yang tak mungkin membuat kami menyerah menjadi yang kedua. Kami terus berlatih dengan dikejar anjing. Pernah Cikal meneriaki aku sebagai copet yang membuatku lari terbirit – birit. Katanya itu bagian dari latihan.
Aku duduk di teras ruko bersama Adin, membicarakan pertandingan esok. Tapi tiba – tiba Cikal mengejutkan kami. Ia jalan terhuyung – huyung tak berdaya. “Maaf aku ketauan mencopet.” Ia jatuhkan tubuhnya di teras ruko. “Maaf sungguh aku menyesal.”
“Apa yang kau lakukan Tolol! Lihat dirimu, bagaimana bisa kau ikut lomba besok dengan luka seperti ini.” Cikal tak menimpali, hanya kata maaf yang keluar dari mulutnya. “Kau menghancurkan mimpi kita! Perbuatanmu membuat Tuhan marah, melunturkan doaku, menghempaskan harapan kita.” Ia berdiri. Aku sungguh kesal padanya.
“HEH! Aku memang keras kepala, aku pencopet, aku tidak berkelakuan baik sepertimu. Tapi bukan kau yang hanya punya Tuhan. Aku menyesal, aku mengaku salah, aku meminta maaf. Tapi kenapa kau tidak memaafkanku. Sedangkan Tuhan saja mau mengampuni dosa hambanya. Apa kau lebih hebat dari Tuhan? Apa kau pikir bisa meraih mimpimu seorang diri?”
“Jangan sembarangan bicara!” aku mendaratkan kepalanku di pipi Cikal yang sudah membiru hingga ia terjatuh. “Cukup!!” kata Adin, tapi kami tak peduli. Ia bangkit, mengambil sebuah papan lalu menghantamkannya ke bahuku. BRAAKK..papan itu terbelah dua, bahuku sakit sekali. Tak tahan, aku tendang perut Cikal hingga ia membentur pintu geser ruko, lalu terjatuh. “SUDAH CUKUUPP!!” teriakan Adin menghentikan perkelahian kami. Kami menegok ke arahnya, air mata membanjiri pipinya. “Untuk apa kalian berkelahi? Apa perkelahian ini bisa membuat kita menang besok?” kami berdua terdiam.
“Kau Ibum!! Kau janji mau membawaku ke Paris. Bisakah dengan mengalahkan Cikal dan kau jadi pemenangnya bisa membawaku ke Paris? Kau pernah bilang akan mengalahkan lawanmu di lintasan, bukan mengalahkan temanmu sendiri dengan sok jagoan yang sebenarnya kampungan.”
“Kau Cikal!! Kau mengingkari janjimu untuk tidak mencopet. Yang akhirnya membuat kau babak belur seperti ini. Masih bisakah kau berlari mengejar mimpi esok hari? Di pertandingan? Hidupku dipertaruhkan disini Cikal, harga diriku! Dengan sikapmu seperti itu sama saja kau menjualku!!” Adin menangis histeris, meraung – raung. Aku dan Cikal hanya bisa diam dalam penyesalan. Lidah ini terasa kelu untuk berkata – kata. Cikal mencoba bangkit dengan susah payah lalu berjalan meninggalkan kami tanpa bicara. “Cikal! Cikal!! Mau kemana kau pengecut? Lari kah jawaban dari semua ini jagoan? Hah? SAMPAH!!” emosi Adin sangat tidak terkontrol, ia sangat kacau, air matanya terus mengalir deras. Aku mencoba mendekatinya, mencoba menghiburnya. “PERGI KAU!! Kau juga Sampah!! Pemimpi!! Makan semua khayalmu!! Kau telah menjualku, tak bertanggung jawab! PERGII!!!”
Aku pun meninggalkan Adin yang sangat kacau, menangis sendirian di ruko kesayangan kami. Aku tak tega melihatnya. Hancur, semua hancur berantakan. Hidupku, persahabatanku, mimpiku. Tak ada yang tersisa. Tak ada gunanya lagi aku hidup, lebih baik aku mati, tak ada lagi yang pertama. Aku pergi ke lapangan favoritku, sendiri. Biasanya disini aku menatap langit bersama Adin, disini juga pertengkaran kecil awal mimpi kami dimulai. Tapi semuanya telah berakhir. Tak ada lagi Adin, tak ada lagi Cikal, tak ada pertandingan, tak ada mimpi, tak ada hidup. Aku membaringkan tubuhku di atas rumput, memejamkan mataku berharap tak bangun lagi.
Aku membuka mata, sial aku masih hidup. Lonceng pagi yang berkokok membangunkanku. Hari ini pertandingan dimulai, tepat jam tujuh. Aku bergegas ke tempat lomba. Entah angin apa yang membawaku kesana. Sampai disana ramai sekali. Semua peserta hadir dengan berpakaian olah raga rapi, tidak pakaian gembel sepertiku. Aku menengok kesana kemari. Berharap melihat teman – temanku. Ah tidak mungkin mereka kesini. “IBUMM” itu suara Adin. Dia datang menghampiriku. Dia berpakaian rapi tak sekacau tadi malam. Lengkap dengan pakaian dan sepatu olah raga. “Pakai ini, cepat tak ada waktu.” Ia menyerahkan pakaian dan sepatu olah raga yang entah ia dapat dari mana. “Adin..kau…datang? dimana Cikal?”
“Tentu saja, tak mungkin aku menghancurkan mimpi, hidup dan persahabatan yang kita rangkai bertahun – tahun hanya dalam semalam. Cepat ganti pakaianmu, Cikal sedang ganti pakaian.” Aku bergegas ganti pakaian di toilet. Setelah selesai aku kembali pada Adin. Sudah ada Cikal dan satu orang wanita dewasa yang tak kukenal, sepertinya ia yang memberikan semua ini. Cikal tersenyum padaku.
“Maafkan aku. Aku salah tentang mimpi hanya untuk pecundang. Tapi menyerah yang hanya untuk pecundang.”
“Aku baru sadar, kawan. Seberapa pun kuat usahaku tak akan mungkin aku menggapai mimpi sendirian. Aku butuh kalian.” Kataku. “Simpan obrolan kalian, bersiaplah di posisimu masing – masing. Jangan lepas tongkat ini, anggap ini persahabatan kita.” Adin memberikan tongkat estafet pada Cikal. Ia pelari pertama, Adin di posisi kedua dan aku akan mengakhirinya sampai garis finis. Aku bersiap pada posisiku, melihat para sainganku, huff orang itu lagi. Kami bertatapan, saling mengalahkan lewat tatapan. Aku akan mengalahkannya. Yaa.. pertandingan sudah dimulai. Aku bisa memantaunya dari layar yang terpampang disini. Bagus Cikal, kau memang seperti Puma. Walaupun terluka ia tetap berlari cepat. Terlihat dibelakang tertinggal jauh musuh – musuhnya. Bagus kawan, lari terus.
Tongkat sudah berpindah tangan pada Adin. Lari Adin, kau orang pertama yang berlari. Larilah seakan anjing mengejar di belakangmu. Larilah secepat kilat. Tapi…musuhnya mulai menyusul. Adin satu – satunya pelari wanita di pertandingan ini. Tidak kemana Adin? Layar itu tak menampilkan gambar Adin. Hanya pelari terdepan yang terlihat. Aku bersiap – siap di lintasan sambil terus menatap layar. Ayo Adin. Pelari pertama memberikan tongkat estafetnya pada orang terakhir. Dua, tiga, empat orang sudah berlari. Ayo Adin. Itu dia…lari Adin, terus. Dan akhirnya ia memberikan tongkat itu padaku. “Maaf” katanya. “Simpan untuk pidato kemenangan!” aku berlari secepat kilat. Aku tertinggal empat orang di depanku. Aku harus menyusulnya. Baiklah Ibum, berlarilah, larii. Pikirkan Adin, ia akan kau jual jika tidak jadi yang pertama. Apa kau setega itu dengan sahabatmu? Lariii..
Yaa..aku berhasil melewati orang ke-empat dan ke-tiga sekaligus. Tinggal dua lagi, lari Ibum. Ingat kejadian tadi malam. Perkelahian itu, pertengkaran itu, kau berhasil melewati malam terburukmu. Masa tidak bisa melewati dua orang lagi. Larii…dan yak..berhasil. tinggal satu lagi Ibum. Ya, hampir sampai, hampir menyamai. Lihat musuhmu, ahh tidak orang itu lagi. Baguslah akan kubuktikan ucapanku. Lari Ibum, lari. Untuk sahabat dan mimpimu. Kau yang menentukan disini. Dan ya,,aku sejajar, tinggal melewatinya. Garis finis sudah di depan mata, lewati dia. Lari Ibum, larii…AHH…tidak…GUBRAAKK…apa ini? Aku terjatuh? Tak mungkin!! Aku tak terima ini. Bangun Ibum, bangun! Terus bangkit walau nanti akan terjatuh lagi. Aku berlari lagi. Orang ketiga hampir menyusulku. Tapi..aku yang kedua..yang pertama? Di depan? Tidak mungkin lari Ibum lariiii. Tak mungkin jadi yang kedua, pertama atau mati. Orang itu tiga meter dariku. Tapi hampir finis…lari Ibum..pertama atau mati….dua meter….lariii…Adin di pertaruhkan di pertandingan ini….satu meter….mimpi…mimpi…pertama atau mati………..
“Yaa,,juara pertama adalah nomor 99, kedua 111, ketiga 14, keempat 200, kelima 72…” suara dari pengeras itu…pertama adalah 99…berapa nomorku? Di dada..di dada..nomornya di dada…99…Tidak…ini 111…aku kedua?? Tidak…tidak mungkin...aku berlutut tak percaya..tidakkk…aku berlutut menundukan kepalaku. Air mata menetes di pipiku. Adin…Adin…tak mungkin aku menjualnya..dia sahabatku. Seharusnya tak kupertaruhkan dia, dia sahabatku. Air mata terus mengalir. Tiba – tiba ada yang menepuk bahuku, aku menatapnya. Cikal….dengan wajah penuh kekecewaan. Dan Adin…ia tersenyum tapi air mata mengalir di pipinya. Senyum penuh kekecewaan. “Aku rela..aku ikhlas..” kata Adin sambil menahan tangis. Mimpi…ini mimpi…aku tak tahan melihat akhir drama seperti ini. Ini mimpi…bangunkan aku…
“Maaf, ada kekeliruan. Salah satu juri kami melihat kecurangan. Nmor 99 di diskualifikasi. Ia melakukan kecurangan dengan menjegal kaki nomor 111 hingga terjatuh. Maka, nomor 111 menjadi juara pertrama, diikuti yang lain naik satu peringkat.”
“Itu?” wajah Adin berubah senang, begitu juga Cikal. “Benarkah?” kataku. “Ya, kita pertama.” Kata Adin bersorak. Aku Adin dan Cikal merayakan kemenangan. Tak terasa air mata kami menetes di pelukan.
“Menara yang menjulang itu…bukan Monas kan?” tanyaku pada Adin yang duduk melipat kaki di sampingku. “Hahaha..memangnya di Jakarta. Itu Eiffel.” Kata Adin tanpa melepas pandangan dari Eiffel.
“Hei pemimpi!” Cikal berteriak. “Maksudku, Sang Penakluk Mimpi. Apa hanya dengan memandangi Eiffel bisa membuat kita memenangi kejuaraan ini, atas nama Indonesia?”
“Tentu saja tidak. Ayo kita latihan, bekerja keras untuk meraih mimpi yang belum kita taklukan.”
Akankah aku bisa jadi pemenang seperti ini seandainya sahabatku bukanlah kamu? Mungkin tidak, karena kau adalah sahabat terbaik yang diciptakan Tuhan untukku.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)