Surat Cinta Untuk Tuhan ; 9 Dec 2011
Teruntuk, Raja Yang Menguasai Hari Pembalasan
Dengan menyebut namaMu yang maha pengasih lagi maha penyayang
Pada matahari sepenggalah yang tak pernah berhenti menyembah, aku menuliskan surat cinta yang hanya dapat diterima oleh iman. Ya Malik, sungguh aku adalah manusia jahil lagi tak berpikir. DariMu segala apa yang kumiliki, segala apa yang Kauanugrahi, tapi tak pernah segala itu kukembalikan kepadaMu. Terutama kelebihan yang Kauberikan tak pada seluruh umat: sebuah kuasa mengangkat pena menjadi kisah, kata, atau cinta. Kaubuat otakku berpikir dan jemariku mengukir, kata kemata yang berbicara tentang segala. Kata yang rupawan, yang terkadang kutujukan untuk beberapa orang: wanita, kekasih, sahabat, orang tua. Tapi tak pernah kuindahkan Kau dengan tulisan, seperti Engkau mengindahkan aku lewat tulisan. Ya Rabb pemilik langit dan bumi, aku memohon segala ampun, aku meminta segala magfirah, atas kesombongan yang pernah ada di dalam dada.
Ya Rahman, yang memiliki malam beserta apa yang bercahaya pada gelapnya, aku ingin mengatakan: terima kasih. Aku telah bertemu dengan seorang pribadi siapa sebenarnya diri ini. Kau membuatku mengerti untuk apa sebenarnya aku hidup. Kini aku mengerti arti dari setiap apa yang Kauberi. Sungguh, Kau adalah sebaik-baik penulis cerita. Yang me-reka tiap kejadian dengan segala perhitungan. Kau pertemukan aku pada orang-orang yang mengenalMu lebih dulu. Agar aku belajar: dunia adalah fana dengan segala isinya.
Ya Rahim, dzat yang melukis merah dan jingga langit senja, sungguh tak ada daya upaya selain daya upaya Engkau. Aku adalah manusia tak berdaya. Yang tak memiliki sesuatu apa pun di dunia, yang tak mempunyai-tak memiliki sesuatu. Terlahir tak membawa apa-apa, mati pun hanya berbekal amal ibadah. Aku manusia tak punya kuasa. Hanya tanah yang Kau tiupkan nyawa. Dengan tubuh yang berlumur napsu dan dosa. Aku manusia lemah, yang sedang mencoba menelusuri jalan yang baru saja kutemukan untuk mencapaiMu. Manusia yang hanya bisa menangisi dosa-dosa. Manusia yang menitikan air mata karena tak pantas menempati surga dan sungguh tak akan tahan dengan siksa neraka. Aku manusia tiada, yang sedang jatuh cinta pada Yang menciptakan cinta. Maka kasihilah, dengan segala kasih dan sayangmu, Tuhan penyayangku.
Labels: Tarian Bebas Sebuah Pena