Bidadari? ; 27 Aug 2010
Bidadari. Aku belum pernah melihat rupanya. Seperti apa mereka. Sejelita apa dirinya. Seindah apa matanya. Yang ada di dalam kepalaaku hanya... apabila aku melihat manusia indah ciptaan Tuhan yang bernama wanita, seberapa pun ia mampu memikat pria di bumi dengan kecantikannya, pesonannya tak kan mampu kalahkan indahnya makhluk Tuhan yang tinggal di surga: Bidadari.
Tak akan sampai khayalmu membayangkan betapa indahnya wajah sang Batari. Seperti pikirmu yang tak kan sampai mencerna kemana perginya cahaya yang terhisap lubang hitam di luar angkasa.
Tapi, percayakah kau? Aku pernah memiliki satu diantara mereka. Dikirim Tuhan dari surga ke Bumi tanpa luput satu keindahan pun dari tubuhnya, termasuk wangi surga yang menempel di tiap belai halus kulitnya. Percaya? Tentu tidak. Itu hanya analogi, konotatif, kias, bukan makna sebenarnya. Tapi dengan begitu kau tahu kan betapa beruntungnya aku memiliki wanita di bumi yang seindah Batari?
Tepat di dalam dada kirinya paras seorang Bidadari tersembunyi: Hati. Tuhannya menciptakan itu dari emas, lalu dilapisi perak. Logam mulia yang tersembunyi dibalik sifat sederhana kemul logam putih.
Berlebihan? Mungkin ya, mungkin tidak.
Sastra mengajariku cara berhiperbola untuk menghias kata. Dan agamaku memerintahkan memuliakan wanita tiga derajat di atas pria.
Benar saja, ia memang seorang Batari. Turun ke bumi hanya untuk menjalankan misi: Membangunkan tidurku dari lelapnya dunia dengan sedikit wangi surga untuk kembali mencintaiNya. Sesudah lalu, ia pergi.
Ia mengajariku banyak hal. Beberapa cangkir ilmu, yang melekat pada tinta, sebuah riwayat, sepenggal kisah, atau yang tak tertulis di buku. Dan ia tak lupa meninggalkan souvenir untuk kukenang saat sepi: senyum, tawa, rajukan manja, "sikap aneh" yang hanya miliknya, air mata, mimipi, terekam dalam satu memori. Dia berbeda dengan wanita lainnya: Perhiasan dunia yang patut dijaga lebih dari sekedar mutiara.
Dan saat ia pergi, hati kecilku menangisinya.
Tapi aku yang lain, aku yang telah dibekali berbagai pelajaran yang sepenuh hati ia bagi, mengatakan: Aku tak pernah kehilangannya, karena aku tak pernah memilikinya.
Dan aku yang lain, aku yan menganut indahnya aksara yang kupelajari sendiri, mengatakan: Dia tak pernah pergi. Bersama saat - saat manis yang kulalui, wangi tubuh dan namanya tak kan hilang disini, dalam dada kiri.
Dan aku mulai mengerti, belajar dari terbenamnya mentari. Petang yang merelakan lembayung jingga hilang ditelan malam, jadikan ia gelap, tak berwarna. Tapi coba lihat atap bumi, ada jutaan cahaya lain pengganti merah dan jingganya senja: Bintang.
Aku tak berharap kau turun lagi, hei Bidadari.
Tak kau indahkan sapaku pun tak apa. Bumi terus berputar, bintang masih bersinar. Bagiku, bisa melihat 'anehmu' dan bulan sabit terlentang di wajahmu itu sudah cukup.
Hanya satu pintaku pada Tuhanmu. Agar kau dijaga pria terbaik, yang tak akan memaksa meluruskanmu hingga patah dan tak akan membiarkanmu tetap bengkok. Tapi yang akan sepenuh hati melindungimu, sebagaimana Tuhanku telah melebihkan sebagian dari padanya dari sebagian yang lain.
Terima kasih... :)
Catatan kecil di malam 17 Ramadhan
Labels: Tarian Bebas Sebuah Pena