Hutang Budi Pada Negara ; 28 Apr 2012


Kawan, kalian tahu Yayasan Indonesia Mengajar? Aku tahu itu sudah sejak beberapa bulan belakangan. Lewat temanku, Ajeng, yang meliput launching buku Indonesia Mengajar. Dia menjelaskan bahwa Indonesia Mengajar adalah sekumpulan sarjana muda yang dikirim ke pelosok negeri untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak Indonesia yang haus pelajaran namun kekurangan tenaga pengajar. Awalnya, aku tak punya atensi lebih untuk itu. Hanya sekedar tahu, lalu merasa cukup. Namun beberapa hari lalu aku melihat pesan yang diretweet oleh bunda @helvy. Isinya, tentang pendaftaran pengajar muda angkatan V. Penasaran, aku buka dan baca tautan itu. Sejak masa pendewasaanku, hatiku mulai berkonsentrasi pendidikan, anak-anak, dan Indonesia. Terlebih anak-anak bangsa di pelosok negeri. Kubaca beberapa informasi di web indonesiamengajar, aku tertarik ingin jadi pengajar muda. Namun sayangnya, pendaftaran yang dibuka sejak April itu ditutup pertengahan Mei. Masa penugasan mulai November. Aku yang akan sidang mulai Juli dan wisuda sekitar Oktober tak punya kesempatan untuk kali ini. Tak apa, barangkali aku bisa mencoba awal tahun depan di angkatan VI.

Yang ingin kuceritakan bukan hanya keinginanku, tapi pelajaran baru yang kudapatkan dari kisah kawan-kawan yang telah menjadi pengajar muda. Aku membaca kisah-kisah yang mereka tulis selama mengajar di ujung Indonesia. Tentang anak-anak Indonesia yang tetap semangat belajar meski keadaan tak memungkinkan, tentang kondisi sekolah di pedalaman, tentang keceriaan mereka selama belajar, tentang perjuangan dan juga tentang alam Indonesia yang benar-benar menakjubkan. Membaca kisah mereka, sesuatu bergetar di dalam dadaku, mataku tanpa kusadari meneduh dan menampung air yang tak bisa jatuh. Mereka, anak-anak di ujung-ujung Indonesia, memanggilku secara batiniah.
Aku menyukai anak-anak, sangat suka. Aku selalu ingin menjadi sahabat mereka.

Sering aku mendengar kabar tentang pendidikan Indonesia yang timpang, terutama di ujung-ujung Indonesia. Di Merauke, siswa sekolah dasar harus menyusuri sungai dua hari satu malam untuk melaksanakan ujian di sekolah tumpangan. Bermalam di pinggir sungai yang dihuni nyamuk dan buaya. Di Pegunungan Wanem, siswa sekolah dasar harus berlari selama dua jam naik turun bukit untuk sampai di sekolah. Di pedalaman Cianjur, siswa SMP harus berangkat sejak pukul 4 pagi untuk sampai ke sekolahnya yang berada di pusat keramaian. Kabar yang santer diberitakan beberapa waktu lalu, siswa sekolah dasar harus merambat pada jembatan gantung yang rubuh untuk menyebrang sungai demi bersekolah.
Tak usah bandingkan pedihnya perjuangan dan sekolah miskin mereka dengan anggaran milyaran rupiah untuk pembangunan gedung DPR. Tak usah memaki para koruptor yang menelan uang rakyat bermilyar-milyar rupiah. Tak usah. Sudah terlalu klise untuk membicarakan hal itu. Yang mereka butuh adalah tindakan, bukan pembicaraan.
Berhenti mengecam kegelapan, nyalakan lilin! Itu yang dikatakan Indonesia mengajar. Anies Baswedan juga bilang, “Mendidik adalah tugas konstitusional negara, tapi sesungguhnya mendidik adalah tugas moral tiap orang terdidik.”

Saat ini, aku belum memiliki harta yang banyak untuk membantu mereka lewat materi. Tapi aku punya jiwa, raga dan ilmu. Aku memegang lilin. Aku mempunyai tanggung jawab sebagai orang yang terdidik. Aku memiliki hutang kepada pahlawan-pahlawan negara, pada ibu pertiwi, pada bangsa dan tanah air, pada Indonesia. Aku mempunyai janji yang harus kutepati sebagai anak yang terlahir di masa yang tak ada lagi perang. Janji untuk mengisi kemerdekaan, untuk mencerdaskan bangsa. Seperti yang dikatakan Pramoedya, “Seorang terpelajar harus adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.” Aku harus adil pada mereka. Mereka yang haus pelajaran dan rela tertatih untuk mendapatkan pendidikan. Sedang di sini aku mendapatkannya seperti tanpa usaha. Mereka anak Indonesia. Sudah menjadi haknya mendapatkan pelajaran dan pendidikan yang sama seperti anak seusianya di Jakarta. Karena Merauke, Cianjur, Lebak, Pegunungan Wanem dan Jakarta, sama-sama Indonesia.

Rabb, aku tahu tanpa Kau membaca tulisanku ini, Engkau sudah mengerti apa keinginan dan niatku sejak dalam hati. Maka dengan kehendakMu, izinkanlah aku melakukan keinginan-keinginanku. Melunasi hutang budiku pada tanah air, pada Indonesia Raya. Amin.

Labels: ,

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »