Untuk Mata Jelita Itu (part 2) ; 2 Nov 2009

"Cukup Pergi dari sini! Kau membuatku makin terpuruk!"
"Baiklah, aku tak akan masuk. Tapi biarkan aku berdiri di sini."


Ibum asyik mendengarkan Adin yang berceloteh riang. Tapi ia sama sekali tak menatap binar kedua bola mata Adin yang penuh warna. Seperti nama pemiliknya, Adina Pelangi.
"Jadi tuh ceritanya tentang anak jalanan yang berusaha menggapai mimpinya." gadis yang belum lama dikenal Ibum namun bukan baru - baru ini ia memperhatikannya begitu antusias menceritakan kisah dari novel karyanya sendiri. Tatapannya dilekatkan pada mata Ibum dalam - dalam yang hanya dibalasnya sebentar - sebentar.


"Cukup!! Jangan tatap mata dia lagi! Sudah kubilang pergi!"
"Salahkah ia hanya menatapnya? Ia tidak mengharapkan lebih darinya."



"Oke, nanti aku baca deh. Kayaknya......" Ibum terpaku, lisannya menemukan jalan buntu saat matanya menatap bulat bola mata Adin yang jelita.
"Kayaknya apa?" Adin tambah dalam menyelami tatapan Ibum.
"Ah..." Ibum mengalihkan pandangan pada sejuknya pohon - pohon teduh yang memayungi mahasiswa - mahasiswa berjalan kaki. "....Kayaknya bagus...hehe..." Ia menyembunyikan suatu rasa dibalik senyum palsu yang dibuat - buatnya.


"Ahh...Sakit! Apa kubilang, Aku tak ingin ia menatap dia karena akan membuatku sakit. Seperti juga yang dia rasakan."
"Maaf...bukan maksudku. Sungguh aku tak ingin."



Adin ikut tersenyum palsu yang berarti kekecewaan karena jawaban dan tatapan Ibum tak memihak dirinya.
"Bum..."
"Hmm?" Ibum sibuk membolak - balikan halaman naskah novel Adin.
"Kenapa sih kamu gak pernah natap mata aku kalo lagi ngomong?" Ibum tercenung mendengarnya, ia berhenti membolak - balikan halaman naskah novel. Ia tau pasti Adin tengah menatapnya dalam saat ini.


"Ahh...Aku tambah sakit! Suruh ia berhenti memandangi dia!"
"Kau tak mengerti! Tak akan mengerti sebelum dia membalas tatapannya."



Ibum merogoh ke dalam ranselnya, mengambil note kecil dan membukanya. Dirobeknya satu lembar kertas note itu yang penuh dengan tulisan tangan Ibum dan diberikannya kepada Adin, masih tanpa menatapnya. Adin membacanya, itu sebuah puisi. "Untuk Mata Jelita Itu" begitulah 4 kata yang tersurat di bagian paling atas kertas.


"Aku sudah mengirim itu padamu! Puisi Untuk Mata Jelita Itu. Itu untukmu. Untuk matanya. Hanya ia yang memiliki mata itu. Hahh!!! Memang perasaan seperti kita tidak mengenal logika! Hanya ada cinta dan keindahan dalam diri kita."
"Maaf...Aku tidak membacanya. Tapi kali ini ia pasti membacanya."



Ekspresi Adin berubah setelah membaca puisi itu, entah kaget atau tak percaya. Ia memandang Ibum, hendak mengatakan sesuatu. Tapi Ibum yang kali ini menatapnya dalam menaruh telunjuknya di bibir Adin yang hampir terbuka.
"Cukup. Sekarang kau tau alasan aku tidak menatapmu. Aku hanya takut. Hanya takut tidak bisa melepaskanmu. Hanya takut menerima kenyataan kalau kau bukan untukku. Aku gak mau mendengar kata lain dari mulutmu selain kata yang sama dengan perasaanku sekarang. Aku Cinta Kamu."





Minggu 1 nov 2009, 8.37 pm

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »