Nol Harapan ; 19 Apr 2012
Aku merasa jadi sangat kecil, sangat kecil.
Merasa menjadi orang pintar di dalam kebodohannya. Serasa orang paling
rendah hati di atas kesombongannya. Umpama manusia yang telah mencapai tempat
tertinggi padahal sedang berdiri di atas tumpukan dosanya sendiri.
Aku mengatakan; aku ikhlas. Sedang ikhlas yang hakiki
itu tak pernah berucap, tulus yang tumbuh dari hati itu tak butuh diungkapkan. Lalu
apa yang selama ini kuucap dan kuakui sebagai keikhlasan? Yang kulakukan dengan
perbuatan? Tak lain, itu adalah kesombonganku yang tersembunyi. Diriku yang
belum bisa kukalahkan dan mengaku sebagai bijih kebaikan. Mengaku sebagai
kebaikan, padahal sebenar-benarnya kebaikan tak akan pernah mau diakui. Sebenar-benarnya
kebaikan adalah hal yang dilakukan dari, oleh dan untuk hati.
Tipu daya syaitan bak sutra dibelah tujuh, begitu
halus dan penuh kelembutan. Hingga mampu membuat manusia beserta hatinya
tergelincir pada perasaan yang tak akan pernah diinginkan. Tak ada kejahatan
yang mau mengaku. Sudah sejak dari pertama kali diciptakan kehidupan, iblis
mengaku sebagai kebaikan yang memberi khuldi kepada Adam dan Hawa. Tapi mereka,
syaitan dan sekutunya, memang diciptakan untuk menggoda manusia hingga kiamat
tiba. Bukan mereka yang patut disalahkan atas keburukan yang terjadi di atas
bumi, tapi manusia itu sendiri beserta hatinya yang kosong dan tak berisi. Pahamilah, keburukan sehina-hinanya, pandai bersembunyi dalam sekeping kebaikan. Namun kebaikan sebening-beningnya, tak akan pernah ternodai setitik pun kejahatan.
Ikhlas, pelajaran yang kuakui aku telah berhasil
memahaminya. Rupanya tak lagi disebut ikhlas. Karena ikhlas itu tempatnya di
dalam hati, bukan di atas lidah. Dan aku, yang mengaku-aku telah ikhlas serta
mengatakannya pada manusia, angin, malaikat, malam, dan doa, ditegur secara
perlahan oleh Tuhan. Ya, Tuhan memang sangat bijaksana, Ia maha bijaksana dan
maha indah. Karena menegurku dengan cinta. Dengan memberikan cinta yang sengaja
lahir sekedipan mata, ditanam sedalam bumi menyimpan rahasia, kemudian dipisahkan
begitu saja. Perih, namun di situlah pelajarannya. Apakah yang selama ini
kukatakan itu sebenar-benarnya ikhlas? Apakah itu sebentuk ketulusan tanpa setitik
pun pengharapan? Bukan. Karena ikhlas itu sunyi dan tak pernah berbunyi. Dan
ketulusan adalah nol harapan.
Labels: Buah Pikiran, Tarian Bebas Sebuah Pena