Aku Mencintaimu Tak Dalam Aksara ; 6 Jan 2011

“Hei gadis kecil, kemari.” Panggil bapak aki yang sedang menikmati teh sore harinya di ruang tamu. Aku menyahut lalu menghampirinya, walau detik milikku sebagian terbagi, dan pergi.

“Ada apa, Ki?”

“Aki mau minta tolong sama kamu, mau kan?”

“Tapi, Ki. Aku sebentar lagi mau….”

“Hei, gadis kecil. Aki cuma minta tolong sedikit saja. Mau kan?” Belum usai aku berkata, sudah dipenggal kalimatku oleh permohonan aki. Kata terakhirku menyangkut di kerongkongan.

Ia tak memaksa. Tapi sejak kecil aku selalu diajari untuk tidak menolak permintaan tolong orang lain, terlebih bapak aki-ku sendiri. Sedikit, aku menyimpan dongkol di bawah leher. Mungkin, 4:1, 4 dongkol, 1 ikhlas.

Bagaimana tidak? Aku sudah memiliki janji dengan Wira. Malam ini ia akan mengajakku ke suatu bukit, lalu mengenalkanku satu per satu pada para ksatria malam.

“Aki minta tolong, tuliskan sesuatu untuk emak.”

“Tapi ki, emak kan…”

“Hushh, sudah. Kamu tuliskan saja ya gadis kecil. Aki yang diktekan. Kalau aki bisa menulis, aki juga tak akan menyuruhmu.”

Lagi-lagi kalimatku dipotong. Kata-kata itu terbendung di kerongkongan bersama kesal di leher yang semakin membesar. Aku hanya bisa membatin. Namun aki tetap mempertahankan senyumnya.

Aki sudah mempersiapkan kertas dan pena, ia berikan keduanya padaku. Lalu ia mulai mendikte, aku mulai menuliskannya.

Awalnya kesal masih melekat di leherku, menjalar menelusuri kulit menuju tangan kananku, kemudian hinggap di batang pena, meresap di telan tinta, namun hilang saat kutuliskan pada sebuah kata. Kata yang Aki ucapkan untuk emak, panggilan untuk nenek. Aku merasa tak ada lain selain cinta, yang menempel pada tinta yang kutulis dalam kata. Meski aku tahu persis aku menuliskannya dengan hati yang sedikit berpenyakit. Aki, walaupun ia buta aksara tapi kata-katanya… mampu mengumpulkan segumpal air di pelupuk mataku. Hampir jatuh. Satu kata lagi penuh makna aku tak janji air mataku masih bisa terbendung.

“Sudah? Tolong masukkan ke amplop ini.” Aki memberikanku sehelai amplop putih polos tanpa noda sedikit pun. Memintaku memasukkan suratnya ke dalam amplop itu.

“Gadis kecil, tunggu.” Bapak Aki benar-benar hobi memotong segala sesuatu rupanya. Tak hanya kalimat, tapi hal yang kulakukan pun tak segan ia penggal. Semoga leherku tak ikut-ikut ia penggal.

Ia mengambil dompet dari saku belakang celananya, lalu membukanya. Asikk dapat duit! Tak sia-sia ternyata aku menulis sebuah surat seperti ini.

“Kamu masukan bunga ini bersama surat itu, ke dalam amplop.”

Pupus harapanku. Ternyata ia mengambil beberapa pucuk bunga Eidelwise dari dompetnya. Bunga berwarna hijau kelabu itu sudah gepeng karena terlalu lama di taruh dalam dompet. Aki menaruhnya di tempat yang seharusnya sebuah foto melekat di sana.

“Tak apa walau sedikit gepeng. Wanginya masih sama saat pertama kali aku mendapatkannya.” Katanya sambil tersenyum.

Aku manut. Memasukkan surat yang sudah kutulis dan beberapa pucuk bunga Eidelwise yang sudah gepeng ke dalam amplop. Lalu sebagai akhir aku melepas plastik lem untuk menutup rapat-rapat amplop tersebut. Akhirnya, selesai. Tapi…

“Tuliskan nama dan alamat rumah nenekmu, juga nama dan alamat aki sebagai pengirimnya. Lalu tempelkan perangko ini.” ternyata belum.

“Tapi Ki, emak kan…”

“Sudah, ikuti saja perintah aki. Ayo cepat tempel perangkonya.” Kata aki seraya memberiku perangko enam ribu, bergambar bunga Eidelwise.

Lagi-lagi aku manut. Tapi kali ini tanpa kesal. Dan sepertinya aku tahu selanjutnya apa yang harus kulakukan.

“Sudah. Sekarang aku kirim surat ini ke Emak, kan?” kataku menebak perintah Aki selanjutnya. Dan pria tua itu pun mengangguk sambil terus melengkungkan senyum di bibirnya.

“Terima kasih, gadis kecil.” Sifatnya tak pernah berubah sejak dulu, begitu juga dengan panggilanya untukku 20 tahun lalu.

Tanpa banyak mengeluh lagi, aku beranjak ke teras rumah. Menghampiri nenek yang tengah menikmati teh sore harinya bersama senyum senja dan belai sepoi angin. Untuk memberikan surat cinta dari kakek.

Nenek heran saat kukatakan ia dikirimi surat dari kakek. Keriput semakin terlihat di wajahnya ketika ia mengerutkan dahi. Namun pelik yang dirasanya diabaikan dan diubahnya jadi senyuman. Ia meraih surat itu. Melihat tulisanku yang terukir di sana.

Kepada Humaira-ku
Jl. Anggrek Bulan no.11, teras rumah


Melihat sebentar pada perangko bergambar bunga Eidelwise, mengusapnya perlahan. Lalu membalikkan amplop tersebut untuk melihat alamat bapak aki yang tertulis.

Dari lelaki-mu
Jl. Anggrek Bulan no.11, ruang tamu


Dan senyum emak kini berubah tertawa melihat tulisanku yang satu itu. Ia membuka amplop dengan merobek bagian atasnya, lalu ia keluarkan surat di dalamnya. Dan ia pun terkejut dengan bunga Eidelwise gepeng yang berada dalam amplop itu. Ia mengambil serta bunga Eidelwise perlahan, lalu mendekatkan ke hidungnya. Mencium harumnya.

“Wanginya masih sama sejak 48 tahun yang lalu. Walau bentuknya sudah tak seindah dulu.” Dengan tersenyum, emak memberikan surat itu kepadaku.

“Tolong, Zahra. Aku tak akan memintamu andai aku bisa membacanya sendiri.”

Aku tersenyum memandang wajahnya yang penuh kerutan. Tapi tidak dengan cintanya yang masih seperti wanita usia dua puluhan. Aku sama sekali tak merasakan pedih ada di sekitar sini.

Kuraih kertas yang beberapa menit lalu baru saja kulipat. Kemudian kubuka lipatan itu, dan membaca tulisan yang sekejap lalu kutulis sendiri.
Aku mulai membacakannya…




Teruntuk, bidadariku di dunia dan di surga
Humaira,

Aku tahu kau tak akan geleng-geleng kepala menerima perlakuan dariku seperti ini, kau pasti akan tersenyum. Karena cuma kamu wanita yang begitu menghargai tiap cinta yang kuberikan. Karena kau adalah sebaik-baik perhiasan di dunia yang aku milikki.
Humaira, meski namamu adalah panggilan sayang Muhammad kepada Aisyah, aku akan tetap mencintaimu seperti Muhammad mencintai Khadijah. Dan bila waktuku telah sampai lebih dulu, aku ingin mati di atas pangkuanmu. Kau peluk aku sampai ruh benar-benar tercabut dari tubuhku, seperti wafatnya Muhammad di pangkuan Aisyah.
Dan kumohon, jangan terlalu lama kau tinggalkan aku sendirian. Kau tahu aku selalu rapuh tanpamu. Beri tanda bila waktumu hampir sampai, aku akan menjemputmu bersama malaikat.
Kau tahu? Hampir 50 tahun aku mencintaimu dan 48 tahun aku hidup bersamamu. Jadi wajar aku berpesan seperti itu, kau juga tahu, aku tak ingin terlalu lama tua seperti kamu yang dulu tak menginginkan tua.
48 bukan angka yang sedikit Humaira. Bukan seperti waktu aku menikmati es krim pemberianmu kemarin yang cepat habis, bukan pula seperti aku menikmati secangkir teh buatanmu yang habis sekali senja. Tapi waktu yang membuat keriput wajah kita terlihat tua dan kaki kita begitu lemah tak berdaya. Tapi seperti yang kau tahu Humaira, cintaku padamu tak akan pernah tua. Seperti halnya cintamu padaku yang selalu muda.
Kau lihat Eidelwise yang kau pegang saat ini? Kau ingat? Itu bunga yang kau berikan padaku saat umur kita masih dua puluh. Saat kakimu masih tangguh menanjak gunung Semeru. Saat kau permalukan aku yang belum pernah sekali pun mendaki gunung, sedang kau entah tak terhitung menaklukkan gunung. Bunga itu selalu tersimpan dalam dompetku sejak 48 tahun lalu. Tanda cintamu padaku.
Bukan, cinta kita bukan seperti Eidelwise yang abadi dalam dompetku. Tapi karena cintamu padaku, cintaku padamu, bunga itu tetap abadi. Eidelwise yang meniru cinta kita, sayang.
Batariku, aku memang tak bisa menulis seperti kamu tidak bisa membaca. Aku pun tak belajar menulis puisi seperti kamu tak belajar membaca puisi. Dan kau tahu itu, al-quran telah mengajari kita banyak hal. Termasuk membuat puisi tanpa pernah sekali pun kau belajar menulis. Seperti kau yang tak pandai bernyanyi tapi suaramu seindah nyanyian bidadari saat mengaji. Karena Dialah pujangga maha indah, yang telah menulis puisi paling suci. Di jagad raya.
Selamat ulang tahun,
Nb. Aku tahu kau lupa hari ulang tahunmu, dan hanya mengingat hari ulang tahunku dan ulang tahun pernikahan kita. Seperti aku yang melupakan hari ulang tahunku, dan hanya ingat hari ulang tahunmu dan ulang tahun pernikahan kita.


Aku mencintaimu,

Lelakimu



Tak bisa kutahan lagi. Air mata ini sudah meleleh sedari tadi. Aku tak bisa membendungnya. Dan kulihat wajah emak, hanya tersisa bekas air mata yang beranak sungai di atas pipi keriputnya. Ia tak melihatku, melainkan senja yang hampir habis. Matahari yang tak berdaya tenggelam. Matahari yang buru-buru bersembunyi, malu jika air matanya terlihat karena mendengar aku membacakan surat.


BUTA AKSARA. Kakek memintaku menuliskan surat cinta untuk nenek. Nenek memintaku membacakannya. ~ @winnywitana

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »