Putri Hujan ; 26 Oct 2010

Hari ini aneh. Pagi tadi saat matahari baru terbangun dari tidurnya ia memancar begitu indah, begitu hangat. Kokok panjang si jantan menjadi alarm sang mentari, kicau burung – burung menjadi nyanyian memulai hari bagi sang raja siang. Pagi yang cerah namun sayangnya tak senada dengan suasana hatiku. Namun siang ini, langit sepertinya mengerti apa yang kurasakan. Entah ia mengikuti lagu hatiku yang sedang bernyanyi sendu atau memang ia yang ingin menangis, aku tak tahu. Yang pasti hari ini dimulai dengan pagi yang cerah bak tawa kelahiran seorang bayi, namun tiba – tiba kelabu seperti kematian seorang ibu. Awan mendung menggumpal dimana – mana. Menutupi seluruh langit yang seharusnya biru.

Hari ini aku berjalan sendiri tak memiliki teman. Hah, bukankah memang seperti itu? Aku memang sepertinya tak pernah punya teman. Ya, sejak SD Rigel Alinitaka selalu dimusuhi dan dijauhi oleh teman – temannya. Mereka menyebut aku gila. Padahal jelas – jelas aku masih bisa berfikir jernih, aku masih bisa berhitung dan membaca. Bahkan aku sang juara di kelas. Nomor satu tak pernah bermusuhan denganku di buku rapor. Sejak SD hingga sekarang aku SMA, sedikit pun sepertinya tak ada niatan untuk aku atau untuk si nomor satu saling mengkhianati satu sama lain. Bagaimana aku bisa disebut gila? Mereka yang gila! Mungkin mereka iri dengan aku yang tak pernah menjadi nomor dua. Sudahlah, tak ada gunanya juga dibahas. Biarkan saja mereka bersenang – senang dengan pikiran mereka. Dan aku bermain – main dengan pikiranku sendiri.
Sepanjang jalan aku hanya bertegur sapa dengan angin, daun – daun yang berterbangan dan sesekali bergurau dengan debu yang terhempas. Selintas bayangan muncul di kepalaku: apa rasanya menjadi daun yang diterbangkan angin, kemudian melihat seorang wanita tengah dikecup mesra oleh seorang pria dari atas taman. Dan wanita itu adalah kekasih kita. Ahh, tak usah dirasa. Hanya sekedar bayanganku saja.

Ada sesuatu yang jatuh dari langit dan menyentuh batang hidungku. Basah. Aku mendongakan kepala menatap langit. Tanganku menengadah. Titik – titik air semakin banyak yang jatuh. Gerimis. Aku harus bergegas sampai di rumah. Kupercepat langkahku menjejak bumi, seperti rinai yang juga semakin cepat terjatuh dari langit dan menumbuk tanah. Debu – debu yang tertidur di tanah terbangun tersiram sejuknya hujan. Menciptakan wangi hujan, wangi mata air langit yang bersetubuh dengan tanah. Wangi ini tak akan ditemui kalau langit tidak menangis. Rumahku masih jauh, dan titik – titik air ini semakin membabi buta menghantam tanah. Butiran airnya bertambah besar dan banyak. Serempak mereka menyuarakan bunyi yang membuat manusia – manusia tak berpayung lari mencari tempat berteduh. Aku berlari sambil menutupi kepala dengan tas slempangku. Kulihat kanan kiri, tak ada tempat berteduh. Hanya ada sebuah taman yang lengkap dengan air mancur, kursi taman, bunga – bunga, pohon dan tempat bermain anak. Kulihat ada sebuah beringin putih besar menaungi kursi taman yang terbuat dari batu. Itu tujuanku. Aku berlari untuk mencapainya. Dan setelah sampai, aku lebih memilih berdiri ketimbang duduk di kursi yang sudah basah dengan hujan. Dan… hujan pun semakin deras mengguyur kota. Beruntung aku memiliki tempat berteduh, walau sesekali air jatuh menembus rimbunnya ribuan daun putih kehijauan di atasku.

Udara langit mulai turun bersama hujan. Temperatur mulai menurun di sekitarku. Aku yang sudah memakai jaket kini kutarik retsleting hingga menutupi tubuhku. Lalu aku bersidekap. Menutup hatiku dengan lengan. Hujan mulai bernyanyi. Kini ia merintik dengan irama yang syahdu, memiliki ritme. Aku bisa merasakan merdunya rintik mereka. Lama, hujan masih terus saja bernyanyi. Tapi perhatianku langsung tersedot oleh sesuatu. Sekitar lima belas meter di sebelah kiriku, ada seorang wanita berbaju putih sedang duduk di kursi taman. Hujan – hujanan! Ia sudah basah kuyup, tak bergeming. Pikiranku semakin meracau setelah melihat sebuah payung hitam yang tengah mekar hanya tergeletak begitu saja dihadapannya. Aku heran. Sangat heran! Pikiranku lebih tak mengerti. Kini ia bermain.
“Nona! Hei, nona!” ia tak mengindahkan teriakanku. Tetap mematung.
“Nona! Kenapa kau duduk saja disitu?! Kau bisa sakit kalau terus hujan – hujanan!” dia masih tetap tak mau mendengarkanku. Benar – benar tak bergerak seperti batu. Atau memang ia hanya sebuah manekin? Entahlah, ia membuatku mengambil tindakan lain selain berteriak.
Dengan menutupi kepala dengan tas slempangku aku berlari menghampirinya. Kecipak air berbunyi tiap kakiku menghantam bumi yang basah. Dengan cepat, aku mengambil payung hitamnya setelah sampai disana. Lalu memayungiku dan dia dari hujan. Tapi, ah… wanita ini sangat cantik. Ia menghipnotisku beberapa detik hanya dengan tatapan kosong dan bibirnya yang sudah membiru. Dan kesadaranku kembali saat ia tersenyum manis sekali ke arahku. Aku tersenyum membalasnya.

“Hei, kenapa kau hujan – hujanan. Lihat dirimu, sudah tak ada yang kering ditubuhmu. Kau bisa sakit, nona.” kataku ramah.

Senyumnya semakin melebar. “Hatiku kering.”

Aku terperanjat mendengar jawabannya. Ekspresiku seketika tersedot oleh dua kata yang dikeluarkan dari mulutnya. Seperti halnya hujan yang menculik panas dan debu di atas bumi.

“Kamu belum pernah hujan – hujanan?” tanyanya pelan. Terlihat giginya sedikit bergemeretak saat ia berbicara. Siapa lagi kalau ini bukan ulah suhu. Aku tak menjawab pertanyaannya. Malah isi kepalaku yang bertanya: mengapa mengajak ngobrol di situasi seperti ini? Ia duduk di kursi, aku dengan posisi setengah merunduk sedang memegangi payung ditengah taman yang hujan.

“Mungkin kau pernah sewaktu kecil. Membiarkan diri disirami rinai hujan, berlari – lari dengan basah di sekujur tubuh. Bahagia menyesaki dadamu kan? Itu yang kuinginkan saat ini.”

“Bahagia?” tanyaku mulai penasaran dengan perbincangan aneh ini.

“Bukan. Tapi kebebasan. Merasakan tiap titik air menyusuri bagian tubuhku, aku merasakan kenyamanan. Aku merasakan kebebasan.” lalu ia mengambil payung yang kugenggam. Kemudian melemparkannya ke samping. Payung hitam itu terlentang, mulai menampung air yang jatuh dari langit. Ia menggenggam pergelangan tanganku, lalu menarikku duduk di sampingnya. Mataku masih tak lepas dari tatapannya. Ia tersenyum.
“Rasakanlah.” katanya pelan.

Aku masih tak mengerti. Sungguh – sungguh tak mengerti. Siapa dia sebenarnya ini. Hujan mulai merambati tiap senti tubuhku.

“Kau tahu? Aku selalu bahagia saat hujan turun. Karenanya, aku bisa bersembunyi dari kepedihan. Dan merasakan kebebasan, kebahagiaan.” sungguh, tiap kata – katanya seperti sebuah labirin. Aku tak mengerti, apakah ini teka – teki?

“Kau tak bisa melihat air mataku yang sedari tadi mengalir deras kan?” ia tersenyum. Sungguh manis sekali. Dan aku memang tak melihat ada air mata kepedihan yang mengalir di pipinya. Hujan menyamarkannya.

“Kau disakiti?” tanyaku memberanikan diri mengikuti pembicaraannya. Meski aku tak tahu kemana juntrungannya.

Lagi – lagi bibir tipisnya yang membiru mengulas senyum. “Aku ingin bertanya padamu selaku pria. Pernahkah kau membayangkan menjadi air hujan yang jatuh mengalir di pipi kekasihmu, lalu kau menemukan air mata disana? Pernah?” aku menggeleng.

“Pernahkah kau membayangkan menjadi lampu tidur kekasihmu yang menerangi malamnya hingga pagi, namun saat dini hari kau mendengar ia mengigau menyebut nama pria lain? Pernah?” aku menggeleng lagi.

“Pernahkah kau membayangkan menjadi gelas yang ia genggam untuk menuang air pelepas dahaganya, namun tiba – tiba ia buang ke lantai, pecah berkeping – keeping karena ia melihat ada seorang pria yang telah lama pergi dan menghampirinya dengan suka hati? Pernah?” dan lagi – lagi aku menggeleng.

“Seperti itulah yang aku rasakan saat ini.” ia tersenyum. Sungguh senyum manis itu bukan tanda kebahagiaan. Aku merasakan kepedihan disana.

Tubuhku mulai kuyup. Semuanya basah, dan karena ceritanya aku juga merasakan ada satu bagian tubuh yang tak ikut basah. Hatiku. Aku tak merasakan kebebasan disana.

“Lalu… sampai kapan kau akan duduk menyendiri di bawah hujan?” tanyaku.

“Sampai hujan ini berhenti, meninggalkanku seperti ia yang juga telah meninggalkanku. Dan menyisakan pelangi, tak seperti ia yang pergi tanpa menyisakan sekeping hatinya pun untukku. Aku ingin belajar bersama hujan dan pelangi. Hujan, ia adalah rezeki yang dikirim Tuhan untuk menghidupkan tumbuhan dan para petani. Ia menciptakan kedamaian, menyanyikan lagu merdu, merintik syahdu. Sejuk bertebaran dimana – mana. Walau hujan badai sekali pun, setelah mereka pergi tetap akan menciptakan kedamaian di bumi dengan pelangi yang ditinggalkannya bukan? Banjir? Kalau kau menjadi hujan mungkin kau akan protes, berkata seperti ini: Manusia yang tak mencintai lingkungan membuat aku menjadi tak lagi romantis.”

“Kau…”

“Hujan adalah rezeki yang diturunkan Tuhan dari langit, maka jangan sekali – kali kau memakinya. Lebih baik kau berdoa, karena Tuhan yang maha pengasih telah memberkati hujan. Ia akan menjabah doa manusia yang meminta padanya saat rinai itu menyentuh tanah.” ia terus berbicara. Tak memberikan kesempatan padaku.

“Tunggu, sebenarnya kau ini…”

“Pelangi. Selain mengagumi keindahannya, seharusnya kau gunakan sayapmu untuk terbang mencapainya. Lihat indahnya lebih dekat agar kau mengerti, lalu petik sebuah pelajaran darinya: Warna - warni menjadikan ia indah. Perbedaan itu anugrah. Sifat manusia yg menjadikannya bencana.” ia tersenyum mengakhiri katanya. Kini giliranku bicara.

“Siapa kau sebenarnya? Siapa namamu?”

Lagi – lagi ia tersenyum. “Namaku Putri Hujan.”

Putri Hujan? Maksudnya? Ah… ini semakin membingungkanku. Nama yang indah untuk seorang anak manusia, dan kedengarannyan itu tak hanya sekedar nama. Itu seperti… sebuah cermin bagi dirinya. Rinai mulai melambat merintik. Perlahan – lahan ia tak sederas tadi. Bulirnya menjadi halus dan tak lagi membabi buta menghunjam tanah. Lamat – lamat mentari mengintip dibalik awan. Cahayanya mulai menyinari kami. Sementara aku masih sibuk dengan keheranan dan kebingungan di dalam kepalaku.
“Kau… kau? Sebenarnya siapa?” aku tergagap bertanya padanya. Pikiranku yang membuatnya seperti itu.

