Udara Dini Hari ; 20 Apr 2012


Aku menyukai fotografi. Karena dengan bersahabat dengannya, aku bisa diantar berjalan-jalan ke masa lalu. Siang ini, saat aku sedang berada pada tiga tahun lalu, aku menemukan sebuah foto. Foto yang dulu serasa biasa saja. Namun hari ini, setelah aku menekurinya, aku mengucap syukur untuk segala yang aku punya. Hanya foto yang sangat biasa, yang diambil oleh temanku dengan kamera handphone.




Entah tanggal berapa pada 2009, aku bersama tiga orang kawan melewati malam di kota Bogor. Hanya perjalanan iseng tanpa tujuan. Berwisata kuliner di berbagai tempat. Dari jam 7 malam, sampai jam 4 pagi. Dari yang ramai pengunjung, sampai tak ada tempat untuk disinggahi lagi. Alhasil kami memutuskan beristirahat di sebuah emperan ruko. Entah kenapa kami memiliih tempat itu. Terbiasa, barangkali. Pergi malam-malam dan tidur di mana saja sudah biasa kami jalani sebagai mahasiswa jurnalistik. Dan dini hari itu, kira-kira pukul empat pagi. Aku sudah tak mampu melawan kantuk. Terlelaplah aku bersama seorang teman. Sedang dua orang teman yang lain berbincang menunggu pagi datang. Tahukah kawan, udara dini hari di pinggir jalan itu sungguh dingin sekali. Sangat dingin. Gigiku bergemelutuk seperti anak kecil yang sudah dua jam mandi hujan.

Saat itu aku tak merasakan apa-apa. Tapi hari ini, setelah kulihat foto itu dan kurasakan lagi dinginnya udara dini hari. Aku berpikir tentang saudara-saudaraku yang kurang beruntung. Yang hidup tanpa pernah pulang ke rumah. Yang bersahabat dengan teriknya matahari dan dinginnya dini hari.  Yang merasakan dinginnya angin pagi seperti yang kurasakan itu setiap malam, setiap hari.

Terkadang, seseorang memang harus turun ke bawah lebih dulu dan setelahnya mendongak ke angkasa. Agar bisa melihat nikmat Tuhan yang teramat besar, untuk kemudian mensyukurinya.

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »