Ketika Seseorang Mengkhianati Dirinya Sendiri ; 26 Feb 2012
Ini bukan tentang politik. Lagi-lagi, entah sudah yang keberapa kali kukatakan aku benci dengan politik. Ini hanya tentang kehidupan dan hati. Kehidupan yang berdampingan dengan orang-orang, dan hati-hati yang tak selalu berada pada orang-orang itu. Manusia di bumiNya yang sudah tua, sudah tak jarang ditemui telah menanggalkan hati untuk ditukar dengan lembaran-lembaran uang. Dan mereka yang telah kehilangan hatinya, masihkah menjadi manusia? Barangkali tergantung jawabannya. Karena pekerjaan menukar hati dengan uang tak mereka lakukan sekali transaksi –meski ada yang seperti itu-. Manusia diberi akal, dan mereka gunakan untuk pandai-pandai mengeping-keping hatinya yang diangsurkan pada orang-orang yang mau membelinya dengan mahal. Pintar.
Kekecewaan yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan yang dilakukan oleh orang yang kita percayai. Sahabat, kekasih, istri, suami, atau apalah namanya yang mewakilkan orang-orang terdekat. Dan yang kutulis selalu pengkhianatan orang-orang yang kukenal terhadap dirinya sendiri. Kupikir lebih menyedihkan mengkhianati diri sendiri ketimbang mengkhianati orang lain. Karena tak ada perbuatan yang lebih menyakitkan dari diri yang menyakiti dirinya sendiri. Mengkhianati orang lain itu dimulai dari mengkhianati diri sendiri, mengkhianati diri sendiri dimulai dari mengkhianati hati, dan mengkhianati hati dimulai dari mengkhianati Tuhan. Dan apakah kecewa namanya melihat seorang yang sudah menjadi kawan memotong lidah dengan giginya sendiri lalu mengeping hatinya untuk ditukar dengan kepingan lain yang bisa dibelanjakan? Ah, itu urusan mereka. Tapi Pramoedya bilang, tiap sesuatu yang terjadi di kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir. Barangkali dari apa yang dilakukannya boleh menjadi urusan untuk pikiranku yang mau berpikir untuk menulis sebuah pemikiran yang bisa menembus kepala orang-orang seperti mereka dan yang tak seperti mereka. Agar mengetahui: bahwa hati adalah kemanusiaan manusia yang disebut makhluk paling mulia.
Seorang kawan, menyerukan keadilan menurutnya dengan mengkritisi lewat pendapat-pendapat gemilangnya, lalu tiba-tiba berbelok, menjadi seorang yang selama ini ia kritisi. Kemudian diam seumpama lupa pada lidah di masa lalunya yang mengejek orang-orang yang seperti dirinya kini. Walau belokan yang ia lakukan kecil, seperti sebuah dukungan pada sebuah golongan yang berpolitik. Dan seorang kawan lagi, yang menyerukan keadilan menurutnya dengan mengkritisi lewat pendapat-pendapat gemilangnya, kemudian tak berbelok, menjadi seorang yang tetap mengkritisi seperti ia selama ini.
Dari keduanya aku jadi bisa memahami; baik dan buruk itu tak datang dari mata angin manapun dan dibawa oleh siapapun, tapi terlahir dari dalam hati manusia itu sendiri.
“Sudah tulisan pesananku kemarin, Ndra?”
“Baru saja selesai kutulis. Ini.”
….
“Heh, kau pintar sekali menulis!”
“Karena itu kau suka denganku kan, Yas?”
“Kau pintar dan bisa dibayar. Tapi aku tidak suka dengan kau, Ndra!”
“Lalu kenapa kau mau tidur denganku?”
“Karena tulisanmu dan kau, tak mau hanya dibayar dengan uang bosku.”
“Pintar.”
“Kau juga, tapi tak berhati.”
“Sama seperti kau.”
Labels: Tarian Bebas Sebuah Pena