Puntung Kehidupan ; 27 Feb 2012

Ini cerita tentang kakek dan rutinitas di puntung-puntung usianya
Seorang lelaki hampir delapan puluh yang bicara dan jalannya terbata-bata
Lelaki yang dulu muda adalah abdi negara tanpa bintang jasa
Dan kini mulai dikerubungi penyakit usia sejak ditinggal mati kekasih jiwanya

Pagi hari pukul lima, ia bangun dari tidurnya yang entah masih memiliki mimpi atau tidak
Menghampiri dua sahabatnya di teras: radio tua dan kursi malas
Duduk menyelonjorkan kaki dengan wajah tanpa ekspresi, menyetel radio keras-keras
-Alarm baru yang membangunkanku solat fajar minggu-minggu belakangan ini-
Pagi buta, di kota yang mulai beranjak dewasa
Ia mendengarkan alunan ayat suci untuk mengusir sepi: sepi miliknya sendiri
Sepinya deru macam kendara di pinggir kota Jakarta, tanpa kekasih
Pukul tujuh pagi, ayat suci berganti jadi laporan macetnya lalu lintas Jakarta, yang kadang terjadi celaka yang mengambil nyawa
Lalu tergopoh-gopoh ia sarapan menuju meja makan, selepasnya kembali lagi ke teras:
Berdiam diri mendengarkan lagu masa kini yang kutahu pasti tak pernah sekalipun ia dengarkan
Sesekali tangan kanannya bekerja menyambut anak cucu yang mencium tangan meminta izin berpamitan, kemudian mendoakan mereka
Bila bosan ia kembali lagi ke kasur, lalu kenyang tidur ia menjadi lapar, setelah lepas lapar ia bersahabat lagi dengan radio tua dan kursi malas: saling bercerita dengan cara mereka sendiri-sendiri
Dan senja adalah waktu terlama ia duduk di kursi malas sambil mendengarkan radio keras-keras, duduk diam: menunggu
Magrhib tiba, ia kembali ke dalam rumah, dan keluar lagi esok pukul lima pagi

“Setiap hari seperti itu.” kata ibuku
“Menunggu apa, ya?” kataku.
“Tak ada lagi. Kecuali kematian.”

Ucapan ibu mengingatkan aku, tentang:
Apa-apa saja yang telah dilakukan dalam hidup, setelah sekian lama berusia sampai tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu kematian
Dan tentang aku, kau dan masa tua:
Apakah kita akan menghabiskan usia sama seperti mereka atau dengan cara kita: di bawah senja, dua cangkir teh di atas meja, lalu bercengkrama: bagaiamana bisa dulu kau mencintaiku dan cara bagaimana aku menyayangimu, yang barangkali akan jadi cerita senja untuk anak dan cucu kita

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »