Kisah Hati Anak Manusia ; 30 Sept 2009
perkenalkan, aku adalah hati. hati dari seorang majikanku. majikanku aneh kawan, hidupnya dipenuhi kata dan warna. meski tidak semuanya indah.
aku hidup di dalam tubuh seseorang sejak ia lahir sampai ia menghirup udara terakhirnya di dunia. aku memiliki rumah, kuberi nama rumah hati. itu tempat menampung segala rasa majikanku. berbeda dengan tetanggaku akal dan fikiran, mereka tinggal dalam satu rumah yang sama yang mereka sebut otak. rumah mereka juga sebagai tempat penyimpanan, tapi data, karena rasa adalah bagianku.
saat kecil, orang pertama yang bertandang ke rumahku adalah ibu, ia memperkenalkanku pada rasa cinta. cinta yang diperkenalkan ibu sangatlah baik, tulus tepatnya. dan cinta itu masih bersemayam dalam rumahku, mungkin tak tergantikan. aku mengenal banyak cinta tak hanya dari ibu semata, tapi dari teman - teman, saudara juga alam. tapi cinta dari ibu yang paling mudah aku kenali. karena ia lah yang paling tulus diantara teman - teman cinta yang lain.
ya,,walaupun sempat aku mengusirnya. mencacinya dengan sumpah serapah. tapi aku tak bisa berbohong, bahwa rumah hati ini sangat merindukan dirinya kala aku mengusirnya dulu. hei, saat kuusir cinta ibuku dulu ia tak benar - benar pergi. ia berdiri, kadang terduduk di ambang pintu hatiku agar aku membiarkannya masuk kembali. bahkan sampai menitikan air mata kawan, hal yang membuat majikanku membukakan lagi pintu yang dulu ia kunci untuk ibundanya.
rumahku tak begitu luas kelihatannya. tak lebih dari kepalan tangan majikanku. tapi aku memiliki kamar - kamar tersindiri bagi teman - teman rasa yang bersinggah atau bahkan menetap di rumahku.
semakin aku dewasa semakin banyak para rasa yang berkenalan denganku. ada yang berkenalan dengan ramah, tak jarang pula datang dengan mendobrak pintuku. marah, benci, dendam, pelit, dengki, iri adalah tamu - tamu yang kurang ramah yang mengunjungi rumahku. tapi apa boleh buat, majikankulah yang memberikan perintah. tapi tak sedikit juga yang begitu santun datang ke rumahku. sahabat, cinta, bahagia, suka, senang, mereka mengetuk pintu rumahku dengan membawakan bunga - bunga bermekaran.
aku tak akan menceritakan semua rasa yang menghampiri rumahku kawan, tak akan habis kita membahasnya. seperti menghitung bintang di langit sana. sampai kapan kau akan selesai menghitungnya?
aku ingin menceritakan sesuatu yang unik dari majikanku. ehmmm...sebenarnya tak sedikit, tapi akan kuceritakan satu saja.
yaitu cinta, cinta yang datang mungkin saat majikanku berusia 15 tahun.
ada seorang cinta yang datang dengan membawa nama di tangannya. nama itu....seperti yang akal dan fikiran ceritakan kepadaku. yang akan menjadi nama dari anak perempuan majikanku kelak.
ia datang membawa sekuntum bunga anggrek. indah warnanya, seperti pelangi. saat kutanya apa ia ingin tinggal lebih lama atau hanya sebentar saja, ia menjawab
"aku tak tahu, bagian dari diriku yang lain belum mengunjungi rumah hati seseorang yang namanya berada di tanganku saat ini."
"baiklah, kuberikan kau sebuah kamar yang nyaman di komplek kamar cinta." kataku ramah.
hari terus berganti, tak pernah berhenti walau sedetik pun.
aku dikunjungi oleh cinta - cinta yang lainnya. juga dengan membawa nama seorang wanita di tangannya.
dua, tiga, empat cinta datang silih berganti. menetap selama setahun, beberapa bulan, bahkan ada yang meninggali kamarnya hanya dalam hitungan hari. tapi anehnya, cinta yang pertama kali berkunjung dengan membawa nama wanita yang majikanku kenal saat berumur 15 tahun tak kunjung pergi. sedangkan yang lain belum pernah ada yang menetap selama itu.
ia duduk saja di ranjang kamarnya, ia mulai memudar warnanya. tapi tak pernah ia pergi dari rumahku ini selangkah pun.
suatu saat di komplek kamar sahabat, ada sahabat yang mengenali nama yang dibawa cinta tersebut.
"aku mengenalnya, bagian dari aku yang lain juga tinggal di komplek kamar sahabat rumah hati dari hati nama yang digenggam erat oleh cinta itu. majikannya adalah sahabat dari majikanku juga." kata seorang sahabat.
"Oh ya? mengapa ia tinggal di rumahku begitu lama? dan...apakah di rumah hati wanita itu ada cinta majikanku?" tanyaku penasaran.
"aku tau, majikanmu bercerita banyak pada majikanku. ya, mereka bersahabat. majikanmu bilang, orang itu adalah cinta pertamanya. dan maaf....aku tidak pernah sedikit pun melihat cinta majikanmu disana." katanya muram. aku turut merasakan apa yang dirasa oleh majikanku. naas, cintanya tak dibalas. tapi...masih saja ia menyimpan namanya.
"aku pernah melihat nama majikanmu di komplek kamar sahabat di rumah hatinya. tapi entah kenapa sekarang nama majikanmu tak terlihat lagi di komplek kamar sahabat miliknya." kata sahabat majikanku. majikanku memerintahkan aku memberikan kamar vip untuk sahabat yang satu ini. aku tak membalas ucapan dari sahabat, terlalu perih aku merasakannya.
"sudahlah, kau memiliki aku kawan. sahabat. majikanmu sering tertawa dibuatnya kan? oleh majikanku."
"ya benar, majikanku selalu menghubungimu di kala ia bosan atau bersedih. untuk menumpahkannya atau melepasnya dengan canda dan tawa yang tercipta. kawan, kuharap kau tak pernah beranjak dari rumahku ini ya. bersahabatlah dengan majikanku seumur hidup. berbagilah selalu denganku ya."
sahabat itu hanya tersenyum tak memberikan jawaban.
biarlah cinta itu menetapi kamarnya seumur hidup, walau ia sudah memudar, tapi potongan nama yang dibawanya tak akan pernah hilang. bahkan kata akal dan fikiran, nama itu akan ditaruh di sebuah komplek kamar anak.
manusia itu begitu rumit ya kawan. aku disini masih akan tetap setia menampung segala rasa majikanku. aku berharap ada cinta yang membawa nama seorang wanita berkunjung kerumahku. dan akan menetap selamanya disini. yang akan menempati dua kamar, yang satu di komplek kamar cinta. dan satunya lagi di komplek kamar namun hanya ada satu kamar mewah dan megah, yaitu kamar istri.
Labels: sepenggal kisah (cerpen)