Dunia Mimpi ; 27 Oct 2009

Aku kagum akan dirinya, akan wanitaku. Wanita yang selalu hadir dalam mimpiku tiap malam. Mengindahkan duniaku di kala aku terpejam, yang menghiasi lelapku disaat aku membuang lelah. Ia wanita yang mungil, dengan senyum indah yang terlukis menyungging di bingkai wajahnya. Matanya jelita, seakan tak ada rasa takut sama sekali dalam menatap masa depan. Suaranya lantang, seperti tak mengindahkan keangkuhan dunia yang semakin sombong, dengan mudah ia akan mengalahkan dunia menurutku.

Kusebut ia Syrra, kuambil dari nama bintang yang melekat paling terang di atap langit. Seperti halnya ia menerangi hidupku, dan mewarnainya dengan kilau sang pelangi. Aku menamainya. Ya, karena ia tak pernah sekali pun menyebutkan namanya. Aku tak perduli, bagiku indah dirinya sudah cukup memberikan kebahagiaan pada tidurku. Hanya di tidurku. Ia hanya ada dalam tidurku. Menemaniku dalam merangkai indah tiap detik kebahagiaan yang kulewati bersamanya di alam mimpi. Mungkin... tak kan pernah jadi nyata.

Aku rindu padanya di kala raja siang mengenakan mahkotanya yang menyilaukan. Aku rindu bersenda dengannya, aku rindu memayungi sifat manjanya. Aku ingin matahari cepat tergelincir, dan menggantikannya dengan bulan. Aku ingin cepat tertidur, aku ingin bermimpi, agar bisa bertemu dengan Syrra. Aku tidak ingin ibu membangunkanku saat matahari menyembul keluar. Aku tidak ingin terjaga, aku ingin terus bermimpi. Kalau perlu, aku rela tidak lagi tersadar agar aku bisa melewati seluruh hidupku bersamanya. Ya,,karena dia memang begitu indah. Meski hanya dalam dunia mimpi.

Suatu malam saat aku tertidur, aku tidak mendapatkan Syrra. Aku mencarinya di taman tempat biasa kami bertemu dan menukar kisah. Taman yang hanya ditumbuhi rumput hijau, satu pohon besar nan teduh dan ratusan bunga matahari. Taman mimpi. Tapi, aku tetap tak menemukannya. Kemana wanitaku? Kemana Syrra? Ia menghilang.
Sudah lima kali bulan melintasi langit malamku, tapi tetap saja Syrra tak kunjung hadir dalam mimpiku. Namun di malam ke enam, aku bertemu seseorang di saat aku tengah memperhatikan lebah yang sedang menghisap madu bunga matahari.

"Kau tak kan lagi bertemu denggannya nak. Syrra sudah tak ada lagi di dunia ini. Ia sudah meninggalkan dunia ini." seru lelaki tua itu parau. Ia memakai jas lusuh dan menggenggam tongkat untuk menyangganya berdiri.
"Apa maksudmu? Syrra masih hidup. Aku akan bertemu dengannya lagi." bantahku.
"Percuma, kau tak kan menemukannya lagi di dunia ini. Ia benar - benar pergi dari dunia ini."
"Memangnya siapa kau? ini mimpiku." aku menghardiknya.
"Aku pemilik dunia ini nak, dunia mimpi. Aku yang berkehendak atas segalanya di dunia ini. Atas semua penghuni disini. Dan Syrra tak lagi di sini."
"Omong Kosong! Dunia ini milik Tuhan, aku miliknya dan Syrra juga miliknya. DIA yang berkehendak atas semua yang terjadi di dunia ini. Termasuk di dunia mimpi!"
"Nak, bukankah Tuhan berkehendak atas segala sesuatu. Termasuk mengirimku untuk menjaga dunia ini? Termasuk mengubah hidupmu kan menjadi lebih indah hanya bila kau bekerja keras, hanya bila kau tak hanya bermimpi? Bangunlah nak, jangan terus menerus jadi pemimpi. Untuk apa Tuhan mencipatakan kaki untukmu bila kau tak melangkah, untuk apa Tuhan menciptakan mata bila kau tak menatap masa depan?" suaranya parau tapi begitu menusuk di hatiku.
"Tapi,,aku tak sekedar bermimpi. Aku memiliki mimpi yang tinggi yang tak dimiliki orang lain, karena mereka semua takut jatuh." suaraku mulai parau karena rasa sakit yang begitu menusuk.
"Apalah hebatnya mimpi nak? semua orang bisa bermimpi. Percuma kau berani bermimpi begitu tinggi kalau kau tak pernah berani mewujudkannya menjadi nyata. Bertindaklah, jika cuma bermimpi hanya kau dan Tuhan yang tau. Kau hanya menyiksa dirimu dengan mimpi yang tak pernah jadi nyata."
Aku menangis, entah karena apa. Begitu juga hatiku. Sakitt...aku telah berjanji pada orang tuaku, pada orang - orang yang kusayang untuk bahagiakan mereka. Tapi aku hanya menjanjikan asa yang melayang. Aku terlarut dalam mimpiku bersama Syrra. Tapi aku sungguh mencintai dia.
"Bangunlah nak, tunjukan pada dunia kalau kau tak hanya bisa bermimpi. Bungkam mulut mereka yang dulu menertawakanmu. Kau hidup di dunia ini hanya untuk bersinggah tuk sampai ke akhirat, kau hidup di dunia ini hanya dengan satu nyawa. Gunakanlah sebaik baiknya dihidupmu."



Entah siapa kakek itu, tapi ia benar - benar menyadarkanku. Seminggu sudah ia lenyap dalam mimpiku. Tapi begitu berarti dalam hidupku. Aku tak lagi menunggu Syrra. Aku akan mencarinya di dunia nyata, bersama cita - citaku.
Tapi aku sungguh kaget bukan main, di kampus, aku melihat wanita yang begitu mirip dengan Syrra dalam mimpiku. Lekuk tiap helai legam rambutnya, senyum mungilnya, bulat bola matanya, tawa renyahnya yang lantang, semua begitu persis.
Namanya Canissa, itu nama rasi bintang dimana bintang Syrra berada, Canis Major. Aku sungguh bahagia bisa bertemu dengannya, aku sungguh senang bisa mengenalnya, bisa menatap bulat bola matanya yang memancarkan semangat. Meski ia bukan miliku saat ini.

Selasa 27 okt 2009

Labels:

permalink | 0 comments (+)

« BACK FORWARD »