Rupa, Akal dan Hati ; 26 Mar 2012
Pelajaran ini kudapati berawal dari jatuh cinta pada wanita. Dulu, aku mudah jatuh cinta pada mereka yang (menurutku) berparas manis. Lebih lagi jelita. Cantik, pria mana yang tertarik? Dan jadilah rupa wanita sebagai tolak ukur aku jatuh cinta. Hingga aku menemukan seorang teman berparas cantik. Dan pada suatu ketika, di depan banyak orang ia terlihat memalukan karena cantiknya yang tak berisi. Pengetahuan, mengajarkanku kalau rupa adalah pembungkus dari isi manusia. Dan cantik adalah pemanis semata. Hingga akhirnya, terciptalah alat ukur baru untuk aku jatuh cinta: ialah apa yang ada dalam kepala. Wanita cerdas, pria mana yang tak bangga bila bisa menjadi kekasihnya? Kepintaran dan kecerdasan menjadi daya tarik lebih dari kecantikan. Sungguh. Tak hanya anak adam yang akan terpanggil hatinya untuk jatuh cinta. Wanita lain pun, mungkin sungkan dibanding-bandingkan dengan dia. Namun lagi-lagi pemikiranku salah. Karena seorang teman wanita yang kukenal cantik dan pintar, tapi ia dengan kecantikan dan kepintarannya dengan mudah melukai hati orang lain yang tak secantik dan sepintar dia. Dari situlah aku belajar: kecerdasan juga akan menjadi kosong apabila tidak diisi dengan pribadi. Ada yang lebih mulia dari apa yang bersemayam di dalam kepala. Karena berkat dialah kaum kita disebut manusia: ialah apa yang hidup di dalam dada. Hati, sesungguhnya adalah kemanusiaan manusia. Yang menjadikan kita makhluk paling mulia. Di sinilah aku belajar tentang teori jatuh cinta yang lebih indah: jatuhlah pada kaum hawa yang berhati seperti dada merpati. Karena, kecantikan dan kepintaran bisa kudapatkan dari banyak wanita lain, sedang pribadi, hanya melekat pada satu jiwa yang berbeda. Seseorang satu-satunya di dunia. Dan aku sepakat dengan hatiku yang mengikrarkan dirinya hanya akan jatuh pada jiwa yang berbeda, pada pribadi yang berakhlak mulia dan berhati seputih awan di angkasa.
Tidak, tujuanku bercerita bukan tentang wanita. Makhluk mulia itu hanya kujadikan perandaian saja. Untuk satu hal yang mungkin sering dilupakan manusia. Bahwa hati adalah sebab mereka disebut manusia. Ada, itu lebih baik dari pada tiada. Kebaradaan fisik, lebih lagi cantik nan rupawan, tak lebih berguna bila ia tak berakal. Dan kepintaran juga kecerdasan yang ada di dalam kepalanya, hanya akan sia-sia dan jadi percuma bila ia tak berhati.
Bisa kau lihat; seorang pegawai pajak lulusan sekolah tinggi akutansi yang dibiayai negara –yang peserta ujiannya beratus-ratus ribu-, sudah pasti otaknya pintar, tapi di dalam dada kirinya kosong tak berisi hati, maka jadilah ia koruptor. Dan lihatlah orang-orang nan cerdas merakit bom, menyebar ideologi, mencuci otak orang muda, merancang strategi, mengelabui polisi, mereka pintar bukan buatan. Tapi tak berhati, maka jadilah ia teroris. Dan tengoklah orang-orang tak berakal dan tiada memiliki harga diri. Yang tolak ukur hidupnya hanyalah uang. Rela dibayar sejuta dua juta hanya untuk membunuh satwa, terlebih yang dilindungi. Mereka, orang-orang yang membunuh Orang Utan; kaum yang tak berakal dan tak berhati. Dan barangkali, Orang Utan itu sendiri lebih manusia dari orang-orang yang membunuhnya.
Maka, aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Yang berupa, berakal dan berhati.
Labels: Tarian Bebas Sebuah Pena