“Aku Putri Hujan.” Ia tersenyum lagi. Kemudian bangkit dari kursi. Ia berdiri menatap langit yang hampir tak menurunkan bulir air lagi. Awan – awan seperti menyingkir ketika dilihatnya. Memberikan jalan seperti seorang putri yang baru turun dari kereta labu ingin memasuki istana. Lamat – lamat, aku melihat warna – warna indah yang perlahan mulai muncul. Awalnya samar, namun mulai cerah beberapa saat kemudian. Warna – warni yang kupelajari saat SD dulu. Mejikuhibiniu. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu. Ia melengkung di atas langit. Indahnya tak terbantahkan.
“Dia namanya Pelangi atau sebagian lain menyebutnya Benang Raja.” Ia menoleh padaku, tersenyum. “Dan aku… Putri Hujan.”

Dan tiba – tiba hal yang belum pernah kulihat sebelumnya ada di depan mataku. Dua buah sayap keluar dari punggungnya. Lalu sayap itu mengibas – ngibas angin seperti halnya ia baru saja keluar dari sangkar. Bak seekor kupu – kupu yang baru terlahir dari kepompong. Bebas. Sayap itu membentang. Sekali lagi, ia menoleh padaku sebelum terbang. Senyuman manis terakhirnya yang ia berikan padaku. Lalu sayapnya mulai mengibas, dan ia terbang. Terbang menuju pelangi. Bayangannya mengecil, mengecil dan semakin mengecil. Sampai akhirnya ia hilang bersama warna - warni.

AAAHHHHHHH!!!!!!!!!!

Sudah cukup! Kembalilah ke alam nyatamu hei kawan! Usir jauh – jauh imajinasi bodohmu itu. Berhentilah hidup di negeri dongeng. Kau hidup di dunia kejam yang disebut realita. Dunia yang harus membutuhkan tindakan kalau kau menginginkan apa pun. Tak hanya bermimpi! Berhasil! Kutendang jauh – jauh imajinasi itu. Sampai kapan aku membiarkan wanita itu duduk sendiri di bawah guyuran hujan yang dingin?
“Nona! Hei, nona! Nona! Kenapa kau duduk saja disitu?! Kau bisa sakit kalau terus hujan – hujanan!” ia tak mengindahkan kata – kataku. Lebih baik aku melakukan hal lain yang lebih kongkrit daripada hanya berteriak – teriak saja dari jauh. Aku bukan supporter.

Kulibas hujan di depanku. Aku berlari menghampiri wanita berbaju putih itu. Dan ketika aku sampai, kusambar payung hitam yang tergeletak di hadapannya. Kupayungi diriku dan dia dari hujan. Dan aku tercenung melihat wajah cantiknya yang memucat. Lalu tersadar kembali setelah ia tersenyum manis sekali kepadaku.

“Kenapa kau hujan – hujanan. Lihat dirimu, sudah tak ada yang kering ditubuhmu. Kau bisa sakit, nona.”

“Kamu belum pernah hujan – hujanan? Mungkin kau pernah sewaktu kecil. Membiarkan diri disirami rinai hujan, berlari – lari dengan basah di sekujur tubuh. Bahagia menyesaki dadamu kan? Itu yang kuinginkan saat ini. Bukan kebahagiaan. Tapi kebebasan. Merasakan tiap titik air menyusuri bagian tubuhku, aku merasakan kenyamanan. Aku merasakan kebebasan.” lalu ia menyambar payung hitam yang kugenggam. Kemudian melemparnya ke samping hingga payung itu tergeletak. Lenganku ditarik hingga aku duduk di sebelahnya. Rinai hujan mulai membasahi tubuhku.
Ah, apa ini? Tak mungkin. Tidak mungkin sama.

“Tunggu nona, sebelumnya aku ingin bertanya. Siapa namamu?”

Ia tersenyum manis sekali sebelum menjawab pertanyaanku, “Putri Hujan.”

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »