Terjebak, Terabaikan, Terpinggirkan ; 3 Oct 2011
“Yah, memang sudah begini mau diapakan lagi? Hidup di Jakarta itu susah”. Jawaban itu keluar dengan sendirinya di tengah perbincangan dengan seorang ibu di Kampung Penjaringan, Jakarta Utara. Tanpa perlu saya tanya. Saat saya terdiam entah ingin melanjutkan berbicara apa lagi setelah ia menjelaskan hampir semuanya tentang perkampungan tempat ia tinggal. Mungkin pula saya akan mendapat jawaban yang serupa bila berbincang dengan ibu yang lain, dengan pembicaraan yang sama dan pertanyaan-pertanyaan yang sama.
Sebelum bertemu dengan seorang ibu di tepian muara dekat pelabuhan Sunda Kelapa, saya menyusuri perkampungan Luar Batang yang menghubungkan Pluit dengan Penjaringan terlebih dulu. Matahari pukul 14.30 juga langit yang kompak tertutup awan membuat Jakarta Utara tidak terlalu panas hari itu. Ditambah dua hari belakangan Jakarta diguyur hujan setelah berminggu-minggu panas terik membuat jalan-jalan becek digenangi air. Bahkan ada satu jalan kecil di perkampungan yang memaksa saya memutar balik karena air tergenang hampir semata kaki.
Sebuah plang bertuliskan ‘Luar Batang I’ meyakinkan saya berada pada jalan yang tepat meski tidak tahu harus berjalan ke arah mana. Pasalnya kampung inilah yang menjadi jalur tur wisata yang bernama ‘Jakarta Hidden Tour’ dan sering dilalui oleh turis-turis mancanegara yang ingin melihat Jakarta sesungguhnya. Dari jalan selebar yang bisa dilalui oleh mobil saya berbelok pada gang kecil yang hanya selebar satu langkah kaki. Atmosfer berbeda terasa setelah saya menyusuri lebih dalam gang kecil ini. Tak ada bangunan yang lebih kokoh dari rumah-rumah di jalan Luar Batang I tadi. Beberapa kali saya mengucapkan kata ‘Permisi’ saat melewati warga yang berbincang berhadap-hadapan diantara gang kecil tersebut.
Seorang nenek yang sedang duduk di teras rumahnya memperhatikan saya sejak dari jauh. Ketika sudah dekat, saya melemparkan senyum padanya namun tatapannya tetap kosong seperti saat ia memperhatikan saya pertama kali. Tak seberapa jauh dari rumah nenek tadi pandangan saya tertarik pada seorang ibu yang tengah sibuk menata makanan di etalase warung kecilnya. Sangat kecil, bahkan mungkin tidak bisa disebut sebagai warung. Hanya ada lima sampai enam macam lauk di dalam kaca etalase. Berdiri di atas tanah kosong diantara rumah-rumah yang padat dan rapat, diatapi dengan terpal warna biru. Tepat di depan etalase terdapat selokan kecil dengan air berwarna hitam pekat dengan sampah-sampahnya. Dan di belakangnya kumpulan sampah plastik teronggok hampir membukit. Sepertinya onggokan tersebut tempat warga membuang sampah sementara. Pemandangan yang tidak nyaman bila saya mencoba mampir makan di warung kecil itu.
Perhatian saya teralih. Tetesan air yang sedikit harum jatuh tepat di kepala saya. Ketika menengadah, ternyata air itu berasal dari tetesan pakaian basah yang sedang dijemur. Airnya menetes tepat di tengah-tengah jalan setapak yang saya lewati.
Tak jauh dari situ, sebelum bertemu ibu di tepian muara, terlihat empat orang anak sedang bermain bola di tengah jalan setapak ini. Dua lawan dua, satu penjaga gawang satu penyerang. “Tiang tiang tiang.” ucap seorang anak yang menjadi penjaga gawang setelah bola plastik melewatinya. Rupanya sebuah gol baru saja tercetak. Mereka menggambar lapangan sepakbola di tanah jalan setapak itu dengan kapur tulis, lengkap dengan kotak penalti dan lingkaran tengah. Lapangan sepakbola mini dengan panjang tiga meter dan lebar satu meter. Dua sandal di letakkan di ujung lapangan untuk dijadikan tiang. Mereka pun harus rela berbagi sebagian pinggir lapangan dengan sepeda motor yang sedang diparkir. Dan sesekali pertandingan terpaksa berhenti ketika ada orang yang hendak melewati jalan itu.
Saya meluangkan sedikit waktu untuk menyaksikan pertandingan kecil ini. Ikut bersorak ‘Gol’ ketika bola lolos dari kawalan penjaga gawang,. Mengamati Bambang Pamungkas muda dan calon Firman Utina selanjutnya bermain bola. Kemudian saya bertanya pada mereka mengapa bermain di tengah gang sempit seperti ini, mengapa tidak bermain di lapangan. Namun yang muncul bukanlah jawaban melainkan pertanyaan balik, “Lapangan dimana, bang?” Seketika saya hanya bisa diam, karena tak tahu harus menjawab apa dan tak tahu lapangan dimana.
Setelah melewati mereka akhirnya perjalanan tak lagi diapit oleh rumah-rumah sempit. Jalan tadi berakhir pada muara yang di sebelah utara berujung ke laut dan pelabuhan Sunda Kelapa yang terdapat kapal-kapal besar. Sampan-sampan dan perahu nelayan yang ditambat hampir tak beraturan berbaur bersama sampah-sampah plastik dan gabus yang mengapung di atas air laut berwarna hitam. Di salah satu kapal yang besar, delapan orang anak bermain-main di atasnya. Anak yang paling besar berlarian dan melompat-lompat di atas kapal yang lebarnya dua kali lebar sampan. Bahkan melompat dari satu kapal ke kapal lainnya tanpa takut tercebur ke air laut yang dalam. Dan adik-adiknya yang lain meniru-niru beralrian di atas kapal. Seorang ibu berteriak memarahi anak yang paling besar itu. Seketika mereka yang ada di atas kapal langsung diam.
Ibu itu melanjutkan menelpon setelah pembicaraannya dengan lawan bicara terputus untuk mengomeli anak-anak. Setelah ia selesai menelpon lewat telepon genggamnya, saya memulai percakapan dengan bertanya tentang anak-anak yang main di atas kapal itu.
“Iya, memang setiap hari mereka main-main di atas kapal. Itu, kapal yang besar itu punya orang cina, bukan punya warga sini.” katanya memberikan penjelasan lebih dari yang saya tanya.
“Kalau yang punya warga sini ya sampan dan kapal untuk pergi berlayan.” memang sejak tadi, saya melihat sampan yang hilir mudik dari perkampungan mengarah ke pelabuhan Sunda Kelapa atau sebaliknya. Mengangkut barang atau orang. “Kalau kapal yang itu untuk pergi berlayan, biasanya berangkat malam.” katanya sambil menunjuk kapal yang di atasnya terdapat jaring-jaring untuk menangkap ikan.
Sejak dua puluh menit perjalanan saya menyusuri perkampungan Luar Batang sampai Penjaringan, yang terlihat sepanjang jalan kebanyakan ibu-ibu yang mengobrol, anak-anak yang bermain dan sedikit para lansia sedang memperhatikan keadaan dari teras rumah. Kemudian saya bertanya tentang mata pencaharian warga sini. “Ya kebanyakan nelayan dan jasa angkutan pakai sampan ini.” sebuah sampan baru saja datang dan merapat. Terlihat oleh saya penumpang sampan membayar bapak tua si pendayung dengan uang lima ribu rupiah, kemudian mengembalikkannya tiga ribu rupiah. Saya bertanya pada ibu ini darimana jarak sampan itu mengantar sampai sini. “Kalau yang dua ribu itu hanya menyebrang ke pelabuhan Sunda Kelapa, kalau ke laut sana itu dua puluh lima ribu pulang pergi.”
“Kalau wanitanya kebanyakan ibu rumah tangga, ada juga yang jadi kuli cuci dan setrika di apartemen, buruh pabrik juga ada.” jelasnya setelah saya tanyakan profesi para wanita warga sini. Lalu saya teringat dengan turis-turis yang mengikuti Jakarta Hidden Tour, saya menanyakan tentang keberadaan mereka. “Oh sering bule-bule dateng kesini. Setiap sabtu minggu ada, ada pemandunya juga. Liat-liat rumah, juga naik perahu ke laut sana terus balik lagi kesini. Ayo mas kamu coba kesana deh, liat laut, apalagi bawa cewek, wuiiihh…” ledeknya sambil diliputi tawa di akhir kalimat. Saya pun ikut tertawa.
Tur wisata itu menawarkan para turis mengunjungi kawasan-kawasan kumuh di Jakarta. Mengajak mereka melihat-lihat sisi lain atau bahkan sisi sebenarnya kota Jakarta. Perkampungan Luar Batang dan Penjaringan ini salah satu rute tur mereka di wilayah Jakarta Utara. Selain disini, tur itu juga mengunjungi kawasan kumuh pinggir rel di Galur Pasar Senen dan rumah-rumah di bantaran kali Ciliwung di daerah Kampung Melayu. Mereka berinteraksi dengan warga bahkan mengunjungi rumah-rumah warga. Diceritakan tentang rumah yang dihuni oleh lima belas orang dalam hunian perkampungan padat penduduk pada umumnya. Mereka tertarik dengan wisata itu karena hal tersebut merupakan sesuatu yang unik dan sangat berbeda dengan kehidupan mereka.
“Oh sudah lama sekali itu, sudah bertahun-tahun. Lumayan lah nambah-nambah penghasilan kalau ada yang naik kapal.” katanya setelah saya tanya sejak kapan tur itu berlangsung. Menurut pengelola tur tersebut, sebagian uang dari paket wisata diberikan kepada warga yang rumahnya dikunjungi atau lewat ketua RT setempat. Sebagian lagi untuk yayasan yang didirikan oleh ketua penyelenggara Jakarta Hidden Tour, Ronny Poluan. Warga sini terlihat senang-senang saja dengan kehadiran bule di kampung mereka rupanya. Termasuk ibu di hadapan saya yang terkadang ikut jalan-jalan naik sampan bersama para turis.
Ada beberapa kecaman yang datang dari masyarakat karena menganggap tur ini hanya mengekspos dan mengeksploitasi kemiskinan warga Jakarta. Namun Ronny menepis pernyataan itu karena ia bermaksud mengajak para turis asing untuk melihat Jakarta yang sebenarnya, dan berharap bila ada salah satu turis yang memiliki keahlian dan kemampuan mau membantu mereka. Sejauh ini, ada mahasiswa dan guru yang ikut berkunjung menyisihkan sebagian waktunya untuk mengajarkan dan bermain bersama anak-anak di daerah tersebut. Namun yang terlintas adalah, mengapa berharap pada turis, pikir saya.
Beberapa anak yang bermain di atas kapal tadi kini beralih menaiki sampan-sampan yang mengapung berjajar. Kemudian tanpa diperintah ia menguras air yang tergenang di dalam sampan sampai habis. Mungkin sampan itu milik ayahnya. Yang menjadi perhatian saya sejak sampai pada tepian ini adalah banyaknya sampah dan beberapa bekas bangunan yang habis terbakar. Saya menanyakan tentang sampah terlebih dulu. “Dari warga sini juga yang buang, karena sudah banyak sampah jadi ikut buangnya disitu juga. Kalo yang di laut ya dari kali Ciliwung.”
“Oh, ini Jumat minggu kemarin kebakarannya. Jam setengah tiga sore, wuh orang pada kalang kabut. Pemadam kebakaran masuk dari Pasar Ikan sana. Dari sini juga orang nyiramin pake ember.” katanya. Ia juga menjelaskan perkampungan sini sering sekali terjadi kebakaran. Penyebabnya karena arus pendek. Apabila terjadi kebakaran, tidak bisa tidak hanya satu rumah yang terbakar. Hunian yang padat dan sangat rapat, terlebih dibangun dengan semi permanen memudahkan api memakan puluhan bahkan bisa sampai ratusan rumah sekaligus. Bila api telah padam, yang menjadi masalah selanjutnya adalah dimana lagi mereka harus mencari tempat tinggal. “Pernah waktu kebakaran besar disini warga diungsikan ke museum Bahari.” Kampung Penjaringan ini lokasinya memang dekat dengan Museum Bahari di pasar ikan.
Saya menengok sebentar ke arah rumah-rumah yang habis terbakar. Hanya tersisa bebatuan dan tembok-tembok yang terbuat dari bata atau batako yang dapat bertahan. Itu pun menghitam karena api. Atap dan konstruksi bangunan lainnya yang terbuat dari kayu sudah tidak ada kecuali hanya puing-puingnya. Ada pula beberapa orang yang mencoba membangun kembali rumahnya. Di beberapa sisa bangunan terpasang terpal-terpal yang disanggah menggunakan kayu sebagai atap. Di bawahnya terdapat kasur dan kain-kain yang mungkin dijadikan sebagai selimut. Di salah satu terpal, saya melihat seorang laki-laki tua sedang duduk berteduh di atas kasurnya.
Kawasan Penjaringan ini memang paling sering terjadi kebakaran bahkan sekarang sudah ditetapkan menjadi kawasan zona merah. Berdasarkan data dari Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Damkar dan PB) tercatat sejak Januari hingga September 2011, terdapat 124 kasus kebakaran yang terjadi di Jakarta Utara. Dalam musibah kebakaran itu 90 persen disebabkan akibat korsleting listrik, dan selebihnya 10 persen akibat kompor gas yang meledak. Dari ratusan kebakaran pada tahun 2011 hingga saat ini sedikitnya 1 orang telah tewas dan 6 orang luka-luka. Selama sembilan bulan terakhir ini tercatat 1.424 kepala keluarga atau 3.841 jiwa kehilangan tempat tinggal. Tak hanya di Penjaringan, kawasan kumuh di tempat lain pun sangat sering terjadi kebakaran dikarenakan kepadatan dan bahan baku bangunan.
Menurut Database Kawasan Kumuh Perkotaan, tahun 2008 terdapat 449 ha pemukiman kumuh di Jakarta Barat, 169 ha di Jakarta Pusat, 277 ha di Jakarta Selatan dan 407 ha di Jakarta Utara. Sekitar 165 ribu jiwa penduduk yang tinggal di pemukiman kumuh kawasan Jakarta Utara. Dan Jakarta Barat adalah yang tertinggi kedua setelah Jakarta Utara dengan penduduk sekitar 148 ribu jiwa.
Ibu yang bertubuh gemuk dengan rambut hitam panjang di depan saya ini pasti tidak tahu dan tidak mengerti tentang angka-angka tersebut. Pun ia tak mengerti bagaimana harus membenahi dan mengentaskan ini semua. Ia hanya memikirkan tentang bagaimana caranya untuk tetap bertahan hidup dan agar anak-anaknya tetap sekolah. “Ini tembok rumah saya jadi retak-retak kaya kena gempa, gara-gara pemancangan beton tepian ini. Katanya sih biar gak kena banjir, tapi ya sama aja air naik juga karena banyak sampah.” tanpa saya tanya ia menjelaskan apa yang dirasakan dan dialaminya. Saya pun tak menjawab, hanya melihat sampah-sampah yang mengapung begitu banyak di atas air.
Entah apa yang harus dikatakan dan ditanyakan lagi. Kata-kata saya habis dibisukan oleh keadaan kampung ini. Ibu itu pun ikut memperhatikan sampah yang sebenarnya sudah tidak asing lagi baginya, lalu berbicara “Yah, memang sudah begini mau diapakan lagi? Hidup di Jakarta itu susah.”
Saya pamit pergi mengunjungi tempat lain dan menanyakan siapa nama ibu yang ramah sekali itu. “Nurohmah.” katanya dengan senyum bersahabat. Saya pun berjalan menuju sebuah musala kecil yang berdiri di atas air laut yang ditopang oleh bambu-bambu. Sembari melihat anak-anak lain berlarian di atas jembatan, dan anak-anak tadi masih bermain di atas sampan. Di belakang sana terlihat samar dua buah apartemen berdiri dengan kokohnya menjadi latar belakang anak-anak bermain. Ibu Nurohmah kembali lagi mengomeli anak-anak yang bermain di atas sampan-sampan yang bergoyang. “Heh, naik-naik, jangan main disitu nanti kecebur, kelelep gak ada yang nolongin mati kamu!”
Labels: Feature