Sesuatu yang Kadang Tak Kita Sadari ; 17 May 2012
Belakangan banyak
kejadian yang mengisap perhatian sebagian warga Indonesia. Kabar tak pernah
berhenti diwartakan, entah itu bencana, konflik, kasus korupsi, hiburan,
sekedar pernikahan selebritis dan macam-macam lainnya. Dan yang terisap oleh
perhatian kembali dimuntahkan dengan tanggapan yang tak kalah derasnya dari
pemberitaan itu sendiri. Sedikit mengambil sampel dari satu populasi, yaitu linimasa
saya sendiri. Begitu suatu isu dihampar, tanggapan kembali menghambur dengan
berbagai macam. Dan yang menjadi perhatian saya adalah; orang-orang yang secara
tak sadar mereka terjebak perangkap agenda media.
Sadarkah? Apa yang
kerap diributkan dan diperdebatkan oleh kita barangkali adalah apa yang
diinginkan media? Lebih tepatnya apa yang diinginkan oleh pemilik atau penguasa
institusi media tersebut. Dari realitas atau isu yang ada, media
mengkonstruksinya untuk membentuk wacana tertentu yang diinginkan terbentuk
pada diri khalayak; kita. Tujuannya? Macam-macam. Ekonomi, politik, sosial
budaya dan hal-hal lain.
Seseorang pernah
mengatakan pada saya; media itu tak ada yang tak memihak. Ia berdiri dengan ideologi
tersendiri yang dimiliki oleh si pemilik atau penguasa institusi. Tak ada media
yang seratus persen netral secara objektif dalam pemberitaannya. Sesuci-sucinya
media (pun kalau ada), ia pasti berpihak. Memihak kebenaran.
Jika setiap media
memiliki ideologinya sendiri, mereka pun memiliki tujuannya masing-masing. Yang
tak lepas dari kepentingan penguasa.
Pers atau media memang
memiliki kekuatan tersendiri sehingga ia dikatakan sebagai pilar keempat
demokrasi. Karena dari media lah sebuah wacana bisa terbentuk bahkan dari
realitas yang paling remeh temeh sekali pun. Dari realitas yang terjadi di
lapangan dapat dibentuk oleh media sekehendaknya tergantung apa yang diinginkannya.
Dengan kata-kemata yang apik, intensitas penayangan lebih, melebih-kurangkan
fakta di sana-sini, penonjolan dan penghilangan kenyataan yang diberitakan, dan
berbagai macam teknik lainnya media secara tak sadar menyuntikkan ideologinya
ke dalam kepala kita. Hegemoni namanya. Media dengan cara yang sangat halus dan
kita secara tak sadar sedang berada dalam pengaruh untuk menyetujui apa yang
sebenarnya mereka setujui, menginginkan dan berbuat apa yang mereka inginkan. Dan
apabila opini publik sudah terbentuk dalam suatu negeri, ia akan menjadi
kekuatan besar yang bisa menggugat seseorang, institusi, bahkan meruntuhkan
suatu rezim.
Dan apa yang
sekarang sedang ramai diperdebatkan, bahkan saling kecam dan mengejek, konflik
dan keributan dalam adu bicara, barangkali memang yang diinginkan oleh media.
Agar tayangannya diperhatikan dan dapat banyak iklan, atau sekedar momen yang
pas untuk mengalihkan permasalahan sebenarnya yang sedang terjadi di negeri
ini. Entah apa tujuan sebenarnya.
Yang jelas,
pelajaran baru yang kudapatkan dari seseorang; memprovokasi, tak hanya bisa
dilakukan dengan suara yang lantang atau berbekal pentungan, tapi juga dengan
sebatang pena.
Labels: Buah Pikiran